02 August 2014

Liputan mudik yang membosankan

Selama dua minggu kita disuguhi liputan tentang arus mudik dan arus balik Lebaran. Di televisi, radio, internet, koran, media sosial. Apanya yang menarik? Ehmm... Tidak ada.

Si reporter televisi dari tahun ke tahun memberitakan kejadian yang sama. Lokasinya pun sama. Sebab, titik kemacetan di Jawa (dan pulau lain) sebetulnya sama saja dari tahun ke tahun. Andai kata pihak televisi menggunakan gambar mudik lima atau 10 tahun lalu pun pasti bedanya tidak banyak.

Kesibukan di terminal bus, lapangan terbang, pelabuhan pun sama. Entah saat mudik-balik Idulfitri atau hari-hari biasa. Setiap kali saya mampir ke Bandara Juanda atau Terminal Bungurasih rasanya sama saja. Sumpek.

Begitu banyak orang berada di satu tempat namun tidak mengenal satu sama lain. Kita merasa kesepian justru di tengah keramaian.

Tapi memang hidup butuh variasi. Televisi tidak melulu sinetron atau gosip artis atau propaganda Raden Mas Prabowo. Liputan mudik menjadi selingan meski tidak menarik sehingga tidak perlu dilihat. Ini penting agar kita bisa saling sambang, silaturahmi, minal aidin, maaf memaafkan... senyam-senyum meski sejenak.

Saat liburan Lebaran kemarin saya justru terkesan dengan dua orang ibu di bumi perkemahan dataran tinggi Prigen, Pasuruan. Camping ground di tengah hutan pinus itu terasa sejuk dan sangat menyenangkan. Obrolan langsung mengalir lancar, hangat, enak, kayak orang yang sudah kenalan lima atau 10 tahun saja.

Beda banget dengan kita yang tinggal di kota. Bertahun-tahun tinggal bersama di satu RT, satu jalan, sering melihat rupa, tapi tak pernah mengobrol. Asing satu sama lain.

Mungkin inilah yang membuat orang kota (tepatnya: orang desa yang bekerja di kota) selalu ingin mudik ke desa atau kampung halamannya di kota kecil. Di sana ia disapa, dikenal, dan di-wongke.

Selamat kembali ke kota! Kerja kerja kerja lagi!

1 comment: