01 July 2014

Timnas perlu belajar dari Kosta Rika

Begitu banyak pertandingan di Piala Dunia 2014 ini, total 64 match, sehingga kita harus memilih. Tidak mungkin kita melekan terus semalam demi menonton tiga match setiap malam. Bisa kacau irama tubuh, sakit, dan seterusnya.

Maka, saya pun hanya menonton pertandingan yang melibatkan tim besar. Sebut saja Jerman, Italia, Argentina, Prancis, Brasil, Belanda, Uruguay, atau Spanyol. Inggris sejak dulu saya anggap medioker sehingga cukup nonton satu kali saja.

Kosta Rika? Negoro opo iku? Kebanyakan orang Indonesia, termasuk saya, tidak tahu ibu kota negara ini. Siapa yang hafal pemain-pemain Kosta Rika? Kayaknya pengamat bola kita pun tidak tahu sebelum membuka Google.

Karena itu, saya tidak pernah menonton pertandingan Kosta Rika di televisi. Tak satu pun dari empat pertandingan saya lihat. Saya hanya mengikuti hasilnya di internet dan bahasannya di koran besok.

Aha, ternyata Kosta Rika ini menangan. Jadi juara grup. Tim-tim elite Eropa pun keok. Kosta Rika membuktikan bahwa sepak bola itu sering tidak bisa ditebak hasilnya. Tapi kata pengamat-pengamat sih Kosta Rika layak menang karena main bagus. Taktik yang dipakai pelatih Jorge Pinto katanya bagus.

Selamat untuk Kosta Rika!

Paling tidak bisa jadi inspirasi buat Indonesia yang jauh lebih luas dan jauh lebih banyak klub bolanya. Bahwa timnas kita pun sebetulnya bisa berbicara di jagat antarbangsa. Tidak usah muluk-muluk ke Piala Dunia. Bisa jadi juara Piala AFF saja sudah luar biasa.

Selama ini timnas kita selalu inferior saat berhadapan dengan Malaysia dan Singapura. Saat uji coba di Sidoarjo minggu lalu penampilan tim asuhan Alfred Riedl untuk masih meragukan. Saya juga ragu timnas senior ini bisa menang sama timnas U-19 yang dimotori Evan Dimas.

Akankah Kosta Rika lolos lagi setelah memulangkan Yunani? Saya ragu. Sebab, biasanya kejutan di Piala Dunia itu selalu ada batasnya. Tapi saya berniat akan menyaksikan pertandingan kelima Kosta Rika di Piala Dunia.

2 comments:

  1. Cina Jawa Amrik2:47 PM, July 01, 2014

    Bung, Costa Rica itu juaranya CONCACAF, federasi sepakbola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia atau Bhs Inggrisnya "The Confederation of North, Central America and Caribbean Association Football (CONCACAF)". Nomor satu Costa Rica, nomor dua USA, dan nomor tiga Mexico. Selain tiga besar itu, yang lolos lainnya Ecuador dan Honduras.

    Ternyata ke-3 besar tsb berhasil lolos ke babak 16 besar, dan Mexico hanya kalah tipis (hampir menang) dari Belanda. USA hampir menang atas Portugal dan kalah tipis dari Jerman di putaran grup. Jangan meremehkan sepakbola benua Amerika Utara!

    USA membangun kompetisi sepakbola sejak 1994 dari nol, ketika menjadi tuan rumah World Cup, dan kemudian mendirikan Major League Soccer. Di tiap kota, semua anak kecil di bawah 14 tahun main soccer, sampai ada istilah "soccer mom", yaitu ibu2 yang mengantarkan anaknya latihan dan bertanding dari satu lapangan ke lapangan lain tiap minggunya. Fair play, pendidikan karakter, teknis di lapangan, tanggung jawab sukaralewan (para orang tua), adakah dilakukan di Indonesia? Kompetisi liga, apakah berjalan bersih? PSSI apakah bersedia membayar pelatih yang diberi kepercayaan penuh, seperti US Soccer Association memberi Juergen Klinsmann kepercayaan tsb?

    Hanya orang Indonesia sendiri yang bisa menjawab (dan kita semua tahu jawabannya). Kalau mau maju, mulai dari organisasinya, bukan dari pelatih atau pemainnya. Makan waktu tahunan. Sejak 1994, USA selalu masuk putaran final Piala Dunia, sedang sebelumnya hampir gak pernah, walaupun soccer hanya olahraga ke-5 terpopuler, setelah American Football, Baseball, Basketball, dan Ice Hockey.

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun, mas Amrik.
    Ternyata sampean sangat paham balbalan, bahkan lebih piawai ketimbang pengamat2 di televisi Indonesia. Kita juga jadi tahu bagaimana kerja keras USA dalam membangun balbalan dan timnasnya. Mereka kelihatan tangguh sekali di Piala Dunia 2014. Kuat fisik, taktik, dan tidak gentar dengan tim-tim lain yg punya nama besar. USA jauh lebih baik ketimbang Inggris.
    Sekali lagi, terima kasih sudah memberi tambahan wawasan kepada kami di Indonesia.

    ReplyDelete