14 June 2014

Presiden Jokowo, Wapres Prabowo

Pemilihan presiden 9 Juli 2014 hanya diikuti dua pasangan calon; Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Maka, anak sekolah dasar pun tahu bahwa hasilnya salah satu pasangan akan meraih suara lebih dari 50 persen. Bisa juga seri 50:50 tapi hampir mustahil. Pasti ada suara salah satu calon yang lebih banyak.

Karena hanya ada dua pasangan, maka pilpres cukup satu putaran saja. Kok sekarang ada wacana pilpres bisa berlangsung dua putaran? Dan yang berlomba pasangan calon yang sama?

Itulah Indonesia. Persoalan yang sederhana sering dibuat sulit. Dan ternyata banyak pakar hukum tata negara yang ngotot dua putaran kalau si pemenang 50 persen plus satu itu sebarannya tidak merata. Katanya harus dapat suara minimal 20 persen suara di lebih dari setengah provinsi di Indonesia.

Kalaupun dapat suara 60 persen, tapi numpuk di Jawa saja dinyatakan tidak sah. Pilpres harus diulang lagi. Bagaimana kalau pilpres putaran kedua, dengan pasangan calon yang sama, juga tidak menghasilkan sebaran sesuai ketentuan itu? Perlukah diulang lagi?

Mungkin inilah sakit jiwa nomor 45 ala politisi Indonesia. Sukanya bikin ruwet masalah. Mudah-mudahan mahkamah konstitusi segera bersidang untuk menyudahi polemik aturan kemenangan capres yang makin membingungkan itu.

Tapi ya tetap susah juga karena hakim konstitusi Patrialis Akbar jauh hari sudah menegaskan bahwa pilpres harus dilakukan dua putaran kalau sebaran kemenangan tidak sampai 50 persen provinsi. Yah, bisa dipahami karena si Patrialis ini politikus Partai Amanat Nasional. Mungkin ada lagi hakim-hakim konstitusi yang satu aliran pikiran dengan Patrialis.

Polemik soal syarat kemenangan capres-cawapres ini juga kembali menunjukkan rendahnya kualitas pembuat undang-undang di negara Indopahit ini. Anggota dewan tidak bisa berpikir jauh ke depan, mengantisipasi skenario pilpres yang hanya diikuti dua pasangan calon. Atau memang sengaja dibuat begitu agar kompetisi politik yang namanya pilpres ini berlarut-larut.

Yang pasti, banyaknya kampanye hitam dan rusaknya televisi-televisi kita sebagai jurkam capres tertentu, khususnya Prabowo-Hatta, membuat pilpres ini sangat tidak menarik. Nggilani, kata orang Jawa. Menjijikkan!

Sebaiknya pilpres cepat selesai, siapa pun pemenangnya! Toh, baik Prabowo maupun Jokowi sama-sama menawarkan ketjap manis nomer satoe!

Atau, daripada ribut-ribut pilpres dengan kampanye fitnah dan saling menjelekkan, bagaimana kalau berdamai saja. Presidennya Jokowi, wakilnya Prabowo!

1 comment:

  1. Salah mas... Prabowo presiden Indonesia barat, Jokowi presiden indonesia timur.. Adil....

    ReplyDelete