25 June 2014

Sluman Slumun Slamet Abdul Sjukur



Pergelaran musik karya Slamet Abdul Sjukur di pendapa STKW Surabaya, Sabtu malam (21/6/2014), terasa lain dari lain. Lampu dibuat temaram layaknya cahaya obor atau pelita di kampung yang belum dimasuki listrik. Kita jadi sulit mengenali wajah penonton meski dari jarak dekat.

Suasana ngelangut, hening, ini rupanya sengaja dihadirkan untuk menikmati lima komposisi karya Slamet Abdul Sjukur (SAS). Karya musik kontemporer yang nyeleneh ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun ke-79 sang komponis asal Keputran, Surabaya, itu.

Syukurlah, penonton berjubel di pendapa. Sebagian besar anak-anak muda 20-an tahun yang lebih pantas jadi cucu-cucu Eyang SAS. Ini tentu luar biasa karena musik SAS bukan genre yang manis atau enak di kuping.

"Musik saya itu gak laku," kata SAS dengan suaranya yang serak halus, nyaris berbisik.

Meski lesehan, santai, gayeng, pembawa acaranya Vika Wisnu memandu program dengan gaya formal ala konser klasik. Paling tidak bisa memberi gambaran kepada penonton tentang latar belakang karya SAS, tahun dibuat, persembahan untuk siapa dan sebagainya.

Gelar karya SAS dibuka dengan nomor seriosa berjudul Kabut (1960). Pak Slamet berjalan pelan dengan kruknya yang setia ke piano bersama Ika Wahyuningsih (piano). Tarik napas panjang lalu mulai masuk intro pendek yang tidak jelas melodinya. Mbak Ika pun melantunkan nyanyian Kabut dengan suara yang jernih.

Tetap enak meski tidak pakai mikrofon. Cocok dengan gerakan antipengeras suara yang pernah digagas SAS. Beda dengan nomor-nomor seriosa ala bintang radio, yang sebelumnya dikupas tuntas oleh Suka Hardjana, kritikus, musikus, sahabat SAS, lagu Kabut ini tidak mengikuti pakem biasa. Kita sulit menebak kapan selesainya. Maka, ketika Ika sudah berhenti menyanyi, penonton masih ragu bertepuk tangan.

Komposisi kedua, Tobor (1961), piano, dibawakan Gema Swaratyagita yang tak lain murid + 'cucu' SAS. Sama dengan karya-karya SAS lain, komposisi ini pun terasa abstrak.

Dari hening, tenang, perlahan SAS ngamuk kayak bonek Surabaya. Gema yang juga komponis rupanya tak sekadar pianis yang pandai membawa partitur, tapi juga meluapkan emosinya ala Eyang SAS. Inilah bedanya pianis yang memainkan karya komponis sekaligus gurunya. Bisa dapat arahan atau petunjuk langsung dari suhunya.

Penonton pun bertepuk tangan panjang. Komposisi piano ini dikarang khusus SAS untuk putrinya Tiring Mayang Sari pada 1961. SAS waktu itu harus meninggalkan sang putri yang baru berusia satu tahun ke Prancis untuk sekolah musik.

Gema kemudian duet dengan eyangnya, SAS, di nomor ketiga: Gelandangan (1998). Karya ini menampilkan dialog antara SAS dan Gema. Lebih mirip teater ketimbang musik yang dipahami orang yang tak biasa berpikir di luar kotak.

Si wanita, diperankan Gema, mengeluarkan suara-suara aneh, kadang mengenaskan seperti sedang diinjak-injak. Ada celetukan aneh seperti bawang kok diiris nganggo udel... Sepatune ojo disemir terasi....

Eyang SAS memainkan karunding dengan aneka variasi. Alat musik tiup yang mirip mainan anak-anak itu dieksplorasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan bebunyian yang kaya. Memang apa saja bisa dibuat musik oleh komponis 79 tahun yang tak pernah merasa tua itu.

Dua nomor terakhir, Tetabuhan Sungut (1975) dan Game Land 1 (2003), dimainkan Gamelan Kiai Fatahillah. Tetap dalam gaya abstrak ala SAS, tapi jelas lebih mudah dinikmati penonton awam karena memang enak. Tidak memaksa kita mengerutkan dahi layaknya tiga nomor di awal pertunjukan.

Selesai!

Eyang SAS kemudian menyampaikan cenderamata kepada beberapa sahabat dekatnya seperti Suka Hardjana. Pak Suka ini salah satu dari sedikit orang Indonesia yang bisa membaca SAS dan mengapresiasi karya-karya beliau. Juga memuji sikap SAS yang pasrah dan nrimo meski karya-karyanya kurang diapresiasi di negerinya sendiri.

Malam itu saya melihat wajah SAS begitu ceria. Senyam-senyum disalami para penonton plus foto bareng layaknya penyanyi pop terkenal. Beda banget dengan suasana Pertemuan Musik Surabaya (PMS) di Ngagel yang dulu sering saya ikuti.

Di PMS Pak Slamet tak bosan-bosannya menyentil guru-guru piano di Surabaya yang orientasinya duit dan memburu rekor Muri. Guru-guru musik dianggap gagal dalam mengembangkan apresiasi musik di tanah air.

"Malam ini saya senang karena pergelaran ini idenya dari anak-anak muda. Mereka yang bekerja dari awal sampai akhir. Saya hanya tinggal main saja," kata SAS.

Mengutip ucapan seorang muridnya di video jelang pertunjukan (saya lupa namanya), mudah-mudahan Pak SAS diberi umur panjaaang sekali, rambut tetap gondrong dan hitam,jenggot panjang... dan tidak segera dipanggil Tuhan. Agar bisa terus mengarang, mengajar, dan bermain. 

Salam sluman slumun slamet!

No comments:

Post a Comment