30 August 2014

Penetrasi PKB di Kantong Katolik NTT

Atribut kampanye caleg PKB di pelosok Flores, NTT.
Sejak pemilihan umum (pemilu) 1955 sudah banyak berdiri partai Islam. Gesekan antara islamis dan nasionalis ini begitu hebatnya sehingga Presiden Soekarno membubarkan konstituante pada 5 Juli 1959. Perdebatan soal dasar negara sangat tajam saat itu. Ibarat air dan minyak, kubu islamis dan nasionalis sulit menyatu.

Selama 32 tahun Orde Baru kita kenal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai partai Islam. Visi misi, jargon kampanye, pernyataan-pernyataan politiknya pun sangat eksklusif. Karena itu, di NTT, khususnya Pulau Flores, yang mayoritas Katolik, PPP sangat ditakuti.

"Kalau PPP menang, Indonesia akan jadi negara Islam. Semua laki-laki akan disunat," begitu kata jurkam Golkar. Anak-anak SD dan SMP di NTT paling takut kalau diancam akan disunat burungnya! Mereka akan lari terbirit-birit meski cuma digertak main-main saja.

Maka, satu-satunya cara agar PPP tidak menang, Indonesia tetap Pancasila, Golkar harus menang. Maka, selama Orde Baru pemilu di kampung saya selalu dimenangkan Golkar 100%. Satu kecamatan yang punya 15 desa juga Golkar menang 100%. PDI tidak laku. PPP begitu ditakuti gara-gara retorika islamisnya yang sangat kuat waktu itu.

"Kalau PPP menang, semua pastor asing akan dipulangkan. Gereja-gereja dipersulit," begitu omongan jurkam di kampung saya. Warga percaya karena statement si jurkam didukung beberapa bukti dan indikasi.
Setelah Orde Baru runtuh 21 Mei 1998, muncullah 48 partai peserta pemilu. Partai Islamnya juga banyak. Retorika lawas ala Masyumi atau PPP Orba pun masih terdengar. Namun ada dua partai Islam yang tampil dengan wajah lain sama sekali: PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan PAN (Partai Amanat Nasional).

Semua orang tahu PKB dan PAN itu partai berbasis Islam karena terkait erat dengan NU dan Muhammadiyah. Tapi orang-orang di kampung saya asyik-asyik aja dengan dua partai ini. Tidak ada kekhawatiran bahwa kalau PKB atau PAN menang, Indonesia jadi negara Islam, Pancasila dihapus, gereja-gereja dipersulit, semua laki-laki disunat, dan sejenisnya.

PKB yang paling fenomenal karena berhasil menembus desa-desa terpencil di NTT. Ujung tombaknya ya orang-orang kampung sendiri yang mayoritas beragama Katolik. Aktivis PKB yang beragama Islam malah sangat sedikit. Ketika saya mudik ke pelosok Lembata, NTT, sebelum kampanye pemilu legislatif, poster-poster caleg PKB justru paling banyak daripada Golkar dan PDI Perjuangan.

Di pintu-pintu rumah orang desa di pinggir pantau Laut Flores itu ditempel poster caleg-caleg PKB. Termasuk Anton Doni, mantan ketua PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), yang sangat terkenal di NTT. Banyak orang desa di NTT yang tidak tahu bahwa PKB itu sebenarnya partai Islam. Tapi mereka sangat tahu bahwa PKB itu punya kaitan erat dengan Gus Dur (almarhum), mantan presiden RI dan tokoh besar NU dan bangsa Indonesia.

Melihat kiprah PKB di Indonesia timur, khususnya NTT, saya tidak terkejut melihat perolehan suara partai pimpinan Cak Imin ini dalam pemilu 9 April 2014. Kalau tren ini bisa dipertahankan, PKB terus akan bertumbuh menjadi partai besar di negeri ini.

Sayangnya, di tubuh PKB di Indonesia barat, khususnya Jawa, masih banyak politisi dan jurkam yang masih menggunakan retorika islamis lawas ala Masyumi atau PPP di masa Orde Baru. Contohnya Rhoma Irama. Jurkam nasional PKB ini sering mengeluarkan statement yang kontra produktif dengan citra dan ideologi pluralisme ala PKB di NTT yang sangat pancasilais dan inklusif. Omongan Rhoma Irama lebih mirip politikus Masyumi pada era 1950an. Bang Haji ini rupanya tidak sadar bahwa motor penggerak PKB di Indonesia timur justru orang-orang nonmuslim.

No comments:

Post a Comment