07 July 2014

Prabowo vs Jokowi Bikin Sawah Baru

Debat terakhir capres pada 5 Juli 2014 paling menarik dan menggelitik. Saya geli sendiri melihat Hatta Rajasa menyebut Piala Kapaltaru, padahal maksudnya Adipura. Jokowi pun menjawab sesuai bunyi pertanyaan sang cawapres. Sementara Pak Hatta belum juga sadar bahwa yang dia maksudkan itu Adipura.

Pak Hatta pun menyerang Jokowi. Katanya, sewaktu memimpin Solo dan Jakarta, Jokowi tidak beroleh penghargaan. Hehehe... Kalau Pak Hatta jeli, setidaknya membaca koran, ia akan tahu bahwa tahun 2014 ini Jakarta memborong empat Piala Adipura untuk kategori metropolitan. Bersama Kota Surabaya tentu saja.

Bagi saya, yang paling menggelitik itu soal pembukaan sawah baru. Capres Prabowo, yang juga ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), ngotot akan membuka 2 juta hektare sawah baru. Pak Bowo rupanya belum membaca platform Jokowi-JK yang juga akan berusaha memperluas lahan untuk tanaman pangan sekitar 1 juta hektare.

"Apa tanggapan Pak Jokowi tentang program kami membuka sawah baru dua juta hektare," Prabowo bertanya.

Jokowi pun menjawab. "Buka sawah baru itu mudah. Tapi airnya dari mana? Kita harus lihat dulu persediaan airnya," begitu kira-kira komentar Jokowi.

Bagi orang kota, khususnya di Jakarta atau Surabaya, yang asing dengan sawah, irigasi, ladang, atau pertanian, topik bahasan sawah baru ini tidak menarik. Tapi, bagi orang luar Jawa, justru ini yang paling menarik. Dan Jokowi selain sangat paham masalah sawah + irigasi, secara telak mengangkat kegagalan proyek sawah jutaan hektare di luar Jawa sejak Orde Baru sampai sekarang.

Membuka lahan itu mudah. Babat alas atau menebang pohon di hutan gampang. Tapi pengairannya bagaimana? Bendungan air, saluran primer, sekunder, tersier? Bagaimana menjamin irigasinya lestari seperti yang dibangun di Jawa Timur sejak era Prabu Airlangga dan dilanjutkan pemerintah Hindia Belanda?

Belum lagi masalah tingkat keasaman atau pH tanah. Tanah di luar Jawa itu berbeda dengan tanah di Jawa yang sangat gembur dan subur. Di Jawa Timur misalnya, tanpa dipupuk pun tanaman-tanaman hias di depan rumah akan tumbuh subur, hijau, dan membesar.

Jalan raya menuju Bandara Juanda di Sedati, Sidoarjo, sekarang ini sudah jadi hutan trembesi, angsana, dan tanaman hias lain. Padahal, lima tahun lalu jalan raya itu masih terlihat kosong. Selain dirawat, tanah di Jawa punya nutrisi atau unsur hara yang bagus. Apalagi dengan adanya abu vulkanik gunung berapi yang sering erupsi seperti Kelud atau Semeru atau Ijen.

Nah, di Kalimantan itu tanahnya tanah gambut. Tidak cocok untuk tanaman padi (bukan beras seperti istilah Prabowo di debat terakhir itu). Harus ada pengolahan khusus untuk menetralkan pH yang sangat asam. Ini juga yang menyebabkan program sawah sejuta hektare gagal pada zaman Pak Harto.

Minggu lalu saya bertemu Subowo, mantan transmigran asal Sidoarjo di Krian. Bowo dan istri plus tiga anaknya balik kucing ke Jawa karena lahan yang disiapkan pemerintah di Halmahera Utara tidak bisa diharapkan. "Airnya nggak ada. Gimana kita mau olah sawah," kata laki-laki yang sekarang mengurusi bangunan lama aset pemkab di Krian.

Karena itu, ketika melihat Prabowo getol membahas sawah dua juta hektare dan Jokowi menimpali dengan "dari mana airnya", saya langsung ingat Bowo di Krian. Pastikan dulu airnya! Begitu penegasan Jokowi. Kalau ada air, punya potensi untuk irigasi, baru bikin sawah.

Jangan dibalik. Buka lahan 2 juta atau 3 juta hektare, tapi irigasinya tidak jelas. Omongan Jokowi yang rilek, sederhana, khas wong cilik di lapangan, ini sangat mengena. Prabowo juga bilang dia sudah tentu tahu, apalagi ketua HKTI, bahwa sawah pasti butuh pengairan intensif.

Tapi, yang jelas, kelihatan sekali dalam debat di televisi bahwa pernyataan Jokowi selalu bersifat how to do. Sangat konkret dan mengena. Khas seorang pelaksana atau eksekutor. Inilah yang hilang selama kepemimpinan SBY, khususnya di periode kedua.

3 comments:

  1. Cina Jawa Amrik2:40 PM, July 07, 2014

    Setuju, Pak Lambertus. Jokowi menguasai permasalahan, karena dia mau mendengarkan, dan langsung bekerja turun tangan. Sedangkan Prabowo yang bekas ketua HKTI tidak mengerti how-to, wah ketahuan jabatan hanya untuk lobbying saja.

    Omong-omong tentang Prabu Airlangga, sebagai Orang Indonesia harus menghargai jati diri kita, yaitu keragaman peninggalan nenek moyang kita, yang menyerap dari India, Cina, Portugis, Persia, Asia Tengah, dan tentunya Arab.

    Jangan sampai negara Indonesia jatuh ke orang-orang yang mau menjadikannya seperti negara Arab Saudi saja. Arab itu maju, tapi itu DULU, setelah direform oleh nabi Muhammad s.d. 1500. Sekarang, yang kaya hanya mengandalkan petro dollar; yang miskin macam Mesir, Irak, ketinggalan jauh oleh Indonesia, walaupun mereka ini boleh dibilang asal-muasal peradaban. Lha kok kita yang lebih maju mau mengikuti mereka?
    http://www.economist.com/news/leaders/21606284-civilisation-used-lead-world-ruinsand-only-locals-can-rebuild-it

    Indonesia harus memilih capres yang tidak mau bertransaksi dengan partai-partai yang mau menindas keragaman, yang merupakan jati diri bangsa Indonesia. Salam Bhinneka Tunggal Ika. Tunggal =1. Ika =1. 1+1 = 2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suwun komentarnya mas Amrik. Kebetulan di Krian, Sidoarjo, ada prasastinya Raja Airlangga yang isinya tentang pengairan. Beliau membangun sistem irigasi menggunakan air Sungai Brantas untuk membuka sawah2 di daerah hulu sungai yg sekarang kita kenal sebagai Sidoarjo dan Surabaya. Tapi mungkin saja sebelum Airlangga sudah ada teknologi pengairan yg hebat.

      Sekali lagi, terima kasih sudah membaca dan memberi komentar. Semoga sukses dan sehat selalu. Iku sing penting... tahes!!!

      Delete
  2. saya harap saja supaya sawah baru yang dicanangkan presiden jokowi tidak merusak hutan lindung atau hutan hujan yang memang penting! sebagai contoh di Kalimantan yang pembalakan liarnya sudah sangat parah (saya naik pesawat dari jakarta ke balikpapan dan terlihat lah hutan gundul sejauh mata memandang)

    ReplyDelete