02 June 2014

Tiga Wanita Tiongkok Tobat di Rutan Medaeng

TRIO CUNGKUO: Xiao Ying, Yang Liu, dan Yu Benxia.


Sekitar 80 warga binaan Rutan Medaeng, Waru, Sidoarjo, yang beragama Kristen antusias mengikuti kebaktian rutin di Gereja Efesus kemarin. Gereja kecil di dalam kompleks rumah tahanan itu menjadi jujukan para narapidana dan tahanan untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Kebaktian kali ini jauh lebih meriah dari biasanya.

Selain tim pelayanan Pelita Kasih, rombongan Goshen Prison Ministry, Jakarta, memberikan kekuatan dan motivasi kepada warga binaan di Rutan Medaeng untuk memantapkan komitmen pribadinya kepada Tuhan. Goshen sendiri diperkuat sejumlah mantan warga binaan yang dulu dipenjara gara-gara kasus narkoba, penipuan, penggelapan, dan tindak kriminal lain.

"Saya percaya bahwa Tuhan akan mengubah hidup saudara-saudari baik selama berada di Rutan Medaeng maupun sesudah keluar dari sini," ujar Corry Tulalessy, penginjil dari Goshen Prison Ministry.

"Amin! Haleluya!" sahut warga binaan dengan suara keras.

Di antara puluhan warga binaan itu terdapat empat warga negara asing. Tiga dari Tiongkok, satu dari India. Mereka dijebloskan ke penjara karena terlibat penyelundupan narkoba. Selama kebaktian berlangsung, Yang Liu (26) dan Yu Benxia (37) tampak serius membaca Alkitab dalam bahasa Mandarin. Sedangkan Xiao Ying, yang lebih fasih bahasa Indonesia, duduk bersama teman Indonesianya.

Meski belum begitu paham bahasa Indonesia, kedua wanita asal negeri tirai bambu itu ikut bertepuk tangan merespons kata-kata Corry Tualessy.

"Saya percaya teman-teman kita dari Tiongkok dan India ini pun disayang Tuhan. Amin, saudara-saudara!" ucap Corry disambut "Amiiiin".

Yang Liu, yang divonis 10 tahun, mengaku baru mengenal Tuhan setelah menjadi penghuni Rutan Medaeng. Di negaranya sana dia hanya sibuk cari duit dan tak pernah berpikir tentang agama atau hal-hal rohani. "Awalnya saya kesepian, tidak bisa komunikasi," kata Yang Liu seperti diterjemahkan Lanny Chandra, ketua Misi Pelayanan Pelita Kasih.

Dalam kesepian itu, dia bersama teman-temannya yang dari Tiongkok diajak mengikuti kebaktian di Gereja Efesus bersama warga binaan kristiani lainnya. Mereka juga diberi Alkitab berbahasa Mandarin. Kini mereka merasa punya teman dan lebih tabah meskipun tetap rindu keluarga dan kampung halaman di Tiongkok.

"Saya sekarang rajin berdoa supaya bisa cepat bebas dan pulang ke Cungkuo," kata Yu Benxia kepada saya.

Lanny Chandra mengatakan, tidak semua warga binaan di Rutan Medaeng ini  yang rajin beribadah. Buktinya, dari sekitar 200 warga binaan yang Nasrani hanya sekitar 60-80 orang yang aktif mengikuti kebaktian di Gereja Efesus. Jauh lebih banyak napi yang suka mencari-cari alasan untuk tidak beribadah.

"Makanya, kami terus memberi motivasi kepada mereka. Bahwa hidup tanpa Tuhan membuat manusia kehilangan arah. Hidup dengan Tuhan membuat orang punya sukacita dan kegembiraan," katanya. (rek)

No comments:

Post a Comment