08 August 2014

Mengenang Bioskop Merdeka di Malang

Foto tanggal 28 Juli 2014 by hurek.


Saat lewat di Kayutangan, Malang, belum lama ini saya kaget banget melihat eks gedung Bioskop Merdeka rata dengan tanah. Saya turun dan berkeliling melihat reruntuhan bangunan tua di tengah kota sejuk itu. Kalau tidak salah bangunan itu didirikan pada 1928. Kini tinggal puing dan rerumputan liar di dalamnya.

Saya sedih dan tertegun sendiri. Bukan apa-apa, Bioskop Merdeka di Malang itu punya kenangan dan sejarah dalam hidup saya. Di dalam bangunan itulah saya pertama kali menonton film di dalam bioskop. Oh, ternyata yang namanya bioskop itu kayak begini.

Saat berada di kampung halaman, Flores Timur, NTT, saya tidak perrnah tahu gedung yang namanya bioskop. Karena memang tidak pernah ada bioskop. Bahkan di ibukota provinsi, Kupang, pun tak ada bioskop. Kami hanya melihat bioskop di surat kabar atau majalah atau buku. Itu pun sangat jarang.

Memang pernah ada pemutaran film dokumenter oleh Pastor Geurtz SVD di kampung saya. Tapi pakai layar tancap. Semua warga kampung terkagum-kagum melihat gambar yang hidup. Padahal film dokumenter itu pakai bahasa Belanda. Pater Geurtz kemudian menjelaskan ulang pabrik-pabrik dan kehidupan masyarakat Belanda yang maju dan modern.

Di sekolah juga pernah satu kali ada layar tancap film tentang pengkhianatan G30S/PKI. Kami, para siswa, diwajibkan menonton bersama-sama di lapangan sekolah. Heboh sekali! Nonton film di bioskop? Benar-benar mimpi buat orang kampung di NTT.

Nah, ketika berada di Kota Malang wilayah gereja saya masuk Paroki Kayutangan. Bangunan gerejanya paling antik, tengah kota, dekat alun-alun, dan sangat terkenal. Saya selalu misa di gereja peninggalan Belanda yang digembalakan oleh romo-romo Karmelit itu.

"Wow, ternyata ini to yang namanya bioskop. Bioskop Merdeka," kata saya saat keluar dari Gereja Katolik Kayutangan.

Jarak gereja dan bioskop lawas itu tak sampai 200 meter. Orang-orang berjubel untuk menunggu pemutaran film Amerika. Ramai banget kayak pasar malam saja. Saat itulah saya tergoda membeli karcis untuk nonton film di bioskop. Pertama kali dalam hidup saya. Nonton film sambil membawa Madah Bakti, buku misa dan nyanyian Katolik saat itu. Bersama John, teman asal Sumba Barat, yang sekarang jadi katekis atau semacam penginjil atau tukang khotbah kalau tidak ada romo.

Pengalaman pertama nonton bioskop benar-benar membuat saya terpukau. Jauh berbeda dengan layar tancap di lapangan. Sound system-nya menurut saya luar biasa, meskipun dibandingkan bioskop-bioskop di Surabaya tahun 2014 ini jelas ketinggalan jauh. Filmnya sendiri tidak banyak cakap. Kalau tidak salah Iron Eagle.

Lebih banyak tembak-tembakan di atas pesawat. Dan pihak Amerika menang dengan gemilang. Penonton ikut senang melihat sang jagoan berhasil menaklukkan musuh yang culas.

Sejak itulah saya mulai ketagihan nonton bioskop. Selain Merdeka, ada tiga bioskop langganan saya di Malang: Mutiara (paling sering, dekat Terminal Patimura), Ria (paling elite), dan Kelud (misbar paling murah dan paling heboh). Kini semua bioskop yang selalu padat penonton itu tinggal kenangan.

Bioskop Ria jadi bank di dekat alun-alun. Kelud mangkrak jadi tempat penitipan mobil dan PKL. Mutiara jadi tempat biliar dan mini market. Merdeka dihancurkan, rata tanah, setelah terjadi konflik di antara ahli waris. Apalagi semua bioskop yang tersebar di Malang itu sejatinya sudah bangkrut sejak hadirnya Cineplex 21.

Suasana menonton film saat ini pun jauh berbeda dengan masa kejayaan Merdeka dkk. Saat menonton film di Malang Plaza, penontonnya tidak sampai 15 orang. Gregetnya pun tidak ada lagi meskipun kualitas gambar, suara, dsb jauh lebih bagus.

7 comments:

  1. Bisnis bioskop habis di Indonesia krn penontonnya udah lihat versi bajakan yg didownload dari internet. Sejak ada internet dan DVD bajakan, habislah bioskop.

    ReplyDelete
  2. Ikut prihatin sebagai bagian warga kota Malang..
    Om Lambertus Hurek mhn ijin unt membagikan kisah ini, matur nuwun..

    ReplyDelete
  3. Di Kupang dulu juga ada bioskop pak, satu namanya President Theatre, satunya lagi Kupang Theatre (KT).

    ReplyDelete
    Replies
    1. VianTerima k, asih atas koreksinya soal bioskop di Kupang. Keterangan anda sekaligus ralat atas informasi itu.

      Delete
  4. Bung, boleh izin meminta hak publikasi gambarnya untuk di poskan ulang?

    ReplyDelete
  5. miris memang melihat bioskop" di kota malang, seharusnya 21 cineplex membeli atau menyewa atau apalah itu, gunakan gedung bioskop" tua jadi modern tanpa melepas bentuk aslinya alias dipoles atau di percantik lagi dan seharusnya gedung bioskop lazim'nya berada di luar mall bukan seperti jaman skrg semua serba ada di mall, itu menurut opini saya, ada krg lebih'nya mohon maaf

    ReplyDelete