05 July 2014

Khawatir yang fitnah yang menang

Masa kampanye pemilihan presiden (pilpres) 2014 berakhir hari ini. Di masyarakat tidak ada kegiatan kampanye yang menonjol kayak pemilu legislatif tiga bulan lalu. Bahkan, Gelora Delta Sidoarjo yang sejak dulu jadi tempat kampanye favorit di Jawa Timur pun sepi jali.

Pun jarang terlihat relawan atau tim sukses dari rumah ke rumah untuk bagi-bagi stiker, brosur, bingkisan, dan sebagainya. Rupanya kampanye pilpres kali ini lebih fokus di pohon, baliho, dan spanduk. Itu pun dilakukan beberapa penyandang dana yang mendukung calon tertentu.

Yang merisaukan justru propaganda fitnah berupa tabloid Obor Rakyat. Dan sudah pasti adu dukungan dan perang di media sosial selama 24 jam. Capres Joko Widodo alias Jokowi bukan saja diberitakan negatif, tapi juga difitnah dengan berbagai tuduhan bernuansa SARA. Padahal, katanya fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, bukan?

Jokowi diberitakan sebagai orang Tionghoa yang bukan Islam dan bukan haji. H di depan namanya diplesetkan sebagai Heribertus, nama permandian khas Katolik. Padahal, H itu jelas haji.

Tim sukses Jokowi-JK pun tersita energinya untuk meng-counter disinformasi dan kampanye fitnah ini. Para ulama atau kiai yang pro Jokowi macam KH Hasyim Muzadi hampir setiap hari mengklarifikasi isi Obor Rakyat kepada jamaah muslim, khususnya nahdliyin, yang beliau temui.

Belum selesai Obor Rakyat, terbit lagi tabloid lain di Surabaya yang isinya sama-sama pamflet propaganda. Tema revolusi mental yang disuarakan Jokowi dituduh sebagai cara-cara PKI. Wow, opo maneh iku!

Belum selesai. Di tvOne ada berita yang mengaitkan PDI Perjuangan dan Jokowi dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Tuduhan yang naif dari media televisi berita yang biasanya analitis dan kritis. Kita yang bukan orang PDIP sih geleng-geleng kepala dan tertawa saja mendengar informasi banal ala tvOne.

Tapi bagaimana massa PDI Perjuangan dan Jokowi-JK? Rupanya propaganda fitnah sudah masuk dalam kebijakan editorial media massa arus utama kita. Bukan lagi selebaran picisan ala Obor Rakyat.

Siapa pun tahu Tiongkok sejak 1 Oktober 1949 hanya mengenal satu partai saja. Ya, Partai Komunis Tiongkok alias Kung Chan Tang itu. Saingannya Kuo Min Tang di Taiwan. Karena itu, semua pejabat di Tiongkok dari tingkat paling rendah hingga paling tinggi atau presiden pastilah aktivis atau pengurus PKT.

Presiden Xi Jinping jelas pentolan utama PKT. Presiden sebelumnya, Hu Jintao, juga begitu. Duta besar dan konsul-konsul di seluruh dunia juga kaki tangan PKT sebagai partai tunggal di negara tirai bambu itu. Maka, ketika saat ini Indonesia punya hubungan baik dengan Tiongkok otomatis pejabat-pejabat kita bertemu dan menjalin kerja sama dengan pejabat-pejabat Tiongkok.

Lha, kalau pejabat Indonesia, yang kebetulan dari PDIP, bertemu petinggi Tiongkok, apakah lantas disebut partai itu punya kaitan dengan Partai Komunis Tiongkok? Dan kayaknya tidak hanya PDIP, hampir semua pemimpin partai besar di Indonesia pernah bertemu dengan pejabat-pejabat PKT. Bisa disimpulkan membangun aliansi dengan komunis di Tiongkok?

Aneh memang logika yang dibangun dalam berita atau lebih tepat propaganda untuk menghancurkan reputasi capres Jokowi. Juga PDIP sebagai pemenang pemilu di Indonesia yang mengusung Jokowi-JK.

Saya cuma khawatir aja yang getol kampanye fitnah, bikin propaganda hitam, itu malah justru menang dalam pilpres 9 Juli 2014. Bisa-bisa pola kampanye yang ngawur-ngawuran, eksploitasi SARA, agitasi propaganda jahat, jadi pola dalam kampanye pilkada atau pilpres selanjutnya.

Itu artinya demokrasi dibajak oleh orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk menang.

No comments:

Post a Comment