21 August 2014

Babysitter manis dan pelajaran ASU



Tiga hari lalu saya cangkrukan di warung kopi samping perumahan elite di Surabaya. Ada tiga gadis pribumi manis-manis, lebih cakep ketimbang Cinta Laura, masing-masing membawa anak asuhnya. Bocah-bocah cilik itu jelas keturunan Tionghoa.

Saya asyik membaca koran pagi sambil mendengar obrolan dan guyonan pengunjung warkop. Ada mas-mas yang rupanya naksir salah satu PRT tapi rupanya cintanya ditolak. Beda usianya kejauhan. Ketiga PRT itu kemudian berbagi cerita lucu tentang kelakuan anak-anak majikan yang Tionghoa itu.

Budaya rasan-rasan memang sangat populer di Jawa. Karena itu, warkop menjadi salah satu tempat yang bagus buat PRT untuk ngerasani majikan. Kebiasaan sang majikan berjalan kaki bersama anjing hiasnya jadi bahan olok-olok yang memicu tawa renyah.

"Bosku itu lebih sayang ASU ketimbang anaknya. Anaknya sendiri jarang diperhatikan," kata salah satu PRT alias babysitter.
"Kan sudah ada pembantu. Kita-kita ini kan dibayar untuk mengurusi anaknya. Majikan cukup ngurus kerjaan dan asu. Hehehe," timpal yang lain.

Lalu, pembicaraan mulai fokus ke soal anjing. Makanan anjing yang lebih mahal daripada makanan manusia. Jenis-jenis anjing. Hingga hobi majikan yang hampir tiap hari jalan bersama anjingnya.

Saya pun terkejut ketika seorang PRT mulai ngerjain anak bosnya. Maksudnya sih guyon, bercanda, tapi kata-katanya enggak enak didengar. Tidak cocok dengan kode etik PRT yang harus berperan sebagai ibu dan pendidik anak asuhnya.

Kepada si bocah cilik Tionghoa yang belum lancar bicara itu, si babysitter bilang begini. "Papamu itu A.. A.. A...," katanya disambut ucapan yang tak jelas si anak. PRT yang dua tertawa ngakak karena sangat paham dua huruf sisanya.

"Papamu itu A.. A.. A...," si PRT kembali mengajari anak asuhnya pelajaran wicara tingkat dasar.

"ASUUUU...," teriak seorang satpam setengah berteriak.

Pengunjung warung kontan tertawa terbahak-bahak. Saya tidak sampai hati ikut tertawa karena guyonan para PRT itu benar-benar tidak pantas diucapkan. Apalagi oleh orang yang dibayar oleh sang majikan, disediakan fasilitas di rumah, untuk mendidik anaknya. Rupanya guyonan asu-asuan ini sudah sangat biasa di arena cangkrukan itu.

Akhirnya, saya pun termenung sendiri sambil baca koran dan mendengar komentar tiga babysitter cantik itu. Namanya juga babysitter atau PRT atau apa pun sebutannya, tidak mungkin bisa menggantikan kasih sayang ibu kandung. Sekasar-kasarnya ibu, dia tak mungkin menyebut suaminya asu (anjing). Kecuali yang sedang konflik parah dan sedang dalam proses perceraian!

Sulit dibayangkan informasi dini yang tersimpan di memori si anak jika sejak kecil sudah diberi input kata-kata negatif dari sang pembantu. Jangan-jangan ketika besar nanti, si anak ikut menyumpahi ayahnya karena terlalu sibuk dengan anjing dan kurang memperhatikan dirinya.

Yah, mau bagaimana lagi? Wong papa mama semuanya bekerja, sibuk cari uang. Anak balita akhirnya diasuh oleh si babysitter yang selain tak punya kasih sayang, juga membawa virus rasisisme dalam dirinya.

Hikmah: Berbahagialah ibu-ibu yang menyusui, mengasuh, dan mendidik anaknya sendiri!

4 comments:

  1. Salam kenal sebelumnya pak, terimakasih atas artikelnya yg menambah wawasan,sedikit berbagi cerita,sebelum menikah saya adalah wanita karir yg workaholic, niat di hati ingin tetap berkarir dgn pikiran sayang bgt ijasah kalo nganggur,tp sepertinya mata hati saya dibukakan, ada tetangga di area komplek ortu saya, anaknya diasuh bs, namanya ana kecil pasti kdg rewel ga mau makan itu sama dia dikasih terasi buat makan tu ank,usianya ms 1,5 tahun, bayangkan ana 1,5 tahun dikasih terasi buat lauk makan,tu bs enak2 aja makan makanan laen malah anak majikannya dikasih terasi, wah dgr kejadian itu ketika menikah sy memutuskan resign, walau bnyk org disekitar sy menyayangkan ketika saya resign bahkan ada yg mencibir dan mengolok2 pedas,tp saya ga ambil pusing, anak buat saya adalah segalanya klo sampe ada apa2 nyeselnya seumur hidup ga ilang, memang lebih bahagia mengasuh anak sendiri,melihat setiap detail perkembangannya, dan ketika dia sedih yg dicari adalah momy bukan susternya,namun setiap org punya prinsip masing2 untuk membesarkan anak dan kalo prinsip saya anak itu lahir dr rahim saya jd yg hrs merawat adalah saya bukan bs atau pembantu....terimaasih sebelumnya, salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak, anak majikan itu jadi pelampiasan si PRT yg stress dan benci ama majikannya... kelakukan para babysitter ini sangat membahayakan fisik dan jiwa anak. ini memang persoalan berat buat wanita karir, antara mengejar karir or ngurusin si kecil. kalo dikasih makan trasi sih aq sering dengar tapi belom liat sendiri.

      Delete
  2. babysitter or pembantu itu memang kebanyakan stress tapi terpaksa kerja gituan krn belum ada pilihan kerja yg lain. kalo ada kerjaan lain maka dia pasti pindah. bekerja menjaga anaknya orang itu memang berat. mengurusin anak or kakek/nenek sendiri aja gak gampang kok....

    ReplyDelete
  3. Cinta anak sepanjang penggalah, cinta orang tua sepanjang masa. Semoga para ibu2 yang masih muda, kelak tidak mengalami kekecewaan. Ingat ada Malin Kundang. Didunia selalu ada sebab dan akibat. Pernahkah para nyonya berpikir, mengapa seorang PRT jadi stress ? Mungkin otak saya sudah pikun, ketinggalan zaman setengah abad. Saya pernah mempekerjakan PRT- Indonesia, PRT-bule Jerman dan sekarang PRT-saya orang China. Jika saya boleh menilai, maka yang nomor 1 adalah Indonesia, 2 adalah Jerman, nomor buncit adalah China.
    Jika si-buyung lebih suka makan terasi daripada sarang burung walet, so what !
    Saya sejak kecil lebih suka makan sambal terasi daripada makan sarang burung atau sirip ikan hiu. Saya makan tidak pernah rewel, apapun yang disajikan saya makan, asal ada sambal terasi dan kecap manisnya.
    Ketika saya menikmati pension dini, pada usia 61 tahun, teman2 Eropa saya, ber-kata: Gratulation ! Du, der Gluecklicher ( happier ) ! Ketika saya bilang kepada teman2 Tionghoa, saya bosan kerja, mau berhenti. Mereka memandang dengan ejekan, dan berkata ; lu masih muda dan kuat, mengapa tidak bekerja terus, nanti bosan lho, kalau nganggur ! Saya diajar ilmu berhitung di Sekolah Rakyat Negeri Denpasar, jadi saya hitung, kekayaan dibagi kebutuhan = bisa hidup enak selama 100 tahun tanpa kerja, mau apa lagi ? Mungkin sifat cina tamak saya sudah luntur, jadi bule, karena hidup terlalu lama di Eropa.
    Bung Hurek yang bijak, apakah sifat wanita Indonesia sudah berubah, selama 50 tahun terachir ? Karena saya masih tetap menganggap PRT-Indonesia adalah yang terbaik didunia.
    Saya sejak lahir selalu punya Asu dirumah. Dulu di Bali punya cicing, di Jawa punya kirik, di Eropa punya Schaeferhund, sekarang di Tiongkok punya 2 ekor
    tu-gou ( 土狗 ). Anjing lokal Tiongkok yang biasanya disembelih untuk dimakan.
    Siapa yang pernah punya Asu, pasti bisa mengerti, bahwa A-su sifatnya jauh lebih baik, setia, tahu rasa terima kasih, daripada A-hong, A-guan, A-ming, A-li,..
    Saya senang dengan komentar ketiga, pembantu memang biasanya bekerja karena terpaksa. Mereka diexploitasi atas ketidak berdayaan, tidak punya jalan lain. Relakah kita, jika anak gadis-kita sendiri bekerja dengan gaji sedemikian minimum. Kakak-saya di Jerman harus mengeluarkan uang tiap bulan 1900 Euro untuk seorang babu yang kerjanya hanya 8 jam per hari ( 1100,- gaji, yang 800,-
    untuk pajak, assuransi kesehatan dan tunjangan hari tua ). Saya sendiri dulu di Eropa punya 5 pegawai bule, gaji mereka malah lebih gede, tiap orang dapat gaji bersih 1400 Euro + pajak + assuransi + pension. Kerja 10 bulan per tahun, terima gaji 14 bulan ( Juli dan Desember gajinya dobel, untuk uang liburan dan uang Natal ). Sekarang PRT-China, saya bayar 3500,- Renminbi per bulan +
    rumah dinas ( bungalow 100M2 ) + AC + air panas + beras, minyak,uang lauk + + listrik, gas + Scooter, semuanya gratis. Dia tinggal bersama 2 anaknya disana.
    Kerjanya cuma jaga rumah, kasih makan Asu, Ayam, Ikan dan Burung, sebab saya kebanyakan hidup di Eropa.
    Perlakukanlah PRT manusiawi, maka dia diluar akan membela majikannya.
    Jika yang lain bilang, majikan-ku Asu, pasti PRT kita akan bilang: majikanku wong e uapik soro. Jangan yang diubah hanya bungkusannya : doeloe istilahnya baboe, karena dianggap kasar diubah jadi pembantu, lebih halus lagi PRT, yang muktahir disebut ART, asisten rumah tangga. Isinya yang harus juga diubah.
    Saya berharap para ART-Indonesia bisa dapat gaji, tempat tinggal dan jaminan
    sosial yang baik. Barang siapa yang keberatan, tidak mampu bayar, ya tidak usah punya babu. Kerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, seperti yang telah dilakukan oleh bojoku membesarkan anak 4 orang.
    Barang siapa yang menarik atau mendapat keuntungan dari kesusahan, keterpaksaan atau ketidak-berdayaan orang lain, itu namanya bo-ceng-li menurut
    Taoisme, dosa menurut agama, atau tak bermoral menurut ajaran etika.

    ReplyDelete