09 July 2014

Kaset masih ada di Plaza Surabaya

Sambil menunggu kenalan di kedai kopi Excelso, Plaza Surabaya, siang tadi, 8 Juli 2014, saya mampir ke konter musik. Dekat banget dengan Excelso. Dulu saya sering membeli kaset, dan belakangan CD, ketika masih sangat gila musik.

Sudah lama sekali saya tidak mampir. Saya kira sudah tutup seperti Aquarius, toko kaset dan CD, yang dulu paling ramai di Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Maklum, digitalisasi musik, online, Youtube, sudah lama membuat industri musik terpukul. Banyak produser yang stres.

Kaset yang pakai pita itu saya kira sudah kedaluwarsa. Alias tidak dijual lagi di toko. Eh, ternyata saya keliru. Di dekat kafe Excelso ini kaset-kaset ternyata masih banyak. Memang tidak sebanyak CD/ VCD dan sejenisnya. Tapi terbentang cukup panjang.

"Kaset-kaset itu punya penggemar tersendiri," kata penjaga toko yang ramah. "Tapi memang tidak sebanyak CD," begitu mbak yang murah senyum itu menambahkan.

Kalau saya perhatikan kaset-kaset yang dijual di toko ini sebagian besar kaset lawas. Jenisnya macam-macam, mulai pop manis ala Dian Piesesha, band-band rock-nya Log Zhelebour, hingga dangdut dan kasidah.

Ada kaset baru? "Ada," jawab si mbak ini.

Saya pikir-pikir kaset-kaset yang dijajakan di pusat belanja di samping Kalimas ini lebih sebagai barang cuci gudang. Sekaligus untuk koleksi penggemar musik. Sebab, masa bakti kaset di industri musik memang sudah selesai seiring masifnya digitalisasi rekaman di seluruh dunia.

Mungkin 10 atau 20 tahun lagi kaset-kaset itu akan menjadi barang antik yang diburu para kolektor. Sama dengan piringan hitam yang sekarang sudah tak lagi dikenal masyarakat.

Saya sendiri sudah lama tidak memutar kaset karena tape-nya rusak berat. Kasihan pitanya mbulet dan putus kalau dipaksakan. Saya malah lebih sering mendengarkan musik dari komputer atau laptop yang sudah disimpan dalam file mp3.

Kalau disimak sungguh-sungguh, musik yang dihasilkan kaset terasa berbeda dengan CD/VCD. Apalagi kaset-kaset super lawas yang proses rekamannya benar-benar analog.

Yah, semuanya kembali ke selera juga. Samalah dengan orang-orang lama yang memuji kualitas sound LP atau piringan hitam setinggi langit.
胡rek泗水

No comments:

Post a Comment