13 August 2014

Pencinta alam yang merusak lingkungan

Jalan menuju hutan bumi perkemahan Kakekbodo, Prigen, Pasuruan.

Berita kecil di Kompas hari ini (13/8/2014) bikin malu kita, orang Indonesia. Mr Wataru, wakil gubernur Yamanashi, Jepang, mengkritik aksi vandalisme yang dilakukan oknum orang Indonesia ketika mendaki Gunung Fiji di Jepang. Gunung yang dianggap suci itu dicoret-coret pendaki gunung dengan tulisan "Indonesia" dan beberapa kata bahasa Indonesia.

Wow, ternyata vandalisme teman-teman kita yang biasa menamakan diri pecinta alam itu merembet hingga ke negara sakura. Ini bagus sebagai bahan introspeksi dan pembelajaran bagi kita semua. Orang Indonesia perlu belajar etika penjelajahan, camping, mendaki gunung, masuk hutan, dan sejenisnya.

Vandalisme ini, kalau mau jujur, sudah sangat biasa di Indonesia. Saking biasanya sehingga praktik-praktik macam itu tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran apa pun di Indonesia. Etika global pendaki gunung seperti "jangan tinggalkan apa pun selain jejak kaki" kurang dihayati di Indonesia.

Dan, ironisnya begitu banyak pendaki gunung, penggemar hiking, trekking, camping masih melakukan perbuatan tak terpuji itu. Begitu banyak coretan di pohon, batu, pos jaga, bahkan musala atau tempat ibadah. Si 'pecinta alam' itu ingin eksis. Ini lho aku sudah mendaki sampai di sini. Ini lho buktinya.

Minggu lalu saya jalan-jalan mendaki kawasan pegunungan di Prigen, Pasuruan. Menuju bumi perkemahan (camping ground) milik Perhutani di atas air terjun Kakekbodo. Begitu lewat pos jaga, setelah bayar tiket Rp 12500, kita bisa melihat begitu banyak coretan di jalan dan pohon. Sampah-sampah bekas supermi, snack, makanan, dsb begitu mudah dijumpai.

Tiba di camping ground yang sejuk dengan hutan pinus yang lebat, tampak banyak sampah berceceran di bekas tempat camping. Bekas bungkusan dari plastik itu dibiarkan begitu saja. Tidak dibawa pulang seperti yang diajarkan dalam etika hiking atau camping. Dan, maaf, pelaku-pelakunya tak lain para aktivis mapala, pramuka, kelompok pecinta alam dan sejenisnya.

Inikah yang disebut pecinta alam? Pendaki gunung? Petualang bin penjelajah alam? Jauh-jauh naik bukit atau gunung hanya untuk meninggalkan sampah.

Dan, sekali lagi, itu sudah sangat jamak di semua tempat pendakian atau camping di Indonesia. "Yah, mau bagaimana lagi? Kami sudah ingatkan tapi tidak dituruti," kata Pak Sumito yang menjaga camping ground di Kakekbodo, Prigen.

Apa boleh buat. Orang-orang macam Pak Sumito inilah yang akhirnya ketiban beban untuk memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan para 'pecinta alam' itu. Kaum vandalis berkedok pecinta alam yang suka overacting dan sering merasa sangat hebat karena sudah mendaki banyak gunung.

Rupanya kebiasaan buruk para 'pecinta alam' Indonesia itu dibawa ke Gunung Fuji di Jepang. Mudah-mudahan disebarkan di negara lain juga. Agar Indonesia semakin terkenal di dunia karena banyak dibicarakan di media sosial.

Wong Gunung Fuji yang suci saja diperlakukan begitu. Apalagi gunung-gunung yang tidak suci atawa biasa-biasa saja.

3 comments:

  1. Di Indonesia, pendidikan moral Pancasila terlalu menekankan indoktrinasi politik, sedangkan pelajaran agama terlalu menekankan identitas "agamaku yang paling benar", bukannya menekankan kepada Budi pekerti.

    ReplyDelete
  2. gak bisa di salahkan itu kk..
    banyak orang mengatakan bahwa mereka itu pecinta alam.. karena pecinta alam skrang ini sudah menjadi trendstyle..
    mengatakan pecinta alam biar keren dll.
    tapi arti dan maksud dari pecinta alam tidak tahu ..

    ReplyDelete
  3. Saya bertemu orang Prancis yang pernah mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Katanya: "Pemandangan bagus. Servis dari para pemandu juga bagus. Hanya para pendaki lokal jorok luar biasa, sampah dibuang seenaknya di mana2." Memalukan.

    ReplyDelete