25 July 2014

Mudik ala Jawa yang luar biasa

Lupakan politik, lupakan Prabowo, lupakan Jokowi. Saat ini saya lagi melihat arus mudik di Terminal Bungurasih. Ramai bukan main. Puncak mudik bisa dipastikan Jumat 25 Juli 2014.

Betapa antusiasnya orang Jawa yang bekerja di Surabaya, Sidoarjo, Malang dsb untuk mudik. Pulang kampung, berlebaran dengan keluarga di desa atau kota kecil. Berjumpa kerabat, kenalan, atau teman-teman sekolah semasa di kampung tempo dulu.

Begitu pentingnya mudik ini, sehingga jadwal kerja di kantor pun harus disesuaikan. Agar teman-teman yang rumahnya di Jawa Tengah atau Jawa Timur bagian barat kayak Trenggalek atau Nganjuk bisa mudik dengan asyik. Setidaknya masih sempat berpuasa dua tiga hari bersama keluarganya di kampung.

Mengapa harus mudik? Bukankah orang-orang itu sudah karatan di Surabaya? Tinggal dan bekerja 10 tahun, 20 tahun, bahkan punya anak cucu di Surabaya?

Yah, namanya juga tradisi turun-temurun. Kalau tidak dilaksanakan bisa kualat. Sulit membayangkan orang Jawa tidak mudik hari raya ke kampung orang tua atau leluhurnya.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya orang-orang Jawa yang memenuhi Kota Surabaya, Jakarta, dsb itu pada dasarnya orang kampung. Orang udik. Dan mereka tetap saja memelihara keudikan mereka dengan rutin mudik untuk Idul Fitri.

Secanggih-canggihnya di Surabaya, banyak plaza, mal, bioskop, dan segalanya, toh orang masih merasa perlu kembali ke desa. Napak tilas masa lalu di ladang jagung, bertemu teman lama yang kawin tiga kali, cerita tentang teman yang sudah meninggal, ngerasani guru-guru lawas dsb. Nostalgia itu menyenangkan.

Sayang, arus mudik ini kurang terasa di NTT, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Boro-boro mudik minimal setahun sekali, terlalu banyak orang NTT yang lupa kampung halamannya. Lupa pulang kampung setelah lama merantau di Malaysia atau Jawa.

Jangankan yang di Malaysia atau Jawa, orang-orang NTT yang tinggal di ibukota kabupaten biasanya merasa sebagai orang kota. Bukan lagi orang udik. Maka, buat apa kembali ke kampung yang tidak punya listrik? Yang sulit air? Yang kamar mandinya nggak bersih? Yang banyak gosip murahan? Yang ini yang itu?

Ah, memang lain padang lain belalangnya!

1 comment:

  1. Cina Jawa Amrik5:09 AM, July 25, 2014

    Jangan dikira orang Jawa saja. Orang Korea dan Tiongkok pun juga begitu, pada saat tahun baru Imlek ya pada mudik semua. Orang Amrik pun begitu, pada Hari Raya Thanksgiving, mereka pun berlomba-lomba pulang ke rumah orangtua mereka. Kalau tidak sempat, mereka akan menyempatkan pada Hari Natal. Itu sudah sifatnya manusia, Bung Lambertus.

    ReplyDelete