23 August 2014

Kamus John M Echols-Hassan Shadily dan Penetrasi American English

Ada fenomena menarik akhir-akhir ini di Surabaya. Di setiap traffic light banyak pedagang asongan menjual peta dan kamus bahasa Inggris-Indonesia yang sangat terkenal itu. Kamus dwibahasa karya John M Echols dan Hassan Shadily. Saya kira semua orang Indonesia yang pernah sekolah sampai SMA hafal betul kamus terbitan PT Gramedia, Jakarta, itu.

Yah, buku 660 halaman yang ditebitkan pertama kali pada 1975 itu tercatat sebagai buku paling laris di Indonesia. Semua pelajar, mahasiswa, karyawan, siapa saja butuh kamus. Dan itulah kamus Inggris-Indonesia terlengkap dan paling bagus di Indonesia. Dan paling mudah ditemukan di mana saja.

Karena paling laris itulah, kamus Echols-Shadily paling banyak dibajak di Indonesia. Yang dijual di pinggir jalan di Surabaya itu jelas bajakan. Tapi, berkat teknologi komputer dan penjilidan yang bagus, kamus bajakan ini pun cukup bagus kondisinya. Tulisannya jelas, mudah dibaca, tidak cepat rusak.

Harganya? Si PKL di perempatan Ngagel awalnya ngotot Rp 25000.

"Sepuluh ribu aja Mas," kata saya.

"Wah, aku dapat berapa?"

Akhirnya, saya membeli kamus lama yang awet zaman itu dengan Rp 20000. Kalau mau sebetulnya dengan Rp 15000 pun dapat. Tapi saya pikir-pikir, kualitas kamus Echols-Shadily luar biasa. Apalagi buku asli di Gramedia pasti di atas Rp 100 ribu. Kamus saya yang asli kebetulan hilang setelah dipinjam orang. Pakai kamus online kok kurang mantap.

Memperjualbelikan kamus bajakan seperti ini jelas dilarang undang-undang. Cornel University yang punya copyright dan Gramedia jelas marah. Tapi mau bagaimana lagi? Ini Indonesia yang wilayahnya abu-abu. Buku-buku bajakan malah dirayakan sebagai terobosan untuk warga yang ekonominya pas-pasan. Soal buku bajakan dan asli akan dibahas di kesempatan lain.

Sejak dulu saya melihat bahwa kamus Inggris-Indonesia John M Echols dan Hassan Shadily ini sangat fenomenal. Puluhan juta orang Indonesia sedikit banyak sudah terbantu ketika kesulitan dengan kata-kata atau frase bahasa Inggris. Padahal, kamus ini merujuk ke American English atau bahasa Inggris yang dipakai di USA. Bukan British English.

John M Echols dan Hassan Shadily menulis di kata pengantar kamusnya:

"An English-Indonesian Dictionary is a comprehensive listing attemps to embody a high percentage of the most common words and phrases in American English...."

Nah, inilah yang sering kali kurang disadari kita, orang Indonesia, yang selama bertahun-tahun menggunakan kamus ini. Sementara di sisi lain, pelajaran bahasa Inggris di Indonesia yang saya alami dulu, sejak SMP sampai universitas, menggunakan sistem British English. Kurikulum English berkiblat ke British, sedangkan kamus dwibahasa yang dipakai (hampir) semua pelajar/mahasiswa adalah American English.

Bedanya beda-beda tipis tapi tetap saja kurang pas. Tapi mana ada kamus lain yang lebih lengkap dari Echols-Shadily?

Teman saya, Andre Su, sering protes karena beberapa koran di Surabaya menulis nama lembaganya dengan Indonesia Tionghoa Culture Center. "Yang benar itu CENTRE, bukan CENTER. Tolong dikoreksi," ujar guru bahasa Mandarin terkenal di Surabaya itu.

"Begini Laoshi. Wartawan-wartawan di Surabaya (Indonesia umumnya) itu kiblatnya ke Amerika. Rujukannya kamus Hassan Shadily-John Echols. Di situ pakai CENTER, bukan CENTRE. Lagian, komputer-komputer di sini juga biasanya otomatis 'mengoreksi' CENTRE menjadi CENTER," kata saya sedikit berkhotbah.

"Tidak bisa. Yang benar itu CENTRE. Saya sudah konsultasi ke orang bule dari Inggris," katanya ngotot. Nggak ketemu. Yang jelas, di kamus tidak ada kata CENTRE. Lema yang ada di halaman 104 adalah CENTER. Kata CENTER inilah yang kemudian dianggap paling tepat oleh orang sebagian besar orang Indonesia yang memang berkiblat ke John M Echols dan Hassan Shadily.

Selain CENTRE, masih banyak kata-kata populer lain yang beda tulisan yang sering muncul di media massa. Istilah sepak bola bahkan lebih banyak menggunakan SOCCER di koran dan televisi ketimbang FOOTBALL. Belum lagi istilah-istilah musik dan film yang hampir semuanya merujuk ke Amerika Serikat.

Maka, saya kadang-kadang berpikir, mengapa pelajaran bahasa Inggris formal dan informal di Indonesia tidak diarahkan saja ke American English yang jauh lebih populer? Mengapa masih terus berkiblat ke British English, sementara setiap hari kita digempur oleh American English? Dan gempuran American English itu justru paling efektif dilakukan John M Echols dan Hassan Shadily lewat kamus Inggris Indonesia sejak 1975.

5 comments:

  1. Penggemar Bahasa3:24 AM, August 26, 2014

    Kamus bahasa Inggris-Indonesia memang sangat berguna untuk pelajar bahasa Inggris tingkat pemula dan menengah. Jika sudah memiliki perbendaharaan kata yang cukup, saya sarankan agar menggunakan kamus bahasa Inggris standard seperti Oxford (untuk British) atau Merriam-Webster (untuk American). Selain itu, gunakan thesaurus seperti Roget's Thesaurus. Online pun tersedia. Dengan demikian, anda bisa mengerti arti kata yang dicari dan juga sambil melihat-lihat kata-kata baru lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh bagaimam dengan web thesaurus.com ? Apalah ia menjurus ke EngUS atai EngUK

      Delete
    2. Thesaurus.com tentu Amerika.

      Delete
  2. kamus dewa tuh, dari jamanya bokap gw masih sd sampai anak gw dah sma masih di pake itu kamus, gile bener dah, walau sampai sekarang saya masih engak bisa inggris

    ReplyDelete
  3. Memang di tahun 70an, rujukan pelajaran Bahasa Inggris masih mengacu ke Britania. Tetapi setelah Orde Baru, pintu impor musik, filem, dll. dibuka lebar-lebar dan Paman Sam menyerbu dengan produk-produk budayanya. Apalagi setelah jaman internet, wuih. YouTube, Netflix dll. makin merajalela menyebarkan media content komersial dan amatir dari USA.

    Saya justru baru tahu bhw media Indonesia mengacu kepada Amerika. Mungkin krn riset tentang bahasa dan budaya Indonesia jauh lebih banyak dilakukan dari USA, baik di Cornell (rumah inteleknya mendiang Ben Anderson dan John Echols), UC Berkeley, UCLA, University of Hawaii, dll.

    Dan tentu saja bantuan dari USA jauh lebih banyak karena kepentingan nasional Paman Sam terhadap Indonesia yang padat penduduk, Muslim moderat, strategis secara geografi, dan kaya sumber alam.

    ReplyDelete