19 July 2014

Orang Tionghoa Lebih Konsisten Bekerja



Sudah lama Slamet Abdul Sjukur dirasani teman-temannya sesama wong Jowo karena dianggap terlalu dekat dengan orang Tionghoa. Hanya mengajar anak-anak Chinese saja. Seakan-akan lupa kulitnya sebagai wong Jowo yang dulu dididik di Taman Siswa, lembaga pendidikan yang sangat menekankan kejawaan.

Saya kebetulan sering bertemu Slamet, komponis, pianis, guru piano, budayawan, kolumnis dsb, yang baru genap 79 tahun itu. Kebetulan saya aktif mengikuti Pertemuan Musik Surabaya (PMS), forum musik bulanan yang didirikan dan diasuh Mas Slamet di Wisma Musik Melodia, Ngagel Jaya, Surabaya.

Benar memang, Mas Slamet (dia gak suka dipanggil pak atau eyang, meski usianya mau masuk 80) lebih banyak berkumpul dengan orang Tionghoa. Sebab hampir semua kursus atau sekolah musik klasik di Surabaya itu murid-muridnya memang Tionghoa.

Orang Jawa atau etnis pribumi lain ada tapi satu dua saja. Saya hanya menyimpan pertanyaan berbau SARA itu dalam hati karena gak enak. Memangnya kenapa kalau murid-muridnya Mas Slamet itu semuanya Tionghoa? Bukankah mereka membayar?

Akhirnya, ketemu juga jawaban Mas Slamet di biografi singkatnya. Bapaknya musik kontemporer ini mengatakan, "Murid saya 98% adalah orang Tionghoa, hanya satu murid saya yang orang  Jawa. Orang Tionghoa itu pada umumnya kaya sekali."

Masalah lain, kata Slamet, "Orang Jawa dan suku-suku lain di Indonesia tidak sanggup bekerja secara konsisten. Pernah ada lima pemain gitar yang berkeinginan studi komposisi pada saya. Karena mereka tidak punya uang, maka saya memberikan beasiswa, selama 2 sampai 3 bulan. Pada awalnya berjalan mulus."

"Kemudian tiba-tiba muncul aneka gangguan. Satu orang punya urusan ini, yang lain urusan itu, satu orang ada masalah ini, yang lain masalah itu dan sebagainya," katanya.

"Maka saya sangat senang mengajar orang Tionghoa karena mereka sangat materialistik. Mereka minta sesuatu yang konkret buat uangnya. Mereka ingin melihat terjadi sesuatu, dan kapan-kapan memang ada hasil-hasil yang amat memadai."

Wah, wah...

Begitu ternyata pengalaman Slamet Abdul Sjukur mendidik para pemusik di tanah air sejak 1970an. Suka tidak suka, harus diakui bahwa apresiasi orang Tionghoa terhadap musik klasik atau musik sekolahan yang dikembangkan Mas Slamet memang jauh lebih tinggi ketimbang kita yang pribumi. Dan itu berlaku sampai sekarang.

Saya sering mengajak beberapa kenalan yang bukan Tionghoa untuk menghadiri apresiasi musik yang dipandu Slamet Abdul Sjukur bernama PMS: Pertemuan Musik Surabaya. Harus bayar untuk konsumsi dan kas organisasi. Begitu tahu kalau harus bayar tiket, mereka tidak mau ikut. Bahkan kalau digratiskan pun belum tentu orang kita yang pribumi tertarik.

Karena itu, tidak heran nama Slamet Abdul Sjukur sangat terkenal di kalangan Tionghoa ketimbang pribumi. Orang Tionghoa sangat senang kalau anak-anaknya kursus piano, komposisi, orkestrasi, kontrapung dsb pada pria yang tetap segar di usia 79 itu.

Bagi orang Tionghoa, membayar ongkos untuk guru musik klasik sekaliber Slamet Abdul Sjukur, yang pernah tinggal dan berkarya selama 14 tahun di Prancis, tidak ada apa-apanya dibandingkan manfaat yang dipetik sang anak. Pendidikan musik sejak dini memang sejak dulu jadi investasi di kalangan Tionghoa.

Suatu ketika Slamet Abdul Sjukur bercerita kepada saya dengan nada guyon tapi serius. Dia mau bikin kor, paduan suara, yang semua penyanyinya bersuara sengau. Masuklah ia ke pasar dan kampung-kampung. Ada beberapa orang pribumi yang memenuhi kriteria sengau itu. Kemudian diajak latihan.

Ternyata paduan suara spesial itu tidak jalan karena penyanyi-penyanyinya, yang 100 persen pribumi,  sulit diajak latihan santai tapi serius. Guyonannya kebablasan, tak terarah. Satu per satu mrotol dan akhirnya buyar. Mas Slamet pun cuma tersenyum setiap kali menceritakan kembali pengalaman yang rada nyeleneh ini.

Aha, sekarang saya baru sadar bahwa orang-orang yang bukan Tionghoa itu, mengutip kata-kata Slamet Abdul Sjukur, "tidak sanggup bekerja secara konsisten."

Andai kata waktu itu Mas Slamet memburu tenglang-tenglang sengau di Kembang Jepun atau Pasar Atum mungkin paduan suara unik itu bisa bertahan lama.


~ kirim pake hp lawas ~

1 comment:

  1. orang tionghoa memang rela keluar duit banyak untuk kursus piano atau musik krn mereka tau betul manfaat musik bagi perkembangan anaknya. orang2 pribumi yg kaya juga sudah banyak kok yg serius menekuni musik sejak dini. cuma kebanyakan pribumi itu otodidak dalam bermusik, jarang yg ikut kursus atau sekolah musik yg serius.

    ReplyDelete