19 July 2014

Surabaya-Sidoarjo tambah macet

Lalu lintas dari Surabaya ke Sidoarjo dari dulu sudah sangat padat. Ini karena lebar jalannya masih sama dengan tempo doeloe, sementara mobil dan motor terus bertambah. Pembuatan jalan baru atau frontage road masih lama.

Akhir-akhir ini saya merasakan kemacetan yang makin parah. Bahkan, saat libur, akhir pekan pun lalu lintas tidak lancar. Kemacetan makin parah kalau ada truk atau kendaraan berat yang mogok. Atau pas banjir yang membuat jalan tergenang.

Kemarin (17 Juli 2014), kemacetan Surabaya-Sidoarjo mencapai titik paling ekstrem. Gara-gara tabrakan antara kereta api dan truk pengangkut crane di Banjarkemantren, Buduran, yang menewaskan masinis dan seorang pengendara sepeda motor. Macet pagi itu benar-benar parah.

Bayangkan, jarak yang hanya 500 meter butuh waktu sekitar 70 menit. Kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali. Banyak warga yang stres, kemudian menggeber gas atau membunyikan klakson berkali-kali. Toh tetap saja macet karena petugas masih sibuk mengeluarkan kendaraan yang penyok di belokan ke arah lingkar timur.

Di tengah jebakan macet cet-cet itu, saya pun merenung. Mencoba mengambil hikmah. Bahwa cepat atau lambat, bisa 10 atau 15 tahun lagi, Surabaya dan Sidoarjo akan macet ekstrem seperti ini. Jakarta sudah lama mengalaminya. Jutaan liter BBM terbuang sia-sia karena kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali.

Pemkot Surabaya dan Pemkot Sidoarjo harus duduk bersama membahas masalah jangka panjang yang sangat urgen ini. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri seperti sekarang. Lihat saja, ketika frontage road Surabaya dari Jemursari ke bundaran Waru sudah dipergunakan, frontage road di wilayah Sidoarjo belum jadi. Bahkan masih dalam tahap pembebasan tanah.

Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan atau bottle neck di dekat pabrik paku, Kedungrejo, Waru, samping Terminal Bungurasih. Jalanan di wilayah Sidoarjo, khususnya Kecamatan Gedangan, begitu penuh karena ada 5 titik macet sekaligus.

Jalan-jalan di Surabaya malah jauh lebih lancar ketimbang Sidoarjo. Kecuali dari perbatasan Sidoarjo-Surabaya di bundaran Waru hingga Jalan Ahmad Yani. Jalan-jalan lain di Surabaya lantjar djaja.

Kelihatan Sidoarjo kurang mengantisipasi ledakan penduduk dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang luar biasa pesat. Sidoarjo perlu studi banding ke tetangga terdekatnya: Surabaya. Tidak perlu jauh-jauh ke Singapura, Eropa, atau Tiongkok.

~ kirim pake hp lawas ~

5 comments:

  1. Pemerhati Indonesia2:02 PM, July 19, 2014

    Harusnya otoritas transportasi itu regional, buka per kota. Kota mengatur jalan dalam kota, bukan jalan raya antar kota yang dalam wilayah metropolitan yang sama. Ini prinsip urban planning yg sangat sederhana tetapi di Indonesia tidak dipraktikkan. Sama seperti bal2an. Organisasi berantakan, manajemen berantakan, bgmn mau bikin lancar prestasi atau lalu lintas?

    ReplyDelete
  2. Amat sangat setuju dengan masukan dari mas Pemerhati. Pemkot Surabaya sudah membuat frontage road dan mengatasi kemacetan di dalam kota. Sayangnya, tetangga dekat terus terlambat sehingga ruas jalan yg lancar di Surabaya itu buntu, bottle neck, di bundaran waru, Sidoarjo, dan perbatasan Gresik-Surabaya. Jadi, memang harus ada perencanaan secara regional, tidak per kabupaten/kota seperti sekarang ini.

    Surabaya itu macetnya ya cuma di Jalan A Yani gara2 kendaraan dari/ke Sidoarjo. Salam untuk teman2 di mancanegara.

    ReplyDelete
  3. Pemerhati Indonesia3:09 PM, July 19, 2014

    Salam Duapuluh Juli. Salam dua jari. Sudah jelas yang menang Jokowi.

    ReplyDelete
  4. saya pikir Daerah Metropolitan Surabaya ( Grebangkertosusila) harus direncanakan lebih matang! seperti Jabodetabek. jangan sampai terlambat saja dalam pengerjaan proyek2 tersebut, karena itulah yang dialami jabodetabek saat ini; keterlambatan!. Grebang kertosusila adalah salah satu daerah metropolitan yang sangat menjanjikan! pemerintah bisa membuat daerah ini menjadi pusat niaga tapi harus bisa lebih rapi daripada jabodetabek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gerbangkertosusila : Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan. Itu konsep lama zaman Orde Baru yg bagus, visioner, tapi tidak jalan setelah reformasi. Otonomi daerah yang fokus di kabupaten/kota membuat semua kabupaten/kota jalan sendiri2. Koordinasi yg seharusnya bisa dilakukan gubernur juga tidak jalan karena bupati atau wali kota itu hasil pilihan rakyat, bukan bawahannya gubernur.

      Itu yg jadi masalah besar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya. Wong masalah kerja sama Terminal Bungurasih milik Surabaya di wilayah Sidoarjo saja sampai sekarang ribut terus, belum ada solusi.

      Matur nuwun atas tanggapan sampean yang mengingatkan kita pada Gerbang kerto susila.

      Delete