11 July 2014

Quick count abal-abal rusak demokrasi



Sedikit banyak saya tahu metode hitung cepat alias quick count yang sekarang jadi industri pemilu di Indonesia. Di awal reformasi saya pernah ikut lokakarya tentang pemilu yang diadakan beberapa NGO dan universitas. Waktu itu istilah quick count belum dikenal masyarakat. Media massa pun belum tahu.

Memang tidak gampang memahami metodologi quick count kalau tidak pernah kuliah statistik. Saya ingat betul di kampus Ubaya, Ngagel, kami diberi wawasan tentang PVT: parallel vote tabulation. Dengan PVT ini, maka hasil pemilu sudah langsung diketahui beberapa jam sesudah pencoblosan di TPS. Hasilnya hampir pasti akurat asalkan sampelnya tepat. Baik jumlah, sebaran, proporsi.

"PVT ini dipakai di Filipina untuk mengontrol pemilu," kata dosen Ubaya yang saya lupa namanya, tapi masih ingat wajahnya. Beberapa kali dia memberi brifing khusus kepada saya di Ubaya.

Betul. Hasil PVT yang di Surabaya diolah di Ubaya ini cocok dengan hasil pemilu legislatif versi KPU. Pilpres langsung belum ada saat itu. Pak dosen itu optimistis PVT bakal menjadi metode efektif dari pemilu ke pemilu di Indonesia.

Betul memang. PVT ini kemudian dikenal luas dengan istilah quick count. Diperkenalkan di Metro TV oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), yang belum pecah dan masih sendirian bikin hitung cepat. Quick count itu secara akurat memprediksi hasil pemilu 2004 dan pilpres yang dimenangi SBY.

Sekarang ini quick count sudah pasaran. Istilah PVT malah tidak dikenal, kecuali orang-orang statistik yang mengolah data di dapur lembaga survei. Pilpres 9 Juli 2014 kemarin malah melibatkan 12 penyelenggara quick count.

Mengapa 8 lembaga quick count hasilnya Jokowi-JK menang, sedangkan 4 lembaga lain sebaliknya?

Hehehe.... Jangan lupa kata-kata almarhum Gus Dur tentang intelektual tukang. Intelektual atau lembaga survei yang mengorbankan idealisme dan metodologi ilmiah karena punya kepentingan dengan user-nya. Maju tak gentar membela yang bayar! Cendekiawan sejati harusnya maju tak gentar membela yang benar (secara ilmiah dan objektif).

Seandainya 12 lembaga itu menggunakan sistem PVT secara murni dan konsekuen (ini jargon khas Orde Baru), bisa dipastikan hasil quick count tidak akan jauh berbeda. Artinya, pasangan capres-cawapres yang menang itu pasti sama. Yang beda hanya persentasenya. Itu pun range-nya tidak akan banyak.

Begitu kira-kira kuliah gratisan tentang PVT alias quick count yang saya ikuti di Ubaya dulu. Kalau sampai berbeda, dan kemudian hanya diumumkan di televisi-televisi pendukung Prabowo-Hatta, pasti ada uang di balik angka! Pasti ada hidden agenda! Pasti ada kepentingan sebagai intelektual tukang untuk maju tak gentar membela yang bayar itu tadi.

Saya baca di koran pagi tadi bosnya Lembaga Survei Nasional (LSN) yang memenangkan Bowo-Hatta mengatakan, tunggu saja sampai real count atau hitungan resmi KPU tanggal 22 Juli mendatang. Akan kelihatan mana-mana saja lembaga survei yang akurat atau tidak.

Pernyataan ini juga sekaligus mendelegetimasi lembaga-lembaga atau industri quick count di Indonesia. Kenapa? Ketika PVT diperkenalkan di Indonesia, kemudian populer dengan nama quick count, tujuannya untuk mengawal hasil pemungutan suara. Agar suara rakyat tidak dimanipulasi oleh KPU dan pemerintah.

Kok sekarang jadi terbalik? Hasil resmi KPU jadi pengontrol lembaga-lembaga quick count. Jangan-jangan pimpinan LSN itu tidak paham atau lupa latar belakang quick count di era Marcos di Filipina, yang kemudian diterapkan juga di Indonesia itu.

Kasihan lembaga-lembaga quick count yang kredibel, jujur, menjaga integritas ilmiah. Hanya karena ulah beberapa lembaga survei abal-abal, quick count tidak lagi dipercaya masyarakat. Dianggap memecah belah masyarakat.

胡rek泗水

9 comments:

  1. saya setuju pendapat Admin. Lembaga quick count berjuang " Maju Tak Gentar Membela yg mBayar", apalagi kalo bos lembga juga sekaligus sebagai konsultan bahkan timses, lihat di jejaring sosialselalu muncul akun bos salah satu lembaga quick count yg selalu mengkapanyekan capres tertentu. makanya saya setuju kita tunggu hasil hitung manual KPU nanti tgl 22 Juli 2014 Ok??

    ReplyDelete
  2. Ehehe. Benar om, bapa mama di rumah nonton jg bingung habis.
    Perkenalkan saya salah satu peserta didik di salah satu SMA Katolik di kota Maumere, sy jg suka menulis blog tapi cuma untuk berbagi pengalaman, jarang update dan belum sehebat om -_-
    sy sering membaca blog atau jurnal di internet yg adminnya orang2 flore juga, oh iya kalau om bisa mampir sejenak di blog saya http://www.kotsu-kotsu.blogspot.com , tolong berikan masukan dan komentar secukupnya terhadap tulisan saya.

    Terima kasih om. Amapu benjer (y)

    ReplyDelete
  3. prabowo hanya percaya sama quick count yg dibayar dan yg memenangkan dirinya. kita hargai aja karena wataknya dia kayak gitu. semoga dia gak jadi presiden.

    ReplyDelete
  4. aq yakin 4 lembaga quick count itu tidak punya surveyor di lapangan. datanya cuma ngarang aja.

    ReplyDelete
  5. Pemerhati Indonesia2:35 AM, July 16, 2014

    Prabowo yang didikan luar negeri, fasih berbahasa Inggris, lulusan Akabri, ternyata kualitas karakternya segitu-gitu saja. Begitu juga Hatta Rajasa yang lulusan universitas teknik terbaik (konon) ITB, ternyata kualitas karakternya juga segitu-gitu saja. Mereka pasti mengerti ilmu statistik lah. Jadi tidak mau mengakui kekalahan ini hanyalah taktik menunda, agar bisa mempersiapkan rencana busuk, seperti UU MD3. Lihat saja wawancara di BBC, kelihatan kan bahwa dia tidak mau mengakui kekalahan. Katanya tegas, katanya jantan, ternyata hanya sebatas itu karakternya. Saya sangat hormat kepada bapaknya, Sumitro Djojohadikusumo. Tetapi Prabowo tidak pantas memimpin negeri ini. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  6. pak prabowo sangat yakin sudah dapat mandat dari rakyat dan menang. bowo malah menuduh lembaga2 survey yg memenangkan jokowi itu komersial dan bagian dari kampanye untuk mengalahkan dirinya. dia juga ngaku real count sudah menang.. hanya dalam waktu 2 hari. dia juga anggap jokowi pura2 merakyat.... yah, kita tunggu aja apa betul mandat rakyat itu diberikan ke prabowo.

    kelihatan banget prabowo sangat2 ambisius jadi presiden karena dia sudah berjuang 15 tahun dan habis banyak uang. kita harapkan prabowo dan jokowi sama2 menang.

    ReplyDelete
  7. kemungkinan besar prabowo menang saat pengumuman KPU 22 juli karena banyak trik dan strategi. termasuk propaganda dengan quick count palsu untuk membentuk opini sehingga perolehan suara bisa dimanipulasi dengan mudah. prabowo tidak pernah menyerah!

    ReplyDelete
  8. sabar aja... ntar juga selesai kalau sudah ada pengumuman resmi dari KPU. kita dukung siapa pun presiden yg terpilih.

    ReplyDelete
  9. Pemerhati Indonesia2:47 PM, July 16, 2014

    Sahabat sekalian, tolong simak website ini. http://www.kawalpemilu.org/#0 yang dibuat oleh Ainun, programmer Indonesia bersama dengan 2 programmer lain yang bekerja di Silicon Valley. Website ini menampilkan hasil suara sebenarnya, yang dimasukkan oleh para relawan netizen berdasarkan scan asli formulir C1 dari website KPU. Saat ini ditulis, sudah 95% TPS diproses, jadi sudah hampir selesai. Lihatlah hasilnya, Jokowi 53%, Prabowo 47%. Gak beda jauh dari quick count RRI kan? Dan gak akan beda jauh sampai C1 terakhir dimasukkan. Inilah cara rakyat Indonesia mengawal kejujuran KPU.

    ReplyDelete