12 August 2014

Gubuk Pak Sumito di hutan Kakekbodo, Prigen



Di tengah hutan pinus yang rimbun hiduplah sepasang suami istri: Pak Sumito dan Bu Sumito. Mereka berdua tinggal di rumah sangat sederhana, gubuk khas penjaga hutan. Tak ada tetangga. Cuma Bu Riana yang hanya buka warung siang hari.

"Sejak tahun 1979 saya sama ibu tinggal di sini. Tenang, ayem, nggak banyak pikiran," ujar Pak Sumito kepada saya sekitar jam tujuh malam minggu lalu. Bu Mito sibuk bikin kopi dan mi rebus pesanan saya.

Lalu, obrolan pun mengalir lancar, gayeng, seperti orang yang sudah lama saling kenal. Tentang bumi perkemahan milik Perhutani yang dipenuhi pohon-pohon pinus. Tentang penghasilan Perhutani yang tidak seperti dulu. Tentang penjarahan kayu pascareformasi. Tentang perilaku anak-anak yang berkemah, pencinta alam, dan sejenisnya.

Yah, Perhutani memang punya bumi perkemahan atawa camping ground di atas samping tempat wisata Air Terjun Kakekbodo yang terkenal itu. Ada saja orang yang datang berkemah atau sekadar menyepi dari kebisingan kota. Ada yang rombongan, sendirian, 3-5 orang.

Kalau ingin ngopi ya bisa minta dibuatkan Ibu Sumito. Airnya asli sumber alami pegunungan di belakang gubuk sederhana itu. Air-air semacam inilah yang selama ini disedot ke kota untuk air isi ulang, air minum kemasan, dan sebagainya. Bisa diminum langsung tanpa perlu dimasak dulu.

"Sudah bertahun-tahun saya tidak pernah masak air. Minum langsung dari sumber," kata Pak Mito yang hafal nama-nama pentolan pencinta alam di Jawa Timur.

Tidak ada jaringan listrik di hutan pinus, lokasi camping ground yang dijaga Pak Mito. Penerangannya pakai pelita alias lampu minyak tanah. Kaleng bekas diisi minyak tanah, pasang sumbu, dan dibakar. Nyalanya kekuningan. Melambai-lambai ditiup angin. Lalu mati, dinyalakan lagi, mati lagi, dan seterusnya.

Suasana gubuk pun jadi remang-remang. Mengingatkan saya pada suasana di pedalaman NTT, khususnya Flores Timur, yang juga pakai lampu sederhana persis ini sebelum listrik PLN masuk tahun 2000an.

Begitu kontrasnya gubuk derita Pak Sumito dengan Hotel Surya Prigen di pintu masuk jalan mendaki bumi perkemahan ini. Tarif hotel itu semalam sekitar Rp 1 juta (paling murah). Sementara warung terdekat Hotel Surya masih pakai penerangan ala tahun 1950an.

Ngobrol dengan orang-orang sederhana di tengah hutan memang asyik. Temanya tidak jauh-jauh dari alam, hutan, air terjun, petualangan, penghijauan. Sesekali Pak Mito bertanya perkembangan politik di Jakarta pascapilpres. Hehehe.... Masih ruwet karena tidak ada yang menerima kekalahan!

Tak lama kemudian terdengar suara beberapa wanita muda. Disusul laki-laki yang juga masih 20an tahun. Bu Mito dengan feeling-nya yang terlatih memperkirakan jumlahnya delapan orang. Mereka datang membawa perlengkapan camping.

Tiba di bumi perkemahan, anak-anak muda itu langsung menuju musala. Hanya 30an meter dari gubuk Pak Mito. Salat berjemaah. "Mereka anak-anak IAIN Surabaya," kata Bu Mito, dan memang benar setelah saya cek.

Dengan sigap para mahasiswa ini bikin tenda untuk menikmati suasana malam di tengah hutan pinus. Malam yang berkesan dengan sinar bulan yang terang.



No comments:

Post a Comment