28 June 2014

Sulit jadi orang tua di era IT

Ada sebuah seminar kecil di gereja Katolik di Surabaya. Topiknya tentang orang tua, anak, dan IT. Tiga pembicara, salah satunya profesor, meminta para orang tua supaya selalu mendampingi anaknya yang main internet, media sosial, game online, dsb.

Para orang tua khawatir akan dampak negatif IT meskipun mengaku begitu banyak manfaat positifnya. Para ortu pun senang main FB karena bisa chatting sama teman-teman lama baik yang sudah tahunan tidak berjumpa.

Tidak mudah memang mengatasi kesenjangan generasi (generation gap) di era IT ini. Dari dulu isu ini dibicarakan tapi makin runyam di zaman sekarang karena IT berkembang luar biasa.

Sebelum ada komputer, internet, laptop, dan turunannya kesenjangan generasi tidak separah sekarang. Manusia yang lahir tahun 1970an dan 1980an bedanya tidak terlalu jauh karena sama-sama belum ada komputer dan internet. Masih sempat mengenal mesin ketik.

Anak-anak yang lahir tahun 2000an dan 2010an benar-benar dahsyat. Begitu lahir sudah main laptop, smartphone, tablet, dsb. Orang tuanya pun sudah canggih tapi tidak bisa lagi maniak IT. Si anak berlari terus dengan gadget.

Komunikasi dengan ortu pun makin gak nyambung. Ortu dianggap jadul, gaptek, ketinggalan zaman. Ortu makin sulit mengimbangi akses IT yang dinikmati si anak. Ortu yang tempo doeloe jadi sumber informasi kini kehilangan peran karena Google, wikipedia, dsb sudah menyediakan informasi yang melimpah.

"Makin berat jadi orang tua di zaman sekarang," kata seorang ibu muda di Kepanjen.

Meski begitu, kata para narasumber di seminar ini, orang tua tak bisa lepas tangan dalam konsumsi IT anaknya. Okelah, ortu kalah canggih sama anaknya, tapi role model, moralitas, pendidikan agama, iman, tetap bersumber dari rumah. Tidak bisa diserahkan ke IT.

No comments:

Post a Comment