06 August 2014

Kehilangan Metro TV dan tvOne



Surat pembaca Amir, warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, di majalah Tempo minggu ini rasanya mewakili perasaan banyak orang. Termasuk saya. Kita kehilangan kepercayaan terhadap televisi, khususnya Metro TV dan tvOne.

Kedua televisi berita itu selama ini menjadi favorit Amir (dan saya). Saya hampir tidak pernah mengikuti siaran berita di RCTI, MNCTV, Global TV, Indosiar, SCTV, dan televisi-televisi lain yang lebih menonjolkan hiburan dangkal. Apalagi presenter kemayu yang kebablasan ngaconya.

Begitu dekatnya saya sama Metro dan tvOne membuat saya hafal benar semua host atau presenter kedua televisi itu. Apalagi dulu sering guyonan sama mas Indriyanto yang sekarang jadi orang penting di tvOne. Atau kenal nona manis eks reporter di Surabaya yang kini ngetop di Metro TV.

Saya paling suka penyiar yang namanya Kania Sutisnawinata dari Metro TV yang pernah keseleo lidah menyebut nama televisi milik Surya Paloh itu dengan Metro Mini. Atau Tina host di tvOne yang kini pindah ke Indosiar. Itu semua kenangan masa lalu. Sebelum Metro TV jadi corong Jokowi-JK dan tvOne mati-matian maju tak gentar membela Prabowo Subianto dan menyerang habis Jokowi.

Ketika masih pemilu legislatif, pemihakan kedua televisi ini sudah kelihatan tapi belum vulgar. Begitu selesai pileg, manuver cari pasangan, koalisinya ketemu, habislah sudah jurnalisme cemerlang yang telah dibina cukup lama oleh kedua televisi berita itu.

Sembilan rukun iman jurnalisme sengaja dihancurkan oleh tvOne demi Prabowo dan Metro TV demi Jokowi. Yang paling parah adalah tvOne karena rela menjadi corong empat lembaga survei penyelenggara quick count abal-abal. Meski kurang berimbang, akal sehat, intelektualitas, dan logika demokrasi ala Metro TV masih sangat bagus. Khususnya dalam membahas quick count asli dan palsu.

Sayang sekali, saat ini Indonesia nyaris tidak punya lagi mekanisme untuk menghentikan propaganda partisan ala televisi-televisi swasta. Tak hanya kedua TV ini tapi juga televisi-televisi milik Hary Tanoe yang juga mati-matian membela Prabowo. Ironis, televisi swasta pertama yang memperkenalkan jurnalisme televisi lewat Seputar Indonesia dan Nuansa Pagi itu pun dihancurkan begitu saja. Demi mengikuti selera si laopan Hary Tanoe yang sangat fanatik dengan Prabowo Subianto.

Syukurlah, meski tak lagi melihat televisi, kecuali siaran langsung sepak bola, ada sisi positif di balik rusaknya jurnalisme televisi itu. Saya lebih banyak waktu untuk membaca buku (kebiasaan lama yang sempat redup), lebih banyak jalan-jalan, dan lebih banyak menonton tayangan-tayangan bagus di YouTube. Khususnya program-program National Geographic, BBC, CNN, dsb yang kualitasnya jauh lebih bagus ketimbang acara-acara TV kita.

5 comments:

  1. saya pilih KOMPAS TV! LEBIH FAKTUAL TANPA MEMIHAK MANA PUN!

    ReplyDelete
  2. saya pikir metro tv masih lebih masuk akal. bagaimanapun istilah " Berani karena Benar" pantas disematkan ke metro tv. lain halnya dengan tvone yang secara gamblang & tanpa malu mempromosikan black campaign. masyarakat harus bisa memiliki hati nurani dan kebijaksanaan dalam menerima informasi!. kemabli lagi, kita harus "berani karena benar, jujur, dan apa adanya"! jangan "yang benar jadi salah yang salah jadi benar" seperti para politisi di acara ILC ( terbukti karni ilyas sampai harii ni masih "cuti" setelah perang pilpres) nah silakan dipilah! dan dicerna pesan saya ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kakak, saya setuju sama tulisannya. sekarang juga jadi males nonton siaran berita dalam negeri. mending nonton siaran luar yg pake bahasa inggris meskipun saya ga negrti. natgeo juga bagus, nonton hewan lari-larian kejar-kejaran daripada nonton manusia (yg kaya hewan) kejar2an posisi jadi presiden :D

      Delete
  3. itulah kehebatan Hary Tanoe yg berhasil merusak jurnalisme RCTI, Global tv, MNCTV, dan media2 lain miliknya dan mencoba meracuni orang indonesia dg propaganda politiknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hary Tanoe iku arek Suroboyo, dulu di SMA St Louis I. Dia dulu suka tawuran sampai oleh bapaknya dikirim ke Kanada. Sekarang sudah kaya luar biasa tetapi sifat brandalnya masih ada. Aku gak bangga dengan orang satu ini.

      Delete