25 July 2014

Mudik laut bisa jadi alternatif

Koran-koran hari ini membahas masalah jalan raya di Jawa yang sempit, padat, penuh, saat arus mudik Lebaran. Juga jembatan di Comal dan Ciamis yang rusak. Juga banyak titik rawan yang sama dari tahun ke tahun.

Membaca koran jelang Idulfitri dan melihat liputan di televisi rasanya sangat membosankan. Sebab tiap tahun masalahnya sama. Sudah puluhan tahun ya soal Nagrek, macet total, jalan rusak, tambal sulam tak karuan.

Siapa pun bupati, wali kota, gubernur, atau presiden, termasuk Jokowi, mustahil membereskan jalan raya di Pulau Jawa yang kelebihan beban. Kepemilikan kendaraan pribadi yang luar biasa, angkutan massal diabaikan, membuat situasi jadi runyam. Ini dimulai dengan banjir motor dan mobil buatan Jepang sejak 1970an.
Tanpa ada kebijakan yang pro transportasi massal sekaligus pembatasan kendaraan pribadi, jangan pernah bermimpi arus mudik di Jawa lancar jaya. Kereta api pun belum bisa jadi solusi karena kapasitas yang terbatas. Apalagi orang Indonesia, khususnya di Jawa, sudah termanja oleh kendaraan pribadi yang memang sangat fleksibel.

Mau belanja di Indomaret yang cuma 100 meter dari rumah saja orang Jawa tidak mau jalan kaki. Parkir mobil harus di depan ATM karena si pemilik mobil tidak mau jalan kaki 50an meter. Bahkan ada sistem drive thru sehingga si pengendara mobil tidak perlu turun kalau membeli ayam goreng di KFC dan sejenisnya. Perpanjang STNK pun sekarang cukup duduk manis di dalam mobil yang nyaman.

Maka, sembari membenahi jalan raya sepanjang seribu kilometer di Jawa, mengapa tidak dibiasakan mudik lewat laut? Bukankah kapal-kapal Pelni cukup banyak? Kapal-kapal TNI AL juga banyak yang nganggur. Kapal-kapal swasta lebih banyak lagi.

Pemudik dari Jakarta bisa turun di Semarang, Surabaya, dan Banyuwangi. Tiga pelabuhan besar ini sangat memadai untuk meng-cover pemudik tujuan Jateng dan Jatim. Bisa mengurangi kepadatan jalan raya Jakarta-Surabaya-Banyuwangi.

Persoalan selesai? Nanti dulu. Setelah turun di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, timbul masalah baru. Ke Madiun atau Nganjuk naik apa? Bus antarkota tentu saja. Tapi harus ke Terminal Bungurasih di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Repot lagi karena barang bawaan pemudik biasanya buanyaak buangettt.

Inilah peliknya transportasi kalau pelabuhan laut tidak punya koneksi langsung dengan terminal bus. Harusnya di Pelabuhan Tanjung Perak ada terminal bus antarkota yang bersih dan bagus ala negara maju. Juga sekaligus stasiun kereta api di dekat pelabuhan.

Nah, setelah tiba di Madiun atau Nganjuk, ada persoalan lagi. Naik apa ke desa? Biasanya tidak gampang mencari angkutan pedesaan. Apalagi untuk mengangkut barang-barang yang banyak dari Jakarta.

Karena itu, ide lama memanfaatkan kapal laut untuk mudik ternyata tidak mudah diwujudkan. Hanya cocok untuk pemudik yang kampung halamannya di kota-kota yang ada pelabuhannya macam Surabaya atau Semarang.

Selama layanan angkutan massal masih semrawut, belum tertata, ya, mudik dengan kendaraan pribadi tetap jadi pilihan sebagian besar masyarakat. Apalagi mobil pribadi bisa untuk silaturahmi dan ngelencer ke mana-mana selama liburan Lebaran. Sekaligus pamer kesuksesan selama bekerja di Jakarta.

No comments:

Post a Comment