02 July 2014

Presiden yang Menyelesaikan Masalah

Sepuluh tahun sudah lebih dari cukup untuk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beliau presiden yang santun, cerdas, pintar bikin lagu, menulis buku, tapi terlalu lambat bertindak. Terlalu lama berpikir, menimbang, tapi tak kunjung memutuskan.

Tidak usah jauh-jauh. Di Sidoarjo ini ada ribuan korban lumpur Lapindo yang belum kelar urusan ganti rugi tanah dan bangunan. Sudah delapan tahun mereka menunggu. Unjuk rasa sampai bosan. Bolak-balik blokade tanggul di Porong.

Tapi tidak ada solusi. Presiden SBY memang bikin peraturan presiden tahun 2007 untuk mengatur kewajiban Lapindo Brantas. Ternyata tidak semua butir dijalankan. Setelah deadline lima tahun pun pemerintah pusat yang dipimpin Presiden SBY tak bisa berbuat banyak.

Masa jabatan SBY tinggal tiga bulan. Apa mungkin urusan korban lumpur ini selesai? Melihat kinerja dan gaya SBY selama 10 tahun menjadi presiden, saya kira orang Partai Demokrat yang paling fanatik pun sulit percaya.

Contoh kedua masih di Sidoarjo, tepatnya Jemundo, Taman. Ada 200an warga Sampang mengungsi di rumah susun karena keyakinannya sebagai jemaat Syiah. Sudah satu tahun lebih mereka tinggal di situ. Sampai sekarang pemerintah pusat tidak bisa memberi kepastian kapan mereka dipulangkan.

Kita masih ingat tahun 2013 lalu Presiden SBY menyampaikan harapannya agar warga Syiah Sampang itu bisa merayakan Idul Fitri di kampung halamannya. Ternyata meleset. Sampai satu tahun kemudian, menjelang Idul Fitri tahun ini pun ngambang. Sementara masa jabatan SBY akan segera habis.

Masihkan SBY ingat kelanjutan nasib pengungsi ini? Masih ingat urusan ganti rugi lumpur Lapindo? Jangankan presiden, menteri-menteri atau pejabat teknis di level bawah pun sepertinya abai dengan masalah riil masyarakat ini.

Pejabat-pejabat ini bekerja terus, tiap hari ngantor, tapi tidak jelas apa yang dikerjakan. Kita tidak melihat ada poin-poin solusi atau jadwal tahapan-tahapan yang konkret. Tahu-tahu sudah lima tahun menjabat sehingga harus lengser.

Ada kesan pemerintahan sekarang ini berusaha menghindari masalah dan mendiamkannya. Dibiarkan ngambang begitu saja sampai warga mencari jalan sendiri. Atau rakyat lupa karena terlalu banyak masalah baru yang muncul kemudian. Tapi mau bilang apa?

Karena itu, saya setuju dengan sebuah judul artikel di koran hari ini: Kita Butuh Tokoh Penyelesai Masalah. Problem solver! Bukan pemimpin yang lebih suka retorika, main wacana, diplomasi, cari aman, menghindari masalah. Selesaikan masalah! Cari solusi segera!

Saya melihat tipe pemimpin yang problem solver itu ada dalam diri Jusuf Kalla. Ketika orang baku bunuh di Maluku, JK bukannya menghindar, tapi datang ke lapangan. Mengundang pihak-pihak yang bertikai. Membahas solusi, jalan keluar, menemukan akar masalah. Dan hasilnya jelas.

Masih banyak lagi yang dilakukan Pak JK. Beliau tidak bikin makalah, pidato panjang lebar, janji macam-macam, tapi ACTION. Inilah yang kurang terlihat dalam lima tahun terakhir.

Atau, bisa jadi masalah lumpur di Sidoarjo akan selesai setelah Aburizal Bakrie jadi menteri utamanya Presiden Prabowo. Kita tunggu saja!

1 comment:

  1. SBY presiden yang tersandera oleh koalisinya: PKS, Golkar. Maka itu pilih yang tidak berkoalisi dengan partai2 busuk itu.

    ReplyDelete