07 August 2014

Filsafat Bermain Indonesia vs Juventus

Tim nasional Indonesia tadi malam (6/8/2014) digulung Juventus 1-8. Kalau mau sebenarnya juara Liga Italia alias Serie A itu bisa menceploskan lebih banyak gol lagi. Beda kualitasnya terlalu jauh. Jangan lupa, sejak dulu timnas kita pun sangat kesulitan mengalahkan Malaysia atau Singapura. 

Kita semua pasti sudah tahu kalau Indonesia bakal kalah besar sama Juve. Apalagi semua pemain utamanya tur ke Jakarta. Tapi, yang bikin saya sesak dada, adalah kesiapan timnas yang sangat minim. Bayangkan, persiapan melawan Juventus hanya dua hari. Latihannya hanya SATU kali saja!

Ini saja sudah menunjukkan betapa tidak seriusnya PSSI, juga pemerintah, dalam mengurus olahraga. Mental main-main, tidak serius, asal jadi, seenaknya... belum hilang di Indonesia. Kita, khususnya pengurus PSSI dan menteri olahraga, kayaknya lupa filsafat permainan atau sport philosophy.

Manusia itu makhluk bermain, homo ludens. Dan, permainan atau sport, menurut filsuf kawakan almarhum Romo Driyarkara SJ, tidak boleh dilakukan dengan main-main. Romo Driyarkara menulis:

"Bermainlah dalam permainan
Tetapi janganlah main-main!

Mainlah dengan sungguh-sungguh
Tetapi permainan jangan dipersungguh

Kesungguhan permainan
Terletak dalam ketidaksungguhannya
Sehingga permainan yang dipersungguh
Tidaklah sungguh lagi"


Para pemain Juventus, Italia, tempat romo-romo dari Indonesia belajar teologi dan filsafat, tentu sangat paham filsafat permainan homo ludens ini. Mereka pasti tahu bahwa timnas Indonesia itu sangat lemah. Level balbalan kita masih jauh di bawah Eropa. Bahkan, di Asia saja Indonesia masih di papan bawah. 

Tapi lihatlah persiapan Juventus sebelum tur ke Jakarta. Mereka sangat serius berlatih fisik, teknik, taktik, dan sebagainya. Mereka juga sudah melakoni beberapa laga setelah libur panjang usai kompetisi dan Piala Dunia. Di Stadion Gelora Bung Karno, Teves dkk pun terlihat serius. Tidak main-main menghadapi timnas kita.

Selain kata-kata Romo Driyarkara SJ tentang "bermain tapi jangan main-main", saya juga selalu ingat sentilan komponis Slamet Abdul Sjukur tentang orang kita (Indonesia) baik di musik, olahraga, politik, dan sebagainya.

Mas Slamet (79 tahun) yang pernah tinggal di Prancis selama 14 tahun dan banyak menerima penghargaan dari luar negeri, menulis begini:

"Orang-orang kita (Indonesia) itu bukan kurang sungguh-sungguh, tapi sangat canggung dalam bermain dengan kepedulian. Akibatnya, orang-orang kita menanggapi kepedulian secara main-main saja." 

No comments:

Post a Comment