28 July 2014

Hikmah Lebaran: Surabaya bebas macet

Betapa menyenangkan melintasi jalan-jalan utama di Kota Surabaya sehari jelang Lebaran, Minggu 27 Juli 2014. Benar-benar lancar jaya. Tidak ada yang namanya bottle neck atau kemacetan seperti yang selama ini kita rasakan.

Mudiknya begitu banyak warga tidak berarti membuat jalanan di Surabaya lengang. Tetap ramai. Masih banyak mobil, angkutan kota, dan kendaraan pribadi yang lalu lalang. Tapi, karena jumlahnya pas, tidak ekstrem banyak, maka berkendara menjadi sangat menyenangkan.

Ambil contoh titik yang biasanya paling macet di Bundaran Waru hingga Jalan Ahmad Yani sampai jalan layang Wonokromo. Di luar musim mudik Idulfitri, jalan raya yang panjangnya hanya satu kilometer lebih itu bisa makan waktu 30-50 menit dengan kendaraan bermotor. Apalagi pagi hari jam orang berangkat kerja.

Kemarin, saat saya survei, waktu tempuh tak sampai 5 menit. Banyak mobil bisa melaju hingga 80 km/jam saking longgarnya. Kalau hari biasa sih melaju dengan 10 km/jam saja susahnya minta ampun.

Ruas jalan Bundaran Waru ke Jembatan Porong juga lancar jaya. Bundaran Waru menuju Krian pun mulus. Kita bisa menikmati jalan raya yang benar-benar manusiawi. Tidak kosong tapi tidak penuh sesak.

Inilah hikmah Lebaran terbesar di Surabaya dan Sidoarjo. Kita jadi tahu bahwa daya dukung jalan raya itu ya cuma segitu. Minggu depan jalan raya akan kembali overload seperti biasa. Dan stres lagi seperti biasa.

Selamat Idulfitri. Maaf lahir dan batin!

No comments:

Post a Comment