28 July 2014

Hikmah Lebaran: Surabaya bebas macet

Betapa menyenangkan melintasi jalan-jalan utama di Kota Surabaya sehari jelang Lebaran, Minggu 27 Juli 2014. Benar-benar lancar jaya. Tidak ada yang namanya bottle neck atau kemacetan seperti yang selama ini kita rasakan.

Mudiknya begitu banyak warga tidak berarti membuat jalanan di Surabaya lengang. Tetap ramai. Masih banyak mobil, angkutan kota, dan kendaraan pribadi yang lalu lalang. Tapi, karena jumlahnya pas, tidak ekstrem banyak, maka berkendara menjadi sangat menyenangkan.

Ambil contoh titik yang biasanya paling macet di Bundaran Waru hingga Jalan Ahmad Yani sampai jalan layang Wonokromo. Di luar musim mudik Idulfitri, jalan raya yang panjangnya hanya satu kilometer lebih itu bisa makan waktu 30-50 menit dengan kendaraan bermotor. Apalagi pagi hari jam orang berangkat kerja.

Kemarin, saat saya survei, waktu tempuh tak sampai 5 menit. Banyak mobil bisa melaju hingga 80 km/jam saking longgarnya. Kalau hari biasa sih melaju dengan 10 km/jam saja susahnya minta ampun.

Ruas jalan Bundaran Waru ke Jembatan Porong juga lancar jaya. Bundaran Waru menuju Krian pun mulus. Kita bisa menikmati jalan raya yang benar-benar manusiawi. Tidak kosong tapi tidak penuh sesak.

Inilah hikmah Lebaran terbesar di Surabaya dan Sidoarjo. Kita jadi tahu bahwa daya dukung jalan raya itu ya cuma segitu. Minggu depan jalan raya akan kembali overload seperti biasa. Dan stres lagi seperti biasa.

Selamat Idulfitri. Maaf lahir dan batin!

25 July 2014

Mudik laut bisa jadi alternatif

Koran-koran hari ini membahas masalah jalan raya di Jawa yang sempit, padat, penuh, saat arus mudik Lebaran. Juga jembatan di Comal dan Ciamis yang rusak. Juga banyak titik rawan yang sama dari tahun ke tahun.

Membaca koran jelang Idulfitri dan melihat liputan di televisi rasanya sangat membosankan. Sebab tiap tahun masalahnya sama. Sudah puluhan tahun ya soal Nagrek, macet total, jalan rusak, tambal sulam tak karuan.

Siapa pun bupati, wali kota, gubernur, atau presiden, termasuk Jokowi, mustahil membereskan jalan raya di Pulau Jawa yang kelebihan beban. Kepemilikan kendaraan pribadi yang luar biasa, angkutan massal diabaikan, membuat situasi jadi runyam. Ini dimulai dengan banjir motor dan mobil buatan Jepang sejak 1970an.
Tanpa ada kebijakan yang pro transportasi massal sekaligus pembatasan kendaraan pribadi, jangan pernah bermimpi arus mudik di Jawa lancar jaya. Kereta api pun belum bisa jadi solusi karena kapasitas yang terbatas. Apalagi orang Indonesia, khususnya di Jawa, sudah termanja oleh kendaraan pribadi yang memang sangat fleksibel.

Mau belanja di Indomaret yang cuma 100 meter dari rumah saja orang Jawa tidak mau jalan kaki. Parkir mobil harus di depan ATM karena si pemilik mobil tidak mau jalan kaki 50an meter. Bahkan ada sistem drive thru sehingga si pengendara mobil tidak perlu turun kalau membeli ayam goreng di KFC dan sejenisnya. Perpanjang STNK pun sekarang cukup duduk manis di dalam mobil yang nyaman.

Maka, sembari membenahi jalan raya sepanjang seribu kilometer di Jawa, mengapa tidak dibiasakan mudik lewat laut? Bukankah kapal-kapal Pelni cukup banyak? Kapal-kapal TNI AL juga banyak yang nganggur. Kapal-kapal swasta lebih banyak lagi.

Pemudik dari Jakarta bisa turun di Semarang, Surabaya, dan Banyuwangi. Tiga pelabuhan besar ini sangat memadai untuk meng-cover pemudik tujuan Jateng dan Jatim. Bisa mengurangi kepadatan jalan raya Jakarta-Surabaya-Banyuwangi.

Persoalan selesai? Nanti dulu. Setelah turun di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, timbul masalah baru. Ke Madiun atau Nganjuk naik apa? Bus antarkota tentu saja. Tapi harus ke Terminal Bungurasih di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Repot lagi karena barang bawaan pemudik biasanya buanyaak buangettt.

Inilah peliknya transportasi kalau pelabuhan laut tidak punya koneksi langsung dengan terminal bus. Harusnya di Pelabuhan Tanjung Perak ada terminal bus antarkota yang bersih dan bagus ala negara maju. Juga sekaligus stasiun kereta api di dekat pelabuhan.

Nah, setelah tiba di Madiun atau Nganjuk, ada persoalan lagi. Naik apa ke desa? Biasanya tidak gampang mencari angkutan pedesaan. Apalagi untuk mengangkut barang-barang yang banyak dari Jakarta.

Karena itu, ide lama memanfaatkan kapal laut untuk mudik ternyata tidak mudah diwujudkan. Hanya cocok untuk pemudik yang kampung halamannya di kota-kota yang ada pelabuhannya macam Surabaya atau Semarang.

Selama layanan angkutan massal masih semrawut, belum tertata, ya, mudik dengan kendaraan pribadi tetap jadi pilihan sebagian besar masyarakat. Apalagi mobil pribadi bisa untuk silaturahmi dan ngelencer ke mana-mana selama liburan Lebaran. Sekaligus pamer kesuksesan selama bekerja di Jakarta.

Mudik ala Jawa yang luar biasa

Lupakan politik, lupakan Prabowo, lupakan Jokowi. Saat ini saya lagi melihat arus mudik di Terminal Bungurasih. Ramai bukan main. Puncak mudik bisa dipastikan Jumat 25 Juli 2014.

Betapa antusiasnya orang Jawa yang bekerja di Surabaya, Sidoarjo, Malang dsb untuk mudik. Pulang kampung, berlebaran dengan keluarga di desa atau kota kecil. Berjumpa kerabat, kenalan, atau teman-teman sekolah semasa di kampung tempo dulu.

Begitu pentingnya mudik ini, sehingga jadwal kerja di kantor pun harus disesuaikan. Agar teman-teman yang rumahnya di Jawa Tengah atau Jawa Timur bagian barat kayak Trenggalek atau Nganjuk bisa mudik dengan asyik. Setidaknya masih sempat berpuasa dua tiga hari bersama keluarganya di kampung.

Mengapa harus mudik? Bukankah orang-orang itu sudah karatan di Surabaya? Tinggal dan bekerja 10 tahun, 20 tahun, bahkan punya anak cucu di Surabaya?

Yah, namanya juga tradisi turun-temurun. Kalau tidak dilaksanakan bisa kualat. Sulit membayangkan orang Jawa tidak mudik hari raya ke kampung orang tua atau leluhurnya.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya orang-orang Jawa yang memenuhi Kota Surabaya, Jakarta, dsb itu pada dasarnya orang kampung. Orang udik. Dan mereka tetap saja memelihara keudikan mereka dengan rutin mudik untuk Idul Fitri.

Secanggih-canggihnya di Surabaya, banyak plaza, mal, bioskop, dan segalanya, toh orang masih merasa perlu kembali ke desa. Napak tilas masa lalu di ladang jagung, bertemu teman lama yang kawin tiga kali, cerita tentang teman yang sudah meninggal, ngerasani guru-guru lawas dsb. Nostalgia itu menyenangkan.

Sayang, arus mudik ini kurang terasa di NTT, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Boro-boro mudik minimal setahun sekali, terlalu banyak orang NTT yang lupa kampung halamannya. Lupa pulang kampung setelah lama merantau di Malaysia atau Jawa.

Jangankan yang di Malaysia atau Jawa, orang-orang NTT yang tinggal di ibukota kabupaten biasanya merasa sebagai orang kota. Bukan lagi orang udik. Maka, buat apa kembali ke kampung yang tidak punya listrik? Yang sulit air? Yang kamar mandinya nggak bersih? Yang banyak gosip murahan? Yang ini yang itu?

Ah, memang lain padang lain belalangnya!

22 July 2014

Saatnya Prabowo ikhlas dan legawa

Raden Mas Prabowo numpak jaran (potone teko internet baranews).


Terlalu lama rakyat dibuat tegang oleh manuver politisi usai pencoblosan 9 Juli 2014. Elite politik, khususnya Prabowo Subianto dan orang-orang dekatnya, kurang legawa untuk mengakui kemenangan lawan meskipun datanya sudah jelas.

Kalau di negara-negara lain yang sudah maju demokrasinya, paling lama dua hari setelah pencoblosan sudah ada ucapan selamat dari calon yang kalah. Salaman, ngopi, makan bersama, dan memberikan dukungan kepada sang pemenang. Namanya kompetisi ya pasti ada yang kalah alias kurang suara, begitu istilah Megawati Soekarnoputri.

Yang kurang suara atau kalah suara itu ya harus tahu diri. Cepat-cepat ucapkan selamat karena data perolehan suara tidak mungkin diubah. Kecuali oleh lembaga-lembaga survei dan penyelenggara quick count abal-abal itu.

Sayang sekali, suasana kompetisi yang sportif, fair play, ala Piala Dunia di Brasil itu tidak terlihat. Dan itu sejak beberapa jam usai pemungutan suara. Mengandalkan quick count yang kredibilitasnya diragukan, yang ditopang banyak televisi milik tim sukses, hasil pilpres versi quick count beneran tidak diakui. Malah mengklaim sama-sama menang!

Mana ada pertandingan bola yang sama-sama menang? Kalau seri ya harus adu penalti. Harus mengakui kemenangan lawan meskipun kalah sangat-sangat tipis.

Sayang sekali, di Indonesia kali ini sikap legawa itu tidak muncul. Prabowo pantang menyerah, tetap merasa menang. Dia malah menuduh 8 lembaga quick count yang hasilnya memenangkan Jokowi sebagai lembaga komersial yang tidak bisa dipercaya. Quick count yang dipecaya ya 4 lembaga yang memenangkan dirinya.

Satu minggu berlalu. Hasil pilpres yang asli alias real count sudah sangat jelas. Bahwa Prabowo kalah suara sama Jokowi. Beda suaranya jutaan, bukan ratusan ribu. Tapi tetap saja Prabowo masih merasa menang. Malah dia dan timnya merasa dicurangi. Sehingga minta pilpres diulang di beberapa tempat.

Senin, 21 Juli 2014, sehari sebelum pengumuman resmi dari KPU pun Prabowo masih merasa belum kalah juga. Kalimat-kalimatnya yang kita baca di media online memperlihatkan bahwa capres nomor 1 ini tidak ikhlas kalau Jokowi yang menang. Padahal, rekapitulasi suara tingkat nasional sudah mendekati final. Dan sudah sangat jelas kalau Jokowi yang unggul.

Lantas, kapan Prabowo merasa legawa, berbesar hati, mengakui keunggulan lawan?

Yah, mudah-mudahan setelah pengumuman resmi dari KPU, bekas danjen Kopassus ini mau menelepon Jokowi untuk mengucapkan selamat atas kemenangan capres nomor 2!

Inilah yang ditunggu-tunggu rakyat yang sudah lelah dengan kampanye hitam sejak Mei, Juni, dan awal Juli sebelum coblosan. Rakyat Indonesia, kecuali Prabowo dan elite-elite politik pendukungnya, sudah capek dengan ketegangan politik yang sudah terlalu lama sejak pemilu legislatif 9 April 2014.

Apakah hasil pilpres yang nanti diumumkan KPU bakal digugat ke Mahkamah Konstitusi? Melihat sikap dan bahasa tubuh Prabowo, kemungkinan besar akan dibawa ke MK. Artinya, kita, rakyat biasa, harus siap-siap menyaksikan akrobat politik Prabowo dan timnya hingga satu atau dua bulan ke depan.

Yah, mudah-mudahan di bulan puasa ini, yang sudah masuk dekad kedua alias likuran, Pak Prabowo mendapat pencerahan agar bisa memberikan kesejukan kepada bangsa Indonesia. Dengan tidak menggugat hasil pilpres yang ditetapkan KPU.

Yang justru harus digugat adalah 4 lembaga survei karena membuat quick count dengan metodologi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salam damai!


~ kirim pake hp lawas ~

19 July 2014

Orang Tionghoa Lebih Konsisten Bekerja



Sudah lama Slamet Abdul Sjukur dirasani teman-temannya sesama wong Jowo karena dianggap terlalu dekat dengan orang Tionghoa. Hanya mengajar anak-anak Chinese saja. Seakan-akan lupa kulitnya sebagai wong Jowo yang dulu dididik di Taman Siswa, lembaga pendidikan yang sangat menekankan kejawaan.

Saya kebetulan sering bertemu Slamet, komponis, pianis, guru piano, budayawan, kolumnis dsb, yang baru genap 79 tahun itu. Kebetulan saya aktif mengikuti Pertemuan Musik Surabaya (PMS), forum musik bulanan yang didirikan dan diasuh Mas Slamet di Wisma Musik Melodia, Ngagel Jaya, Surabaya.

Benar memang, Mas Slamet (dia gak suka dipanggil pak atau eyang, meski usianya mau masuk 80) lebih banyak berkumpul dengan orang Tionghoa. Sebab hampir semua kursus atau sekolah musik klasik di Surabaya itu murid-muridnya memang Tionghoa.

Orang Jawa atau etnis pribumi lain ada tapi satu dua saja. Saya hanya menyimpan pertanyaan berbau SARA itu dalam hati karena gak enak. Memangnya kenapa kalau murid-muridnya Mas Slamet itu semuanya Tionghoa? Bukankah mereka membayar?

Akhirnya, ketemu juga jawaban Mas Slamet di biografi singkatnya. Bapaknya musik kontemporer ini mengatakan, "Murid saya 98% adalah orang Tionghoa, hanya satu murid saya yang orang  Jawa. Orang Tionghoa itu pada umumnya kaya sekali."

Masalah lain, kata Slamet, "Orang Jawa dan suku-suku lain di Indonesia tidak sanggup bekerja secara konsisten. Pernah ada lima pemain gitar yang berkeinginan studi komposisi pada saya. Karena mereka tidak punya uang, maka saya memberikan beasiswa, selama 2 sampai 3 bulan. Pada awalnya berjalan mulus."

"Kemudian tiba-tiba muncul aneka gangguan. Satu orang punya urusan ini, yang lain urusan itu, satu orang ada masalah ini, yang lain masalah itu dan sebagainya," katanya.

"Maka saya sangat senang mengajar orang Tionghoa karena mereka sangat materialistik. Mereka minta sesuatu yang konkret buat uangnya. Mereka ingin melihat terjadi sesuatu, dan kapan-kapan memang ada hasil-hasil yang amat memadai."

Wah, wah...

Begitu ternyata pengalaman Slamet Abdul Sjukur mendidik para pemusik di tanah air sejak 1970an. Suka tidak suka, harus diakui bahwa apresiasi orang Tionghoa terhadap musik klasik atau musik sekolahan yang dikembangkan Mas Slamet memang jauh lebih tinggi ketimbang kita yang pribumi. Dan itu berlaku sampai sekarang.

Saya sering mengajak beberapa kenalan yang bukan Tionghoa untuk menghadiri apresiasi musik yang dipandu Slamet Abdul Sjukur bernama PMS: Pertemuan Musik Surabaya. Harus bayar untuk konsumsi dan kas organisasi. Begitu tahu kalau harus bayar tiket, mereka tidak mau ikut. Bahkan kalau digratiskan pun belum tentu orang kita yang pribumi tertarik.

Karena itu, tidak heran nama Slamet Abdul Sjukur sangat terkenal di kalangan Tionghoa ketimbang pribumi. Orang Tionghoa sangat senang kalau anak-anaknya kursus piano, komposisi, orkestrasi, kontrapung dsb pada pria yang tetap segar di usia 79 itu.

Bagi orang Tionghoa, membayar ongkos untuk guru musik klasik sekaliber Slamet Abdul Sjukur, yang pernah tinggal dan berkarya selama 14 tahun di Prancis, tidak ada apa-apanya dibandingkan manfaat yang dipetik sang anak. Pendidikan musik sejak dini memang sejak dulu jadi investasi di kalangan Tionghoa.

Suatu ketika Slamet Abdul Sjukur bercerita kepada saya dengan nada guyon tapi serius. Dia mau bikin kor, paduan suara, yang semua penyanyinya bersuara sengau. Masuklah ia ke pasar dan kampung-kampung. Ada beberapa orang pribumi yang memenuhi kriteria sengau itu. Kemudian diajak latihan.

Ternyata paduan suara spesial itu tidak jalan karena penyanyi-penyanyinya, yang 100 persen pribumi,  sulit diajak latihan santai tapi serius. Guyonannya kebablasan, tak terarah. Satu per satu mrotol dan akhirnya buyar. Mas Slamet pun cuma tersenyum setiap kali menceritakan kembali pengalaman yang rada nyeleneh ini.

Aha, sekarang saya baru sadar bahwa orang-orang yang bukan Tionghoa itu, mengutip kata-kata Slamet Abdul Sjukur, "tidak sanggup bekerja secara konsisten."

Andai kata waktu itu Mas Slamet memburu tenglang-tenglang sengau di Kembang Jepun atau Pasar Atum mungkin paduan suara unik itu bisa bertahan lama.


~ kirim pake hp lawas ~

Surabaya-Sidoarjo tambah macet

Lalu lintas dari Surabaya ke Sidoarjo dari dulu sudah sangat padat. Ini karena lebar jalannya masih sama dengan tempo doeloe, sementara mobil dan motor terus bertambah. Pembuatan jalan baru atau frontage road masih lama.

Akhir-akhir ini saya merasakan kemacetan yang makin parah. Bahkan, saat libur, akhir pekan pun lalu lintas tidak lancar. Kemacetan makin parah kalau ada truk atau kendaraan berat yang mogok. Atau pas banjir yang membuat jalan tergenang.

Kemarin (17 Juli 2014), kemacetan Surabaya-Sidoarjo mencapai titik paling ekstrem. Gara-gara tabrakan antara kereta api dan truk pengangkut crane di Banjarkemantren, Buduran, yang menewaskan masinis dan seorang pengendara sepeda motor. Macet pagi itu benar-benar parah.

Bayangkan, jarak yang hanya 500 meter butuh waktu sekitar 70 menit. Kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali. Banyak warga yang stres, kemudian menggeber gas atau membunyikan klakson berkali-kali. Toh tetap saja macet karena petugas masih sibuk mengeluarkan kendaraan yang penyok di belokan ke arah lingkar timur.

Di tengah jebakan macet cet-cet itu, saya pun merenung. Mencoba mengambil hikmah. Bahwa cepat atau lambat, bisa 10 atau 15 tahun lagi, Surabaya dan Sidoarjo akan macet ekstrem seperti ini. Jakarta sudah lama mengalaminya. Jutaan liter BBM terbuang sia-sia karena kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali.

Pemkot Surabaya dan Pemkot Sidoarjo harus duduk bersama membahas masalah jangka panjang yang sangat urgen ini. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri seperti sekarang. Lihat saja, ketika frontage road Surabaya dari Jemursari ke bundaran Waru sudah dipergunakan, frontage road di wilayah Sidoarjo belum jadi. Bahkan masih dalam tahap pembebasan tanah.

Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan atau bottle neck di dekat pabrik paku, Kedungrejo, Waru, samping Terminal Bungurasih. Jalanan di wilayah Sidoarjo, khususnya Kecamatan Gedangan, begitu penuh karena ada 5 titik macet sekaligus.

Jalan-jalan di Surabaya malah jauh lebih lancar ketimbang Sidoarjo. Kecuali dari perbatasan Sidoarjo-Surabaya di bundaran Waru hingga Jalan Ahmad Yani. Jalan-jalan lain di Surabaya lantjar djaja.

Kelihatan Sidoarjo kurang mengantisipasi ledakan penduduk dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang luar biasa pesat. Sidoarjo perlu studi banding ke tetangga terdekatnya: Surabaya. Tidak perlu jauh-jauh ke Singapura, Eropa, atau Tiongkok.

~ kirim pake hp lawas ~

15 July 2014

Jerman Mandul, Argentina Tumpul

Begitu banyak puja-puji untuk Jerman yang memenangi Piala Dunia 2014 di Brasil. Pujian itu mengalir deras sejak Philip Lahm dkk mempermalukan tuan rumah dengan skor 7-1. Tapi benarkah tim nasional Jerman segemilang itu?

Lihatlah partai final lawan Argentina kemarin. Hingga 90 menit kedudukan masih 0-0. Sangat membosankan! Sering saya bilang menonton bola selama 90 menit tanpa gol  itu sangat menderita. Apalagi 120 menit.

Selama waktu normal, Jerman ternyata kesulitan membobol gawang Argentina. Di babak final ini permainan Argentina sangat efektif meredam Jerman meski kehilangan ketajaman di depan gawang. Kelihatan sekali kalau Jerman mustahil mengulang pesta 7 gol ke gawang tango dan sepertinya kehilangan ide.

Justru Argentina punya 3 peluang emas, setidaknya dua, yang seharusnya jadi gol. Higuain tinggal berhadapan dengan kiper tapi sepakannya melenceng. Padahal, pemain Napoli ini tidak dikawal pemain lawan. Kelihatan sekali kalau kualitas Higuan ini medioker alias di bawah standar striker kelas dunia.

Sebagai pemain Amerika Latin, Higuan seharusnya menggoreng bola, meliuk-liuk, kemudian memperdayai kiper. Teknik lama ala Maradona, Romario, Valdano, Bebeto, dan nama-nama besar lawas itu tidak dilakukan si Higuan. Ya jelas saja tidak akan masuk.

Sebagai pendukung Argentina, malam itu, saya jengkel bukan main dengan Higuain yang menyia-nyiakan peluang emas. Bahkan lebih dari emas. Argentina pasti kalah kalau Higuain masih dipertahankan, kata saya dalam hati.

Higuain akhirnya diganti oleh Palaccio. Orangnya masih sangat muda, tapi sudah botak, segar, dan semangat. Tadinya saya mengira dia bisa memanfaatkan peluang emas yang tidak bisa dilakukan Higuain.

Peluang emas itu akhirnya tiba di kaki Palaccio. Lolos dari hadangan lawan, si botak pun tinggal berhadapan dengan kiper Neuer. Hasilnya sama saja: mengecewakan! Sontekannya melenceng di luar gawang. Padahal posisi Neuer sudah salah.

Begitu masuk perpanjangan waktu, final Piala Dunia sudah selesai. Argentina kalah fisik karena sebelumnya sudah terkuras 120 menit di semifinal plus adu penalti. Pemain-pemain Jerman punya waktu istirahat satu hari lebih lama. Betapa susahnya Messi dkk merobek tembok Berlin dengan stamina yang melorot.

Maka, gol kemenangan Goetze sebetulnya tinggal menunggu waktu saja. Kok bukan 3-0 atau 4-0? Buat apa banyak gol kalau satu gol saja sudah juara dunia?

Kesimpulannya, final Piala Dunia 2014 ini tidak sedahsyat final 24 tahun lalu juga Jerman vs Argentina. Kita bisa saksikan rekamannya di youtube. Di era keemasan Maradona itu skornya 3-2 untuk Argentina.
Waktu itu Jerman Barat memang kalah tapi permainannya luar biasa. Maradona yang jenius didampingi pemain-pemain kelas dunia macam Valdano, Brown, Burruchaga, atau Rugeri berhasil memukau dunia. Jerman Barat pun tak kalah ganasnya. Tak kenal lelah, tak kenal menyerah.

Jerman 2014, sang juara dunia, ternyata bukan tim yang sangat super. Tim yang tidak mampu mengalahkan Amerika Serikat dan Argentina selama 90 menit.

Oh ya, saya sebetulnya sudah lama mengkritik tambahan waktu atau extra time 30 menit. Terlalu lama. Waktu normal 90 menit itu pun sudah sangat lama. Bandingkan dengan cabang olahraga lain seperti basket atau voli. Apalagi atletik atau anggar.

Kalau sudah 90 menit skor masih sama, ya, distop. Langsung adu penalti saja. Tapi, pada menit ke-75 wasit harus mengingatkan kedua tim bahwa waktunya tinggal 15 menit. Segeralah bikin gol. Kalau tidak, silakan main judi lewat adu penalti.

Akan lebih bagus lagi kalau sepak bola itu dibuat 4 game. Cukup 4 x 20 menit. Bukan 2 x 45 menit kayak sekarang. Dengan begitu, pelatih dan pemain bisa membahas taktik, istirahat, dan melakukan evaluasi.

胡rek泗水

11 July 2014

Argentina vs Jerman di final Piala Dunia 2014

Argentina belum meyakinkan meski ada si jenius Messi. Mainnya mulai kompak tapi tidak tajam. Lawan Belanda, yang di bawah form, Messi dkk tak bisa berbuat banyak. Masih bagus bisa lolos ke final karena adu penalti.

Jerman menang besar 7-1 lawan Brasil. Tapi tidak bisa dibilang tim panser ini luar biasa. Sebab, Brasil memang lagi berantakan di belakang. Skor yang jomplang jelas memperlihatkan kualitas permainan yang tidak elok. Lain ceritanya kalau skornya 7-6 atau 7-5 atau 7-4.

Kita tentu ingat bagaimana Jerman kesulitan mengalahkan USA, tim yang dianggap pupuk bawang. Selama 90 menit tidak ada gol. Bahkan Jerman beberapa kali nyaris kebobolan. Karena itu, Jerman belum bisa disebut uber allez alias di atas yang lain.

Jerman punya banyak kelemahan. Pelatih Sabela dari Argentina pasti sudah tahu cara meredam operan-operan pemain Jerman dan tusukan ke gawang Romero. Cukup melihat rekaman pertandingan Jerman vs USA, timnas Argentina sudah tahu titik lemah Jerman.

Yang pasti, semifinal kedua kemarin sangat membosankan. Nonton pertandingan bola tanpa gol selama 90 menit + 30 menit jelas sangat menyiksa. Lebih menyiksa lagi melihat pemain-pemain Belanda dan Jerman sudah keok dan terkesan menunggu adu penalti.

Saya paling malas melihat pertandingan bola yang harus ditentukan dengan adu tendangan penalti. Tidak tega melihat pemain-pemain yang kalah. Makanya, begitu ketahuan hasil adu penalti, saya selalu langsung mematikan televisi.

Tapi mau bagaimana lagi? Siapa suruh tidak menang ketika disediakan waktu 120 menit?

Dus, ada baiknya Belanda disingkirkan Belanda lewat adu nasib tendangan 12 pas. Agar lain kali harus menang di waktu normal. Agar Louis van Gaal tidak pongah seakan-akan dialah raja taktik, pelatih terbaik di dunia.

Pertandingan final Argentina vs Jerman naga-naganya tidak akan banjir gol. Kedua kesebelasan akan saling kunci. Sulit mengulangi final Argentina vs Jerman yang luar biasa pada 1986 ketika tim tango diperkuat Diego Maradona dan Jerman punya striker maut macam Rummenige.

Jangan lupa, sepanjang sejarah Piala Dunia belum pernah ada tim Eropa yang juara di Amerika Latin. Argentina yang medioker, kecuali Messi yang super, berpeluang besar mengangkat trofi.


胡rek泗水

Quick count abal-abal rusak demokrasi



Sedikit banyak saya tahu metode hitung cepat alias quick count yang sekarang jadi industri pemilu di Indonesia. Di awal reformasi saya pernah ikut lokakarya tentang pemilu yang diadakan beberapa NGO dan universitas. Waktu itu istilah quick count belum dikenal masyarakat. Media massa pun belum tahu.

Memang tidak gampang memahami metodologi quick count kalau tidak pernah kuliah statistik. Saya ingat betul di kampus Ubaya, Ngagel, kami diberi wawasan tentang PVT: parallel vote tabulation. Dengan PVT ini, maka hasil pemilu sudah langsung diketahui beberapa jam sesudah pencoblosan di TPS. Hasilnya hampir pasti akurat asalkan sampelnya tepat. Baik jumlah, sebaran, proporsi.

"PVT ini dipakai di Filipina untuk mengontrol pemilu," kata dosen Ubaya yang saya lupa namanya, tapi masih ingat wajahnya. Beberapa kali dia memberi brifing khusus kepada saya di Ubaya.

Betul. Hasil PVT yang di Surabaya diolah di Ubaya ini cocok dengan hasil pemilu legislatif versi KPU. Pilpres langsung belum ada saat itu. Pak dosen itu optimistis PVT bakal menjadi metode efektif dari pemilu ke pemilu di Indonesia.

Betul memang. PVT ini kemudian dikenal luas dengan istilah quick count. Diperkenalkan di Metro TV oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), yang belum pecah dan masih sendirian bikin hitung cepat. Quick count itu secara akurat memprediksi hasil pemilu 2004 dan pilpres yang dimenangi SBY.

Sekarang ini quick count sudah pasaran. Istilah PVT malah tidak dikenal, kecuali orang-orang statistik yang mengolah data di dapur lembaga survei. Pilpres 9 Juli 2014 kemarin malah melibatkan 12 penyelenggara quick count.

Mengapa 8 lembaga quick count hasilnya Jokowi-JK menang, sedangkan 4 lembaga lain sebaliknya?

Hehehe.... Jangan lupa kata-kata almarhum Gus Dur tentang intelektual tukang. Intelektual atau lembaga survei yang mengorbankan idealisme dan metodologi ilmiah karena punya kepentingan dengan user-nya. Maju tak gentar membela yang bayar! Cendekiawan sejati harusnya maju tak gentar membela yang benar (secara ilmiah dan objektif).

Seandainya 12 lembaga itu menggunakan sistem PVT secara murni dan konsekuen (ini jargon khas Orde Baru), bisa dipastikan hasil quick count tidak akan jauh berbeda. Artinya, pasangan capres-cawapres yang menang itu pasti sama. Yang beda hanya persentasenya. Itu pun range-nya tidak akan banyak.

Begitu kira-kira kuliah gratisan tentang PVT alias quick count yang saya ikuti di Ubaya dulu. Kalau sampai berbeda, dan kemudian hanya diumumkan di televisi-televisi pendukung Prabowo-Hatta, pasti ada uang di balik angka! Pasti ada hidden agenda! Pasti ada kepentingan sebagai intelektual tukang untuk maju tak gentar membela yang bayar itu tadi.

Saya baca di koran pagi tadi bosnya Lembaga Survei Nasional (LSN) yang memenangkan Bowo-Hatta mengatakan, tunggu saja sampai real count atau hitungan resmi KPU tanggal 22 Juli mendatang. Akan kelihatan mana-mana saja lembaga survei yang akurat atau tidak.

Pernyataan ini juga sekaligus mendelegetimasi lembaga-lembaga atau industri quick count di Indonesia. Kenapa? Ketika PVT diperkenalkan di Indonesia, kemudian populer dengan nama quick count, tujuannya untuk mengawal hasil pemungutan suara. Agar suara rakyat tidak dimanipulasi oleh KPU dan pemerintah.

Kok sekarang jadi terbalik? Hasil resmi KPU jadi pengontrol lembaga-lembaga quick count. Jangan-jangan pimpinan LSN itu tidak paham atau lupa latar belakang quick count di era Marcos di Filipina, yang kemudian diterapkan juga di Indonesia itu.

Kasihan lembaga-lembaga quick count yang kredibel, jujur, menjaga integritas ilmiah. Hanya karena ulah beberapa lembaga survei abal-abal, quick count tidak lagi dipercaya masyarakat. Dianggap memecah belah masyarakat.

胡rek泗水

09 July 2014

Tionghoa dan Tiongkok, Gitu Aja Kok Repot!

Pagi ini, 9 Juli 2014, menjelang pencoblosan, saya membaca surat pembaca di Kompas. Ditulis Eliza dari Jember, mengaku keturunan Fujian alias Hokkian, dia bingung dengan istilah TIONGKOK pengganti CHINA. Kita tahu beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia secara resmi mengganti istilah CHINA dengan TIONGKOK demi menjaga hubungan baik dengan Tiongkok dan warga Indonesia keturunan Tionghoa.

Eliza menulis: "Sebaiknya kita menggunakan China daripada Tiongkok karena pemerintah RRC pun menyebut stasiun televisi negaranya secara resmi China Central Television."

Pendapat Eliza ini sekali lagi mencerminkan pemahaman sejarah yang sangat kurang di kalangan generasi muda Tionghoa. Khususnya yang lahir di atas tahun 1980. Ini juga menunjukkan bahwa warga Tionghoa sendiri banyak yang tidak mengikuti isu-isu rasial di tanah air sejak prakemerdekaan, orde lama, dan khususnya orde baru.

Maka, ketika para tokoh Tionghoa di Indonesia, yang hampir semuanya alumni sekolah-sekolah Tionghoa, memperjuangkan agar kata CINA tidak dipakai, tapi diganti TIONGHOA, para anak dan cucu mereka bingung. Mestinya yang bingung itu orang Jawa, Sunda, Batak, Flores, dan sebagainya yang tidak mengalami politik diskriminasi orde baru.

Kok orang Tionghoa, apalagi keturunan Hokkian, yang bingung? Saya tidak perlu mengulang lagi tulisan tentang alasan-alasan mengapa para pemuka Tionghoa menolak CINA (tanpa H) dan lebih suka istilah Tionghoa dan Tiongkok. Di internet pun sudah banyak ditulis.

Yang jadi masalah ya itu tadi. Di kalangan Tionghoa sendiri ternyata banyak yang tidak sreg dengan kata Tionghoa dan Tiongkok. Yah, namanya juga demokrasi, siapa pun bebas menggunakan kata atau istilah apa saja yang disukai. Asal tidak melukai atau melecehkan orang lain.

Kasus kata Tionghoa dan Tiongkok ini mengingatkan saya pada Khonghucu. Sampai sekarang tidak semua orang Tionghoa di Indonesia menganggap Khonghucu itu tidak memenuhi syarat sebagai agama. Karena itu, tidak tepat dijadikan agama resmi keenam di Indonesia. Ada beberapa tokoh Tionghoa yang tidak bosan-bosannya ceramah untuk mementahkan Khonghucu sebagai agama.

"Aneh wong Tionghoa iku. Banyak yang ngotot supaya Khonghucu dijadikan agama resmi kok setelah diterima pemerintah, sebagian lagi menjegal. Kita jadi bingung apa sih maunya orang Cina itu?" komentar seorang teman ketika mengikuti seminar di Surabaya beberapa waktu lalu.

Kalau dipikir-pikir, paling enak kita mengikuti sikap Gus Dur. Kalau menganggap Khonghucu agama ya silakan, kita hargai dan akui. Tapi, kalau sampean menganggapnya sebagai guru agung kebijaksanaan dan moralitas ya mboten nopo-nopo.

Kalau Eliza tidak terima Tiongkok dan Tionghoa, ya, silakan pakai istilah yang Anda sukai. Gitu aja kok repot!
胡rek泗水

Kaset masih ada di Plaza Surabaya

Sambil menunggu kenalan di kedai kopi Excelso, Plaza Surabaya, siang tadi, 8 Juli 2014, saya mampir ke konter musik. Dekat banget dengan Excelso. Dulu saya sering membeli kaset, dan belakangan CD, ketika masih sangat gila musik.

Sudah lama sekali saya tidak mampir. Saya kira sudah tutup seperti Aquarius, toko kaset dan CD, yang dulu paling ramai di Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Maklum, digitalisasi musik, online, Youtube, sudah lama membuat industri musik terpukul. Banyak produser yang stres.

Kaset yang pakai pita itu saya kira sudah kedaluwarsa. Alias tidak dijual lagi di toko. Eh, ternyata saya keliru. Di dekat kafe Excelso ini kaset-kaset ternyata masih banyak. Memang tidak sebanyak CD/ VCD dan sejenisnya. Tapi terbentang cukup panjang.

"Kaset-kaset itu punya penggemar tersendiri," kata penjaga toko yang ramah. "Tapi memang tidak sebanyak CD," begitu mbak yang murah senyum itu menambahkan.

Kalau saya perhatikan kaset-kaset yang dijual di toko ini sebagian besar kaset lawas. Jenisnya macam-macam, mulai pop manis ala Dian Piesesha, band-band rock-nya Log Zhelebour, hingga dangdut dan kasidah.

Ada kaset baru? "Ada," jawab si mbak ini.

Saya pikir-pikir kaset-kaset yang dijajakan di pusat belanja di samping Kalimas ini lebih sebagai barang cuci gudang. Sekaligus untuk koleksi penggemar musik. Sebab, masa bakti kaset di industri musik memang sudah selesai seiring masifnya digitalisasi rekaman di seluruh dunia.

Mungkin 10 atau 20 tahun lagi kaset-kaset itu akan menjadi barang antik yang diburu para kolektor. Sama dengan piringan hitam yang sekarang sudah tak lagi dikenal masyarakat.

Saya sendiri sudah lama tidak memutar kaset karena tape-nya rusak berat. Kasihan pitanya mbulet dan putus kalau dipaksakan. Saya malah lebih sering mendengarkan musik dari komputer atau laptop yang sudah disimpan dalam file mp3.

Kalau disimak sungguh-sungguh, musik yang dihasilkan kaset terasa berbeda dengan CD/VCD. Apalagi kaset-kaset super lawas yang proses rekamannya benar-benar analog.

Yah, semuanya kembali ke selera juga. Samalah dengan orang-orang lama yang memuji kualitas sound LP atau piringan hitam setinggi langit.
胡rek泗水

07 July 2014

Prabowo vs Jokowi Bikin Sawah Baru

Debat terakhir capres pada 5 Juli 2014 paling menarik dan menggelitik. Saya geli sendiri melihat Hatta Rajasa menyebut Piala Kapaltaru, padahal maksudnya Adipura. Jokowi pun menjawab sesuai bunyi pertanyaan sang cawapres. Sementara Pak Hatta belum juga sadar bahwa yang dia maksudkan itu Adipura.

Pak Hatta pun menyerang Jokowi. Katanya, sewaktu memimpin Solo dan Jakarta, Jokowi tidak beroleh penghargaan. Hehehe... Kalau Pak Hatta jeli, setidaknya membaca koran, ia akan tahu bahwa tahun 2014 ini Jakarta memborong empat Piala Adipura untuk kategori metropolitan. Bersama Kota Surabaya tentu saja.

Bagi saya, yang paling menggelitik itu soal pembukaan sawah baru. Capres Prabowo, yang juga ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), ngotot akan membuka 2 juta hektare sawah baru. Pak Bowo rupanya belum membaca platform Jokowi-JK yang juga akan berusaha memperluas lahan untuk tanaman pangan sekitar 1 juta hektare.

"Apa tanggapan Pak Jokowi tentang program kami membuka sawah baru dua juta hektare," Prabowo bertanya.

Jokowi pun menjawab. "Buka sawah baru itu mudah. Tapi airnya dari mana? Kita harus lihat dulu persediaan airnya," begitu kira-kira komentar Jokowi.

Bagi orang kota, khususnya di Jakarta atau Surabaya, yang asing dengan sawah, irigasi, ladang, atau pertanian, topik bahasan sawah baru ini tidak menarik. Tapi, bagi orang luar Jawa, justru ini yang paling menarik. Dan Jokowi selain sangat paham masalah sawah + irigasi, secara telak mengangkat kegagalan proyek sawah jutaan hektare di luar Jawa sejak Orde Baru sampai sekarang.

Membuka lahan itu mudah. Babat alas atau menebang pohon di hutan gampang. Tapi pengairannya bagaimana? Bendungan air, saluran primer, sekunder, tersier? Bagaimana menjamin irigasinya lestari seperti yang dibangun di Jawa Timur sejak era Prabu Airlangga dan dilanjutkan pemerintah Hindia Belanda?

Belum lagi masalah tingkat keasaman atau pH tanah. Tanah di luar Jawa itu berbeda dengan tanah di Jawa yang sangat gembur dan subur. Di Jawa Timur misalnya, tanpa dipupuk pun tanaman-tanaman hias di depan rumah akan tumbuh subur, hijau, dan membesar.

Jalan raya menuju Bandara Juanda di Sedati, Sidoarjo, sekarang ini sudah jadi hutan trembesi, angsana, dan tanaman hias lain. Padahal, lima tahun lalu jalan raya itu masih terlihat kosong. Selain dirawat, tanah di Jawa punya nutrisi atau unsur hara yang bagus. Apalagi dengan adanya abu vulkanik gunung berapi yang sering erupsi seperti Kelud atau Semeru atau Ijen.

Nah, di Kalimantan itu tanahnya tanah gambut. Tidak cocok untuk tanaman padi (bukan beras seperti istilah Prabowo di debat terakhir itu). Harus ada pengolahan khusus untuk menetralkan pH yang sangat asam. Ini juga yang menyebabkan program sawah sejuta hektare gagal pada zaman Pak Harto.

Minggu lalu saya bertemu Subowo, mantan transmigran asal Sidoarjo di Krian. Bowo dan istri plus tiga anaknya balik kucing ke Jawa karena lahan yang disiapkan pemerintah di Halmahera Utara tidak bisa diharapkan. "Airnya nggak ada. Gimana kita mau olah sawah," kata laki-laki yang sekarang mengurusi bangunan lama aset pemkab di Krian.

Karena itu, ketika melihat Prabowo getol membahas sawah dua juta hektare dan Jokowi menimpali dengan "dari mana airnya", saya langsung ingat Bowo di Krian. Pastikan dulu airnya! Begitu penegasan Jokowi. Kalau ada air, punya potensi untuk irigasi, baru bikin sawah.

Jangan dibalik. Buka lahan 2 juta atau 3 juta hektare, tapi irigasinya tidak jelas. Omongan Jokowi yang rilek, sederhana, khas wong cilik di lapangan, ini sangat mengena. Prabowo juga bilang dia sudah tentu tahu, apalagi ketua HKTI, bahwa sawah pasti butuh pengairan intensif.

Tapi, yang jelas, kelihatan sekali dalam debat di televisi bahwa pernyataan Jokowi selalu bersifat how to do. Sangat konkret dan mengena. Khas seorang pelaksana atau eksekutor. Inilah yang hilang selama kepemimpinan SBY, khususnya di periode kedua.

06 July 2014

Lawan Kosta Rika, Belanda pun Kewalahan

Tim nasional Belanda akhirnya lolos ke semifinal Piala Dunia 2014 di Brasil. Sayang, lolosnya dengan susah payah. Plus keberuntungan adu tendangan penalti. Sebetulnya Kosta Rika berpeluang lolos andai saja kiper Belanda gagal mencantolkan kakinya di bola jelang babak kedua perpanjangan waktu.

Dunia akhirnya dibuat sadar bahwa Kosta Rika bukanlah timnas pupuk bawang. Tim ini main bagus, passing oke, punya taktik jitu untuk meredam Belanda. Tidak hanya bertahan, timnas dari negara kecil ini beberapa kali membuat bek Belanda pontang-panting.

Kok bisa Kosta Rika mengimbangi Belanda 0-0? Bisa jadi karena Kosta Rika yang maju luar biasa atau Belanda yang memang merosot. Sebab, sesuai tradisi bola dan peringkat FIFA, mestinya Belanda menang dengan mudah. Tapi nyatanya pemain sekelas Robben atau Van Persie pun dibuat tak berkutik.

Mutar-mutar aja bawa bola, tapi tidak bisa tembus kotak penalti. Maka, ancaman terhadap gawang Kosta Rika pun hanya lewat tendangan jarak jauh yang membentur tiang. Apa boleh buat, kita dipaksa melekan begitu lama untuk melihat pertandingan yang mandul.

Menonton bola selama 120 menit tanpa gol, 0-0, memang sangat menyiksa. Itulah sebabnya orang USA kurang suka soccer. Saya sendiri sejak dulu mengusulkan agar extra time 2x15 menit dihapuskan saja. Langsung adu penalti kalau skor imbang hingga 90 menit.

Saya sih sebetulnya lebih senang kalau Belanda yang kalah. Agar berita di media massa lebih heboh. Sekaligus pelajaran untuk timnas Belanda supaya ke depan membentuk tim yang haus gol kayak eranya Gullit atau Van Basten.

Tidak hanya Belanda yang main jelek. Dua jam sebelumnya Argentina pun tampil biasa saja melawan Belgia. Tapi kali ini jauh lebih rapi ketimbang laga-laga sebelumnya. Untung si Higuain, yang sebelumnya jadi titik lemah Argentina, bisa mencetak gol di awal laga. Satu gol ini bisa dipertahankan sampai buyar.

Untung juga timnas Belgia kali ini tidak sebagus empat laga sebelumnya. Eden Hazard sang playmaker bahkan harus diganti karena tampil buruk.

Dua semifinalis lain adalah Brasil dan Jerman. Brasil yang kehilangan jogo bonito pun tak bisa diperkuat Neymar yang cedera. Tim Brasil 2014 ini paling jelek dibandingkan di semua edisi Piala Dunia sebelumnya. Yang bilang bukan saya, tapi Pele.

Jerman yang mengalahkan Kolombia 1-0 juga kurang greget. Tim asuhan Loew itu kalah bagus dengan Jerman 2010 di Afrika Selatan.

Kini tinggal 4 tim yang bertahan: Brasil, Jerman, Argentina, dan Belanda. Keempatnya sama-sama tidak terlalu menonjol sebagai tim. Tapi, menurut saya, dari empat tim ini Jerman yang lebih enak ditonton dengan passing yang mulus dan lebih mengancam gawang lawan.

05 July 2014

Akal Sehat Putusan MK

Akhirnya, Mahkamah Konstitusi memutuskan pemilihan presiden hanya satu putaran jika kontestannya cuma dua pasangan calon. Putusan ini sangat melegakan karena akal sehat yang dimenangkan. Sebelumnya banyak politisi, pengamat, bahkan hakim konstitusi, dan KPU, ngotot agar pilpres digelar dua putaran.

Pilpres satu putaran, selain sesuai dengan akal sehat, juga pasti lebih murah. Meskipun, harus diakui, ada persoalan sebaran kemenangan capres-cawapres. Bukankah yang kita pilih itu presiden Republik Indonesia dan bukan Republik Jawa?

Memang argumentasi para pendukung pilpres dua putaran, jika sebaran kemenangan di bawah separuh provinsi, juga cukup kuat. Namun, itu hanya berlaku bila peserta pilpres lebih dari dua pasang. Kalau cuma dua pasang, buat apa dua putaran?

Implikasi putusan MK ini justru bagus untuk capres-cawapres. Mereka harus fokus, habis-habisan kampanye di Jawa, karena sebagian besar pemilih tinggal di Jawa. Lebih efektif kampanye total di Jawa Timur yang penduduknya 40 juta daripada NTB yang cuma 4 juta. Atau Gorontalo yang sekitar 2 juta jiwa. Atau NTT yang 5 jutaan.

Rupanya kedua kandidat sudah punya feeling sebelumnya bahwa MK akan memutus satu putaran. Karena itu, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK tak banyak kampanye blusukan di luar Jawa. Yang cuap-cuap di luar Jawa cuma tim sukses baik dari unsur partai atau relawan tertentu.

Apa boleh buat, demokrasi di mana pun memang begitu. Suara mayoritas yang menentukan, bukan minoritas. Karena itu, kita yang berasal dari luar Jawa harus berbesar hati menerima kenyataan bahwa enam provinsi di Pulau Jawa menjadi penentu kemenangan dalam pilpres. Masyarakat di Jawa punya kuantitas dan kualitas dibandingkan luar Jawa.

Ke depan, rasa-rasanya pilpres di Indonesia akan stabil dengan dua pasangan calon. Selain syarat pencalonan lebih ketat, partai-partai lebih pragmatis dan tahu diri. Ketimbang memaksakan capres sendiri yang bisa dipastikan akan kalah, mendingan mendukung capres yang dianggap punya peluang menang besar.

Kelenteng Cokro gelar buka puasa

Jumat kemarin (4/7/2014), Kelenteng kembali menggelar acara buka puasa. Lebih tepatnya: menyediakan takjil dan makanan buka puasa untuk warga muslim di sekitar Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya. Kebiasaan baik ini berlangsung sejak awal reformasi.

Ibu Juliani Pudjiastuti, pengurus kelenteng, mengatakan warga Tionghoa yang biasa sembahyang di Kelenteng Hong San Ko Tee ini ingin berbagi kasih dengan warga kurang mampu yang menjalankan ibadah puasa. Jemaat menyumbang sukarela kemudian dikelola panitia khusus.

"Setiap Jumat kami adakan acara buka puasa bersama. Sekaligus silaturahmi dengan warga di sini," ujar wanita yang tetap energetik meski ke mana-mana pakai kursi roda itu.

Agar aman dan terkendali, meminjam istilah polisi, warga menunjukkan kupon kepada panitia. Lalu duduk manis di halaman kelenteng menunggu bedug magrib sekitar pukul 17.30. Begitu saatnya tiba, mereka antre dengan tertib menerima takjil yang lumayan enak.

Setelah itu menikmati nasi kotak atau nasi bungkus. Menunya standar ala Jawa: lodeh, sedikit daging, telur, tempe. Asyik juga buka puasa bersama wong cilik yang diadakan Bu Juli dan kawan-kawan ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bakti sosial buka puasa ini dilakukan setiap hari Jumat petang. Dus, selama bulan Ramadan ini empat kali baksos. Diakhiri dengan penyerahan bingkisan Lebaran satu dua hari menjelang Idulfitri.

Kegiatan sosial di Kelenteng Cokro selama Ramadan yang digelar secara rutin ini sudah lama dirasakan hasilnya. Hubungan antara masyarakat "pribumi" dan Tionghoa yang berbeda ras plus agama semakin cair.

Kalau dulu orang pribumi segan atau takut datang ke kelenteng, kata Bu Juliani, sekarang justru ramai-ramai datang ketika digelar kegiatan sosial, pengobatan massal, hingga latihan barongsai. Anak-anak pribumi pun antusias berlatih barongsai di kelenteng di tengah Kota Surabaya itu.

"Manusia itu sama saja di hadapan Tuhan. Entah di Jawa, Tionghoa, Batak, Bali, Papua, dan sebagainya. Dan, sebagai sesama ciptaan Tuhan, kita harus saling mengasihi," kata lulusan SPG Santa Maria Surabaya itu.

Setuju! Kamsia!

Khawatir yang fitnah yang menang

Masa kampanye pemilihan presiden (pilpres) 2014 berakhir hari ini. Di masyarakat tidak ada kegiatan kampanye yang menonjol kayak pemilu legislatif tiga bulan lalu. Bahkan, Gelora Delta Sidoarjo yang sejak dulu jadi tempat kampanye favorit di Jawa Timur pun sepi jali.

Pun jarang terlihat relawan atau tim sukses dari rumah ke rumah untuk bagi-bagi stiker, brosur, bingkisan, dan sebagainya. Rupanya kampanye pilpres kali ini lebih fokus di pohon, baliho, dan spanduk. Itu pun dilakukan beberapa penyandang dana yang mendukung calon tertentu.

Yang merisaukan justru propaganda fitnah berupa tabloid Obor Rakyat. Dan sudah pasti adu dukungan dan perang di media sosial selama 24 jam. Capres Joko Widodo alias Jokowi bukan saja diberitakan negatif, tapi juga difitnah dengan berbagai tuduhan bernuansa SARA. Padahal, katanya fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, bukan?

Jokowi diberitakan sebagai orang Tionghoa yang bukan Islam dan bukan haji. H di depan namanya diplesetkan sebagai Heribertus, nama permandian khas Katolik. Padahal, H itu jelas haji.

Tim sukses Jokowi-JK pun tersita energinya untuk meng-counter disinformasi dan kampanye fitnah ini. Para ulama atau kiai yang pro Jokowi macam KH Hasyim Muzadi hampir setiap hari mengklarifikasi isi Obor Rakyat kepada jamaah muslim, khususnya nahdliyin, yang beliau temui.

Belum selesai Obor Rakyat, terbit lagi tabloid lain di Surabaya yang isinya sama-sama pamflet propaganda. Tema revolusi mental yang disuarakan Jokowi dituduh sebagai cara-cara PKI. Wow, opo maneh iku!

Belum selesai. Di tvOne ada berita yang mengaitkan PDI Perjuangan dan Jokowi dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Tuduhan yang naif dari media televisi berita yang biasanya analitis dan kritis. Kita yang bukan orang PDIP sih geleng-geleng kepala dan tertawa saja mendengar informasi banal ala tvOne.

Tapi bagaimana massa PDI Perjuangan dan Jokowi-JK? Rupanya propaganda fitnah sudah masuk dalam kebijakan editorial media massa arus utama kita. Bukan lagi selebaran picisan ala Obor Rakyat.

Siapa pun tahu Tiongkok sejak 1 Oktober 1949 hanya mengenal satu partai saja. Ya, Partai Komunis Tiongkok alias Kung Chan Tang itu. Saingannya Kuo Min Tang di Taiwan. Karena itu, semua pejabat di Tiongkok dari tingkat paling rendah hingga paling tinggi atau presiden pastilah aktivis atau pengurus PKT.

Presiden Xi Jinping jelas pentolan utama PKT. Presiden sebelumnya, Hu Jintao, juga begitu. Duta besar dan konsul-konsul di seluruh dunia juga kaki tangan PKT sebagai partai tunggal di negara tirai bambu itu. Maka, ketika saat ini Indonesia punya hubungan baik dengan Tiongkok otomatis pejabat-pejabat kita bertemu dan menjalin kerja sama dengan pejabat-pejabat Tiongkok.

Lha, kalau pejabat Indonesia, yang kebetulan dari PDIP, bertemu petinggi Tiongkok, apakah lantas disebut partai itu punya kaitan dengan Partai Komunis Tiongkok? Dan kayaknya tidak hanya PDIP, hampir semua pemimpin partai besar di Indonesia pernah bertemu dengan pejabat-pejabat PKT. Bisa disimpulkan membangun aliansi dengan komunis di Tiongkok?

Aneh memang logika yang dibangun dalam berita atau lebih tepat propaganda untuk menghancurkan reputasi capres Jokowi. Juga PDIP sebagai pemenang pemilu di Indonesia yang mengusung Jokowi-JK.

Saya cuma khawatir aja yang getol kampanye fitnah, bikin propaganda hitam, itu malah justru menang dalam pilpres 9 Juli 2014. Bisa-bisa pola kampanye yang ngawur-ngawuran, eksploitasi SARA, agitasi propaganda jahat, jadi pola dalam kampanye pilkada atau pilpres selanjutnya.

Itu artinya demokrasi dibajak oleh orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk menang.

03 July 2014

Rumah Duka Surga Pelangi Ditolak Warga Ketegan

Minggu lalu warga Desa Ketegan, Taman, Sidoarjo, kembali turun ke jalan. Mereka demo menolak pengurukan lahan di pinggir Tol Waru yang akan dibangun rumah duka atau tempat persemayaman jenazah. Segmen konsumen yang bidik tentu warga Tionghoa Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto.

Protes warga Ketegan, desa yang berbatasan langsung dengan Surabaya, ini sebetulnya sudah dilakukan sejak 2005. Mereka keberatan jika di kampung mereka dibangun tempat pembakaran jenazah alias krematorium.

"Takut polisi," kata seorang ibu. "Anak-anak takut kalau di sini banyak jenazah," kata seorang bapak. "Sampai kapan pun kami menolak pembangunan tempat pembakaran jenazah. Titik," ujar yang lain lagi.

Pihak investor, PT Surga Pelangi, pun terpaksa menghentikan pengurukan lahan. Khawatir menimbulkan bentok dan konflik yang lebih panjang. Apalagi rumah duka untuk warga Tionghoa ini mudah dikipas-kipasi ke masalah SARA, khususnya Tionghoa. Sebab pengguna rumah duka plus krematorium macam ini memang warga Tionghoa.

Pihak kecamatan dan sejumlah instansi di Sidoarjo kemudian mengadakan rapat bersama warga dan investor. Dari situ diketahui bahwa PT Surga Pelangi sudah mengantongi izin dari Pemkab Sidoarjo. IMB pun lengkap.

Lantas, mengapa harus distop?

Ya itu tadi, warga Ketegan keberatan. Ini juga jadi pelajaran bagi investor di Indonesia. Bahwa sering kali izin dan persetujuan resmi dari pemerintah tidak identik dengan persetujuan warga. Apalagi proyek yang punya kepekaan SARA seperti rumah duka ini.

"Kami kembalikan ke Bupati Sidoarjo untuk memutuskan. Sebab kami tidak bisa menghentikan begitu saja proyek yang sudah punya izin," kata Camat Taman Misbahul.

Kita lihat saja kelanjutannya seperti apa. Tapi, yang jelas, pemkab perlu segera menentukan sikap. Melanjutkan atau menghentikan pembangunan rumah duka yang sebetulnya berada di luar permukiman warga itu.

02 July 2014

Sulitnya Messi Mengangkat Argentina 2014

Semalam timnas Argentina hampir kalah dari Swiss. Untung ada Messi yang masih stabil dan jenius. Berkat gocekan Messi, pertahanan Swiss kocar-kacir. Lalu umpan matang Messi dimanfaatkan dengan baik oleh Di Maria.

Dari empat pertandingan yang sudah dilakoni di Piala Dunia 2014 ini, rupanya Argentina belum banyak berubah. Operan-operannya kurang bagus, sering meleset, mudah dibaca lawan. Umpan satu dua yang menjadi senjata andalan Messi hampir tidak terlihat.

Pelatih Sabella tampaknya belum bisa membentuk gaya permainan untuk memanfaatkan potensi Messi yang jenius itu. Lihat saja, ketika Messi sedang memperdaya tiga lawan, tidak ada temannya yang berada di dekat situ. Jelas saja bola gampang dikuasai lawan.
Kerja sama Maria dengan Messi pun kurang bagus. Begitu pula Lavezzi atau Aguerro. Messi tidak punya teman sejati yang benar-benar klop seperti di Barcelona. Di Barca semua pemain sudah tahu apa maunya Messi, gerakan-gerakannya, dan siap mengamankan bola yang lepas.

Yah, baguslah Argentina beruntung masuk 8 besar meski kurang asyik di lapangan. Masih untung kali ini Messi benar-benar brilian.

Ibarat anak sekolah, Messi ini murid jenius yang bersekolah di sekolah pinggiran. Nilainya 100 terus, sementara nilai teman-temannya rata-rata cuma 60. Hanya satu dua temannya yang 70. Karena itu, betapa susahnya teman-teman menyesuaikan diri dengan Messi. Kualitas sekolah tidak bisa bagus bila hanya satu murid jenis sementara murid-murid lain medioker.

Itulah sebabnya Lionel Messi sangat sulit mendekati seniornya sang legenda Diego Maradona di Piala Dunia. Maradona dan Messi sama-sama jenis, nilai 100 alias istimewa. Bedanya, dulu Bung Maradona ini dikelilingi teman-temannya yang nilainya 80, 85, 79, atau 90.

Karena itu, Valdano, Buruchaga, Brown dan kawan-kawan bisa dengan mudah mengikuti manuver-manuver Maradona di lapangan. Timnas Argentina era Maradona pun sangat matang, cerdas, dan skilled. Ini yang membuat Argentina versi Maradona begitu enak dilihat. Dan mudah bikin gol kapan saja.

Kasihan benar Bung Messi ini. Dia kurang dapat dukungan karena, itu tadi, levelnya terlalu jauh sama pemain-pemain lain. Messi hanya enak bermanuver di Barcalona karena nilai rata-rata pemain Barca itu 80 atau 85. Xavi dan Iniesta jelas di atas 90. Mesi tetap 100.

Andai saja Argetina bisa masuk final, bahkan juara, wah, artinya Messi lebif fenomenal daripada Maradona. Tapi seandainya gagal pun, prestasi Argentina saat ini layak diapresiasi. Dan itu berkat jasa si kutu alias Messi.

Presiden yang Menyelesaikan Masalah

Sepuluh tahun sudah lebih dari cukup untuk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beliau presiden yang santun, cerdas, pintar bikin lagu, menulis buku, tapi terlalu lambat bertindak. Terlalu lama berpikir, menimbang, tapi tak kunjung memutuskan.

Tidak usah jauh-jauh. Di Sidoarjo ini ada ribuan korban lumpur Lapindo yang belum kelar urusan ganti rugi tanah dan bangunan. Sudah delapan tahun mereka menunggu. Unjuk rasa sampai bosan. Bolak-balik blokade tanggul di Porong.

Tapi tidak ada solusi. Presiden SBY memang bikin peraturan presiden tahun 2007 untuk mengatur kewajiban Lapindo Brantas. Ternyata tidak semua butir dijalankan. Setelah deadline lima tahun pun pemerintah pusat yang dipimpin Presiden SBY tak bisa berbuat banyak.

Masa jabatan SBY tinggal tiga bulan. Apa mungkin urusan korban lumpur ini selesai? Melihat kinerja dan gaya SBY selama 10 tahun menjadi presiden, saya kira orang Partai Demokrat yang paling fanatik pun sulit percaya.

Contoh kedua masih di Sidoarjo, tepatnya Jemundo, Taman. Ada 200an warga Sampang mengungsi di rumah susun karena keyakinannya sebagai jemaat Syiah. Sudah satu tahun lebih mereka tinggal di situ. Sampai sekarang pemerintah pusat tidak bisa memberi kepastian kapan mereka dipulangkan.

Kita masih ingat tahun 2013 lalu Presiden SBY menyampaikan harapannya agar warga Syiah Sampang itu bisa merayakan Idul Fitri di kampung halamannya. Ternyata meleset. Sampai satu tahun kemudian, menjelang Idul Fitri tahun ini pun ngambang. Sementara masa jabatan SBY akan segera habis.

Masihkan SBY ingat kelanjutan nasib pengungsi ini? Masih ingat urusan ganti rugi lumpur Lapindo? Jangankan presiden, menteri-menteri atau pejabat teknis di level bawah pun sepertinya abai dengan masalah riil masyarakat ini.

Pejabat-pejabat ini bekerja terus, tiap hari ngantor, tapi tidak jelas apa yang dikerjakan. Kita tidak melihat ada poin-poin solusi atau jadwal tahapan-tahapan yang konkret. Tahu-tahu sudah lima tahun menjabat sehingga harus lengser.

Ada kesan pemerintahan sekarang ini berusaha menghindari masalah dan mendiamkannya. Dibiarkan ngambang begitu saja sampai warga mencari jalan sendiri. Atau rakyat lupa karena terlalu banyak masalah baru yang muncul kemudian. Tapi mau bilang apa?

Karena itu, saya setuju dengan sebuah judul artikel di koran hari ini: Kita Butuh Tokoh Penyelesai Masalah. Problem solver! Bukan pemimpin yang lebih suka retorika, main wacana, diplomasi, cari aman, menghindari masalah. Selesaikan masalah! Cari solusi segera!

Saya melihat tipe pemimpin yang problem solver itu ada dalam diri Jusuf Kalla. Ketika orang baku bunuh di Maluku, JK bukannya menghindar, tapi datang ke lapangan. Mengundang pihak-pihak yang bertikai. Membahas solusi, jalan keluar, menemukan akar masalah. Dan hasilnya jelas.

Masih banyak lagi yang dilakukan Pak JK. Beliau tidak bikin makalah, pidato panjang lebar, janji macam-macam, tapi ACTION. Inilah yang kurang terlihat dalam lima tahun terakhir.

Atau, bisa jadi masalah lumpur di Sidoarjo akan selesai setelah Aburizal Bakrie jadi menteri utamanya Presiden Prabowo. Kita tunggu saja!

Lagu kebangsaan di Piala Dunia 2014

Sangat menarik melihat seremoni menjelang kickoff di Piala Dunia. Wajib diperdengarkan lagu kebangsaan atau national anthem dari kedua negara. Plus bendera masing-masing negara.

Amerika (USA) yang kita anggap liberal, seenaknya, itu ternyata bernyanyi layaknya pujian di gereja. Pemain-pemain serong menghadap benderanya yang khas itu dan saling berpegangan. Lagu kebangsaan USA betul-betul diresapi ala kebaktian saja. Ada patriotisme, cinta pada negara, yang besar dari pemain-pemain yang latar belakang keluarganya tidak semua pribumi USA.

Yang paling antusias pasti Brasil. Mereka nyanyi dengan semangat tinggi bersama ribuan penonton. Lagu dengan tempo cepat, bergelora, cocok dengan karakter orang Brasil. Anak-anak yang mendampingi pemain-pemain timnas Brasil juga menyanyi dengan semangat dan keras.

Lagu kebangsaan Prancis awalnya mirip Dari Sabang sampai Merauke, irama mars. Pemain-pemain juga menyanyi, tidak seheboh pemain Brasil. Saya lihat Karim Benzema tidak menyanyi, cuma menunduk. Mungkin belum hafal syair!

Melodi lagu kebangsaan yang paling saya kuasai, selain Indonesia Raya, adalah national anthem Jerman. Soalnya, dari dulu dipinjam jadi melodi lagu kebanggaan Kota Larantuka di Flores Timur, NTT. Biasa dibawakan dengan semangat di gereja karena syairnya tentang perlindungan Bunda Maria terhadap Larantuka. Kota yang dijadikan pusat misi Katolik oleh Portugal pada abad ke-16.

Nah, pemain-pemain Jerman pun sejak dulu sangat bangga menyanyikan lagu kebangsaannya. Buka mulut lebar, hafal syair di luar kepala. Nasionalisme orang Jerman memang tidak diragukan.

Semalam saya lihat pemain-pemain Argentina lebih banyak yang diam saat musik lagu kebangsaannya diputar. Hanya tiga atau empat orang yang nyanyi. Itu pun tidak keras ala Buffon, kiper Italia. Oh ya, pemain-pemain Italia termasuk yang semangat menyanyikan national anthem.

Kalau saya simak, lagu kebangsaan Argentina ini terlalu dominan instrumental dan temponya sangat cepat. Sehingga memang sulit dinyanyikan masyarakat yang tidak pernah latihan.

Lagu kebangsaan yang memuja kepala negara (raja atau ratu) itu khas Belanda dan Inggris. Melodinya sederhana dan mudah dinyanyikan. Karena bukan mars yang cepat ala Amerika Latin atau Prancis, suasananya seperti himne kebaktian. Pemain-pemain Belanda dan Inggris selalu menyanyi. Cuma tidak diresapi kata per kata ala pemain USA.

Yang aneh itu pemain-pemain Spanyol. Dari dulu mereka (hampir) tidak pernah menyanyi. Cuma berdiri dan mendengar saja. Ini juga akibat dominasi pemain-pemain Barcelona di timnas Spanyol. Katanya, pemain-pemain Barca yang ketahuan menyanyikan lagu kebangsaan Spanyol bisa diancam oleh kaum ekstremis.

Maklum, Spanyol ini sebetulnya negara yang belum terintegrasi secara politik sepenuhnya. Barcelona alias Catalonia sejak dulu ingin merdeka dari Spanyol. Mereka bahkan punya timnas sendiri, lagu kebangsaan sendiri, bendera sendiri, layaknya negara merdeka.

01 July 2014

Timnas perlu belajar dari Kosta Rika

Begitu banyak pertandingan di Piala Dunia 2014 ini, total 64 match, sehingga kita harus memilih. Tidak mungkin kita melekan terus semalam demi menonton tiga match setiap malam. Bisa kacau irama tubuh, sakit, dan seterusnya.

Maka, saya pun hanya menonton pertandingan yang melibatkan tim besar. Sebut saja Jerman, Italia, Argentina, Prancis, Brasil, Belanda, Uruguay, atau Spanyol. Inggris sejak dulu saya anggap medioker sehingga cukup nonton satu kali saja.

Kosta Rika? Negoro opo iku? Kebanyakan orang Indonesia, termasuk saya, tidak tahu ibu kota negara ini. Siapa yang hafal pemain-pemain Kosta Rika? Kayaknya pengamat bola kita pun tidak tahu sebelum membuka Google.

Karena itu, saya tidak pernah menonton pertandingan Kosta Rika di televisi. Tak satu pun dari empat pertandingan saya lihat. Saya hanya mengikuti hasilnya di internet dan bahasannya di koran besok.

Aha, ternyata Kosta Rika ini menangan. Jadi juara grup. Tim-tim elite Eropa pun keok. Kosta Rika membuktikan bahwa sepak bola itu sering tidak bisa ditebak hasilnya. Tapi kata pengamat-pengamat sih Kosta Rika layak menang karena main bagus. Taktik yang dipakai pelatih Jorge Pinto katanya bagus.

Selamat untuk Kosta Rika!

Paling tidak bisa jadi inspirasi buat Indonesia yang jauh lebih luas dan jauh lebih banyak klub bolanya. Bahwa timnas kita pun sebetulnya bisa berbicara di jagat antarbangsa. Tidak usah muluk-muluk ke Piala Dunia. Bisa jadi juara Piala AFF saja sudah luar biasa.

Selama ini timnas kita selalu inferior saat berhadapan dengan Malaysia dan Singapura. Saat uji coba di Sidoarjo minggu lalu penampilan tim asuhan Alfred Riedl untuk masih meragukan. Saya juga ragu timnas senior ini bisa menang sama timnas U-19 yang dimotori Evan Dimas.

Akankah Kosta Rika lolos lagi setelah memulangkan Yunani? Saya ragu. Sebab, biasanya kejutan di Piala Dunia itu selalu ada batasnya. Tapi saya berniat akan menyaksikan pertandingan kelima Kosta Rika di Piala Dunia.