22 July 2014

Saatnya Prabowo ikhlas dan legawa

Raden Mas Prabowo numpak jaran (potone teko internet baranews).


Terlalu lama rakyat dibuat tegang oleh manuver politisi usai pencoblosan 9 Juli 2014. Elite politik, khususnya Prabowo Subianto dan orang-orang dekatnya, kurang legawa untuk mengakui kemenangan lawan meskipun datanya sudah jelas.

Kalau di negara-negara lain yang sudah maju demokrasinya, paling lama dua hari setelah pencoblosan sudah ada ucapan selamat dari calon yang kalah. Salaman, ngopi, makan bersama, dan memberikan dukungan kepada sang pemenang. Namanya kompetisi ya pasti ada yang kalah alias kurang suara, begitu istilah Megawati Soekarnoputri.

Yang kurang suara atau kalah suara itu ya harus tahu diri. Cepat-cepat ucapkan selamat karena data perolehan suara tidak mungkin diubah. Kecuali oleh lembaga-lembaga survei dan penyelenggara quick count abal-abal itu.

Sayang sekali, suasana kompetisi yang sportif, fair play, ala Piala Dunia di Brasil itu tidak terlihat. Dan itu sejak beberapa jam usai pemungutan suara. Mengandalkan quick count yang kredibilitasnya diragukan, yang ditopang banyak televisi milik tim sukses, hasil pilpres versi quick count beneran tidak diakui. Malah mengklaim sama-sama menang!

Mana ada pertandingan bola yang sama-sama menang? Kalau seri ya harus adu penalti. Harus mengakui kemenangan lawan meskipun kalah sangat-sangat tipis.

Sayang sekali, di Indonesia kali ini sikap legawa itu tidak muncul. Prabowo pantang menyerah, tetap merasa menang. Dia malah menuduh 8 lembaga quick count yang hasilnya memenangkan Jokowi sebagai lembaga komersial yang tidak bisa dipercaya. Quick count yang dipecaya ya 4 lembaga yang memenangkan dirinya.

Satu minggu berlalu. Hasil pilpres yang asli alias real count sudah sangat jelas. Bahwa Prabowo kalah suara sama Jokowi. Beda suaranya jutaan, bukan ratusan ribu. Tapi tetap saja Prabowo masih merasa menang. Malah dia dan timnya merasa dicurangi. Sehingga minta pilpres diulang di beberapa tempat.

Senin, 21 Juli 2014, sehari sebelum pengumuman resmi dari KPU pun Prabowo masih merasa belum kalah juga. Kalimat-kalimatnya yang kita baca di media online memperlihatkan bahwa capres nomor 1 ini tidak ikhlas kalau Jokowi yang menang. Padahal, rekapitulasi suara tingkat nasional sudah mendekati final. Dan sudah sangat jelas kalau Jokowi yang unggul.

Lantas, kapan Prabowo merasa legawa, berbesar hati, mengakui keunggulan lawan?

Yah, mudah-mudahan setelah pengumuman resmi dari KPU, bekas danjen Kopassus ini mau menelepon Jokowi untuk mengucapkan selamat atas kemenangan capres nomor 2!

Inilah yang ditunggu-tunggu rakyat yang sudah lelah dengan kampanye hitam sejak Mei, Juni, dan awal Juli sebelum coblosan. Rakyat Indonesia, kecuali Prabowo dan elite-elite politik pendukungnya, sudah capek dengan ketegangan politik yang sudah terlalu lama sejak pemilu legislatif 9 April 2014.

Apakah hasil pilpres yang nanti diumumkan KPU bakal digugat ke Mahkamah Konstitusi? Melihat sikap dan bahasa tubuh Prabowo, kemungkinan besar akan dibawa ke MK. Artinya, kita, rakyat biasa, harus siap-siap menyaksikan akrobat politik Prabowo dan timnya hingga satu atau dua bulan ke depan.

Yah, mudah-mudahan di bulan puasa ini, yang sudah masuk dekad kedua alias likuran, Pak Prabowo mendapat pencerahan agar bisa memberikan kesejukan kepada bangsa Indonesia. Dengan tidak menggugat hasil pilpres yang ditetapkan KPU.

Yang justru harus digugat adalah 4 lembaga survei karena membuat quick count dengan metodologi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salam damai!


~ kirim pake hp lawas ~

1 comment:

  1. Iya ama,, benar2 bingung semua orang (yg melek politik), kenapa juga tidak dari awal (sesuai batas waktu) melaporkan kecurangan... kenapa mesti di detik2 terakhir.. Saya heran, ada yg tetap percaya pada hitungan sendiri dan mengklaim menang,,, padahal ada lembaga resmi negara yang bertugas memenangkan salah satu pihak... Ini yg saya bilang Masturbasi, hhehehe,, (ada di link komentar saya)

    ReplyDelete