18 August 2014

Masjid Muhammadiyah Dikepung Lumpur Lapindo



Kalau Anda mampir atau berwisata di kawasan lumpur lapindo, Porong, Sidoarjo, Anda pasti menjumpai sebuah masjid di pinggir jalan raya. Dekat pom bensin yang sudah lama mangkrak. Namanya Masjid Nurul Azhar.

Di belakang masjid itu terdapat panti asuhan yang diresmikan pada September 2005 oleh Ketua PP Muhammadiyah Dien Syamsuddin. Namanya juga sama: Panti Asuhan Nurul Azhar. Setelah lumpur menyembur delapan tahun, masjid dan panti itu masih bertahan. Sementara ratusan, bahkan ribuan bangunan lain sudah hancur. Penghuni kampung Jatirejo Utara dan Siring Barat itu sudah tak ada lagi.

Ahad sore itu, 17 Agustus 2014, saya mampir ke Panti Asuhan Nurul Azhar. Alhamdulillah, Bu Noer duduk di teras sambil membaca koran Jawa Pos. Beliau menyambut kedatangan saya dengan ramah. "Monggo pinara," ujar ibu yang selalu berbahasa Jawa halus itu.

Bu Noer ini tak lain istri almarhum Ustad Abdurrahim Noer, mantan ketua Pengurus Wilayah  Muhammadiyah Jawa Timur. Almarhum juga seorang ulama terkemuka di tanah air. Semasa hidupnya, dan ketika belum ada lumpur lapindo, kawasan Masjid Nurul Azhar di Porong ini sangat terkenal di seluruh Indonesia.

Selama puluhan tahun Ustad Abdurrahim Noer membina pengajian rutin Fajar Shodiq setiap Ahad pertama yang diikuti ribuan jamaah. Umat muslim datang dari berbagai kota untuk mengikuti pengajian yang selalu menampilkan pembicara-pembicara kaliber nasional. Sebagian besar tokoh Muhammadiyah.

Ustad Abdurrahim Noer meninggal dunia pada 2007, setahun setelah lumpur menyembur tak jauh dari masjid dan rumahnya. Tragedi besar ini membuat ribuan warga Porong dan sekitarnya harus berjuang untuk menyelamatkan nyawa dan harta bendanya. Rumah sang ustad di samping masjid pun ikut terendam lumpur. Dan kini sudah tak ada lagi.

"Bapak berpesan agar masjid ini dipertahankan. Pengajian juga harus diteruskan. Selama masih ada orang yang ngaji ya jalan terus," tutur Bu Noer seraya tersenyum.

Tidak mudah memang mempertahankan nama besar Yayasan Nurul Azhar warisan Ustad Abdurrahim Noer yang mengelola masjid wakaf, panti asuhan, pengajian akbar bulanan, dan lembaga pendidikan. Kalau dulu pengajian selalu diikuti ribuan orang, menurut Bu Noer, saat ini jamaahnya hanya 70an orang. "Alhamdulillah, jamaahnya masih ada," katanya.

Bersama putranya, Muhammad Mirdasy, mantan anggota DPRD Jawa Timur, dan pengurus yayasan, Bu Noer telah mencoba memindahkan panti asuhan ke Desa Lajuk, masih di Kecamatan Porong. Tanah yang diperoleh sekitar 2.000 meter persegi. Selain panti asuhan, lahan ini untuk lembaga pendidikan Nurul Azhar.

Saat ini panitia terus menggalang dana mengingat biaya pembangunan sangat besar. Dana Rp 200 juta untuk pengurukan dan pembangunan awal. Belum berbagai fasilitas lain. Andai saja Ustad Abdurrahim Noer masih ada, apalagi masih punya jabatan di Muhammadiyah, mungkin beban yayasan Muhammadiyah ini tidak seberat sekarang.

Namun, Bu Noer yakin niat baik ini akan terwujud suatu ketika. Insya Allah!

Lantas, kapan Masjid Nurul Azhar ini direlokasi ke tempat lain yang jauh dari lumpur? Mengingat lokasi berdirinya masjid dan panti asuhan sekarang sudah lama dikosongkan karena tidak aman?

Bu Noer terdiam sejenak. "Yah, tunggu sampai ada penggantinya," ujarnya lirih.

Beberapa santri + anak panti asuhan tampak sibuk bersih-bersih panti asuhan, masjid, dan toilet. Bu Noer pun harus mengawasi anak-anak yang sudah dianggap cucunya sendiri bekerja. Saya pun pamit pulang.

Matur sembah nuwun! Sugeng sonten, Bu!

by hurek

No comments:

Post a Comment