22 August 2014

Tantowi Yahya ngotot membela Prabowo-Hatta



Orang seperti Tantowi Yahya seharusnya lebih rileks dalam berpolitik. Bisa lebih jernih melihat dan membaca pilihan rakyat dalam pemilihan presiden 9 Juli 2014 lalu. Meskipun harus mendukung Prabowo Subianto, karena Tantowi orang Golkar, dia harus realistis dan sangat rasional.

Sebab, bagaimanapun juga Tantowi Yahya itu sejatinya orang hiburan yang cuma nyasar ke politik. Dia pembawa acara, presenter top, pembuat kuis, EO, produser, penemu bakat-bakat baru, bahkan penyanyi pop country yang punya banyak penggemar. Bukan orang yang sejak awal terjun ke politik.

Di wilayah Indonesia Timur, Tantowi Yahya ini sangat terkenal karena lagu-lagu pop Manado-nya yang booming. Orang NTT, Maluku, Sulawesi, Papua.. kalau naik kapal laut selalu dihibur lagu-lagu hit si Tantowi Yahya macam Balada Pelaut, Pigi Jo Deng Dia, atau Pulang Jo. Lagu-lagu pop daerah yang tadinya biasa-biasa saja jadi dahsyat setelah dibawakan Tantowi Yahya dengan irama country.

Bahkan, di kampung saya di pelosok NTT, tepatnya Lembata, setiap kali ada pengumuman di desa selalu diawali dengan lagu Pigi Jo Deng Dia. Begitu mendengar intro Pigi Jo Deng Dia, oh pasti ada pengumuman penting di desa. Saya awalnya ketawa sendiri mendengar kebiasaan baru di kampung yang unik ini.

Karena itu, saya agak terkejut melihat sikap Tantowi Yahya yang ngotot luar biasa dalam membela Prabowo-Hatta. Bahkan, semalam dia jadi juru bicara Koalisi Merah Putih mengecam putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruh gugatan Prabowo-Hatta. Tantowi bilang putusan MK tidak adil dan mengabaikan substansi yang disampaikan tim Prabowo-Hatta.

Substansi apa lagi? Substansi atau butir-butir pelanggaran yang didalilkan tim Prabowo itu tidak bisa dibuktikan di MK. Tuduhan pelanggaran terstuktur, sistematis, masif tidak terbukti. Bahkan saksi-saksinya kubu Tantowi Yahya dkk jadi bahan tertawaan di ruang sidang karena kurang menguasai persoalan.

Aneh, Tantowi Yahya yang seniman serbabisa, penyanyi favorit warga Indonesia Timur, itu berubah menjadi politikus yang sangat fanatik membela Prabowo Subianto yang sudah jelas-jelas kalah. Bahkan, lebih fanatik ketimbang kader Partai Gerindra sendiri yang bisa menerima kenyataan bahwa perolehan suara Prabowo lebih sedikit dari Joko Widodo.

"Sudah saya perkirakan sejak awal bahwa Prabowo sulit menang. Kami sudah kerja keras tapi sulit melawan kehendak mayoritas pemilih," kata seorang pengurus Gerindra di Jawa Timur.
Politik itu tidak boleh ngotot membabi buta. Harus rasional, pakai perhitungan, fair play. Begitu pesan tokoh Gerindra di Jawa Timur itu.

Makanya, saya sangat heran seorang Tantowi Yahya yang orang Golkar, pemain baru atau mualaf di dunia politik, kok bisa sangat fanatik membela Prabowo? Kok bukan Fadli Zon yang jadi juru bicara menanggapi putusan MK? Kalau Fadli fanatik sama Prabowo wajar karena sudah jadi sahabat Prabowo jauh sebelum Gerindra didirikan. Masih lebih bisa diterima kalau Tantowi Yahya maju tak gentar membela ketua umumnya, Aburizal Bakrie.

Kalau politikus-politikus asli macam Idrus Marham, Fahri Hamzah, atau Suryadharma Ali ngotot membela Prabowo-Hatta sangat masuk akal. Sebab, DNA mereka memang politisi. Sejak mahasiswa, bahkan SD, sudah belajar dan digembleng jadi politisi. Kalau tidak jadi politisi, mereka toh tak akan bisa menyanyi ala Tantowi, jadi MC, presenter, aktor dsb.

Yah, mungkin inilah episode baru yang hendak diperlihatkan Tantowi Yahya ketika menggeluti dunia politik. Dia harus total, habis-habisan, fanatik membela calon presiden pilihannya, meskipun banyak politisi senior Golkar sendiri macam Agung Laksono, bahkan Jusuf Kalla, lebih condong ke Jokowi. Jusuf Kalla, mantan ketua umum Golkar lho, bahkan jadi wakil presiden terpilih mendampingi Jokowi.

Kengototan Tantowi Yahya ini sekali lagi memperkuat tesis lama bahwa para mualaf itu cenderung lebih fanatik daripada orang-orang yang secara turun-temurun memeluk keyakinan tertentu. Mualaf di sini tak hanya di ranah agama tapi juga politik.

by hurek

2 comments:

  1. Hahaha.. iya betul sekali ama, saya juga bingung dgn kengototan beliau...

    ReplyDelete
  2. Tantowi punya satu kakak namanya Helmy Yahya di dalam suatu kesempatan memandu kuis telah berlaku rasis
    di dalam kuis itu ada memakai alat putar yg ada jarumnya, ketika putaran sudah hampir berhenti dan salah satu peserta akan mendapat benefit, maka oleh Helmy segara ditambah putarannya, gagal lah peserta itu.

    ReplyDelete