15 July 2014

Jerman Mandul, Argentina Tumpul

Begitu banyak puja-puji untuk Jerman yang memenangi Piala Dunia 2014 di Brasil. Pujian itu mengalir deras sejak Philip Lahm dkk mempermalukan tuan rumah dengan skor 7-1. Tapi benarkah tim nasional Jerman segemilang itu?

Lihatlah partai final lawan Argentina kemarin. Hingga 90 menit kedudukan masih 0-0. Sangat membosankan! Sering saya bilang menonton bola selama 90 menit tanpa gol  itu sangat menderita. Apalagi 120 menit.

Selama waktu normal, Jerman ternyata kesulitan membobol gawang Argentina. Di babak final ini permainan Argentina sangat efektif meredam Jerman meski kehilangan ketajaman di depan gawang. Kelihatan sekali kalau Jerman mustahil mengulang pesta 7 gol ke gawang tango dan sepertinya kehilangan ide.

Justru Argentina punya 3 peluang emas, setidaknya dua, yang seharusnya jadi gol. Higuain tinggal berhadapan dengan kiper tapi sepakannya melenceng. Padahal, pemain Napoli ini tidak dikawal pemain lawan. Kelihatan sekali kalau kualitas Higuan ini medioker alias di bawah standar striker kelas dunia.

Sebagai pemain Amerika Latin, Higuan seharusnya menggoreng bola, meliuk-liuk, kemudian memperdayai kiper. Teknik lama ala Maradona, Romario, Valdano, Bebeto, dan nama-nama besar lawas itu tidak dilakukan si Higuan. Ya jelas saja tidak akan masuk.

Sebagai pendukung Argentina, malam itu, saya jengkel bukan main dengan Higuain yang menyia-nyiakan peluang emas. Bahkan lebih dari emas. Argentina pasti kalah kalau Higuain masih dipertahankan, kata saya dalam hati.

Higuain akhirnya diganti oleh Palaccio. Orangnya masih sangat muda, tapi sudah botak, segar, dan semangat. Tadinya saya mengira dia bisa memanfaatkan peluang emas yang tidak bisa dilakukan Higuain.

Peluang emas itu akhirnya tiba di kaki Palaccio. Lolos dari hadangan lawan, si botak pun tinggal berhadapan dengan kiper Neuer. Hasilnya sama saja: mengecewakan! Sontekannya melenceng di luar gawang. Padahal posisi Neuer sudah salah.

Begitu masuk perpanjangan waktu, final Piala Dunia sudah selesai. Argentina kalah fisik karena sebelumnya sudah terkuras 120 menit di semifinal plus adu penalti. Pemain-pemain Jerman punya waktu istirahat satu hari lebih lama. Betapa susahnya Messi dkk merobek tembok Berlin dengan stamina yang melorot.

Maka, gol kemenangan Goetze sebetulnya tinggal menunggu waktu saja. Kok bukan 3-0 atau 4-0? Buat apa banyak gol kalau satu gol saja sudah juara dunia?

Kesimpulannya, final Piala Dunia 2014 ini tidak sedahsyat final 24 tahun lalu juga Jerman vs Argentina. Kita bisa saksikan rekamannya di youtube. Di era keemasan Maradona itu skornya 3-2 untuk Argentina.
Waktu itu Jerman Barat memang kalah tapi permainannya luar biasa. Maradona yang jenius didampingi pemain-pemain kelas dunia macam Valdano, Brown, Burruchaga, atau Rugeri berhasil memukau dunia. Jerman Barat pun tak kalah ganasnya. Tak kenal lelah, tak kenal menyerah.

Jerman 2014, sang juara dunia, ternyata bukan tim yang sangat super. Tim yang tidak mampu mengalahkan Amerika Serikat dan Argentina selama 90 menit.

Oh ya, saya sebetulnya sudah lama mengkritik tambahan waktu atau extra time 30 menit. Terlalu lama. Waktu normal 90 menit itu pun sudah sangat lama. Bandingkan dengan cabang olahraga lain seperti basket atau voli. Apalagi atletik atau anggar.

Kalau sudah 90 menit skor masih sama, ya, distop. Langsung adu penalti saja. Tapi, pada menit ke-75 wasit harus mengingatkan kedua tim bahwa waktunya tinggal 15 menit. Segeralah bikin gol. Kalau tidak, silakan main judi lewat adu penalti.

Akan lebih bagus lagi kalau sepak bola itu dibuat 4 game. Cukup 4 x 20 menit. Bukan 2 x 45 menit kayak sekarang. Dengan begitu, pelatih dan pemain bisa membahas taktik, istirahat, dan melakukan evaluasi.

胡rek泗水

No comments:

Post a Comment