09 July 2014

Tionghoa dan Tiongkok, Gitu Aja Kok Repot!

Pagi ini, 9 Juli 2014, menjelang pencoblosan, saya membaca surat pembaca di Kompas. Ditulis Eliza dari Jember, mengaku keturunan Fujian alias Hokkian, dia bingung dengan istilah TIONGKOK pengganti CHINA. Kita tahu beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia secara resmi mengganti istilah CHINA dengan TIONGKOK demi menjaga hubungan baik dengan Tiongkok dan warga Indonesia keturunan Tionghoa.

Eliza menulis: "Sebaiknya kita menggunakan China daripada Tiongkok karena pemerintah RRC pun menyebut stasiun televisi negaranya secara resmi China Central Television."

Pendapat Eliza ini sekali lagi mencerminkan pemahaman sejarah yang sangat kurang di kalangan generasi muda Tionghoa. Khususnya yang lahir di atas tahun 1980. Ini juga menunjukkan bahwa warga Tionghoa sendiri banyak yang tidak mengikuti isu-isu rasial di tanah air sejak prakemerdekaan, orde lama, dan khususnya orde baru.

Maka, ketika para tokoh Tionghoa di Indonesia, yang hampir semuanya alumni sekolah-sekolah Tionghoa, memperjuangkan agar kata CINA tidak dipakai, tapi diganti TIONGHOA, para anak dan cucu mereka bingung. Mestinya yang bingung itu orang Jawa, Sunda, Batak, Flores, dan sebagainya yang tidak mengalami politik diskriminasi orde baru.

Kok orang Tionghoa, apalagi keturunan Hokkian, yang bingung? Saya tidak perlu mengulang lagi tulisan tentang alasan-alasan mengapa para pemuka Tionghoa menolak CINA (tanpa H) dan lebih suka istilah Tionghoa dan Tiongkok. Di internet pun sudah banyak ditulis.

Yang jadi masalah ya itu tadi. Di kalangan Tionghoa sendiri ternyata banyak yang tidak sreg dengan kata Tionghoa dan Tiongkok. Yah, namanya juga demokrasi, siapa pun bebas menggunakan kata atau istilah apa saja yang disukai. Asal tidak melukai atau melecehkan orang lain.

Kasus kata Tionghoa dan Tiongkok ini mengingatkan saya pada Khonghucu. Sampai sekarang tidak semua orang Tionghoa di Indonesia menganggap Khonghucu itu tidak memenuhi syarat sebagai agama. Karena itu, tidak tepat dijadikan agama resmi keenam di Indonesia. Ada beberapa tokoh Tionghoa yang tidak bosan-bosannya ceramah untuk mementahkan Khonghucu sebagai agama.

"Aneh wong Tionghoa iku. Banyak yang ngotot supaya Khonghucu dijadikan agama resmi kok setelah diterima pemerintah, sebagian lagi menjegal. Kita jadi bingung apa sih maunya orang Cina itu?" komentar seorang teman ketika mengikuti seminar di Surabaya beberapa waktu lalu.

Kalau dipikir-pikir, paling enak kita mengikuti sikap Gus Dur. Kalau menganggap Khonghucu agama ya silakan, kita hargai dan akui. Tapi, kalau sampean menganggapnya sebagai guru agung kebijaksanaan dan moralitas ya mboten nopo-nopo.

Kalau Eliza tidak terima Tiongkok dan Tionghoa, ya, silakan pakai istilah yang Anda sukai. Gitu aja kok repot!
胡rek泗水

1 comment:

  1. Cina Jawa Amrik4:53 AM, July 10, 2014

    Mengenai Konghucu, sebenarnya istilah yang tepat itu Tridarma (Sam Kauw, atau San Jiao), krn seperti di Jepang yang menjalankan tradisi Shinto, Buddha, dan Konghucu, orang Tionghoa secara menghormati ajaran dan tradisi Tao, Buddha, dan Konghucu. Tao menekankan hidup yang mengalir saja, yang seimbang (di dalam berbuat jangan terlalu gimana, termasuk yang dianggap positif). Buddha menekankan untuk bebas dari kesengsaraan otak kita, manusia harus hidup yang tidak melekat kepada hal-hal duniawi. Konghucu menekankan etika sosial dan moral pribadi yang sangat praktis: antara penguasa dan rakyat, antara orang tua dan anak, antara pemimpin dan pegawai. Tiga tradisi ini memang bukan seperti agama Samawi yang ada Tuhan Allah yang harus disembah di atas segalanya.

    Tetapi tetap saja mereka memberikan kerangka moral dan etika untuk hidup individu, ketenangan batin, dan hidup bermasyarakat. Dalam prakteknya, hehehehe ... sebagai orang Tionghoa, yang saya lihat, sebagian kecil saja yang mendalami ajaran, lebih banyak yang ke klenteng untuk sekedar minta berkah dari dewa-dewi agar usahanya lancar. Padahal dewa-dewi, seperti tradisi santo-santa di dalam agama Kristen atau tradisi sahabat Nabi di salam Islam, sebenarnya manusia yang hidupnya patut dijadikan contoh karena mereka mempunyai "virtue" atau kebajikan yang patut dituruti. Welas asih, kejujuran, kesetiaan, kebijaksanaan. Tidak beda jauh dengan Orang Islam yang nyekar ke makam, atau Orang Kristen yang datang ke KKR minta kesembuhan atau kelancaran usaha. Antara iman dan ambisi pribadi itu tipis, bung!

    ReplyDelete