12 June 2014

Pelihara Anjing dan Makan Babi

Pagi tadi saya cangkrukan di sebuah warung kopi di tengah Kota Surabaya. Ngobrol santai dengan pengunjung warkop yang latar belakangnya macam-macam. Saat ngobrol itu melintas orang Tionghoa bersama anjing kesayangannya. Anjing hias yang bongsor dan lucu.

Setelah si Tionghoa itu lewat agak jauh, rasan-rasan pun dimulai. Kebiasaan jelek untuk membicarakan orang atau golongan lain dari belakang. Karena memang tidak mungkin disampaikan terang-terangan di depan orangnya.

"Biaya makan untuk anjingnya Cina itu jauh lebih mahal dari manusia kayak kita-kita ini. Biaya makan asu itu untuk tiga hari mungkin sama dengan biaya makan kita (maksudnya bukan Tionghoa) satu bulan. Bahkan lebih," kata seorang bapak 50-an tahun.

Pancingan awal ini kemudian disusul dengan komentar baru. Sudah berbau SARA karena berkaitan dengan anjing + babi. Ada yang mengaku tidak habis pikir mengapa orang Tionghoa begitu suka pelihara anjing dan makan babi. Dua binatang yang dianggap najis menurut kaum muslimin.

Tapi ada juga pendapat yang netral. Siapa pun bebas memelihara anjing, makan babi, makan kodok, atau makan ular karena keyakinan orang berbeda-beda. Apa yang dianggap haram atau najis oleh agama A, justru biasa saja oleh agama B. Bahkan babi yang diharamkan muslim itu dianggap binatang pembawa rezeki bagi orang Tionghoa.

Orang Barat bahkan selalu punya anjing peliharaan di rumah. Begitu sayangnya sama anjing atau kucing, kadang-kadang suami atau istri pun dicuekin. Pasangan hidup dianggap sering menjengkelkan. "Lha, kenapa kita ngurusin anjingnya orang Cina? Mending bahasa Piala Dunia aja," kata pria asal Maluku yang duduk di pojok.

Bicara tentang anjing, saya jadi ingat kasus penyerangan terhadap Julius dan sejumlah umat Katolik di Sleman, Jogja, saat doa rosario bersama di rumah Pak Julius pada 29 Mei 2014 lalu. Selain kepicikan dan kebencian si penyerang, saya baca di TEMPO, beberapa tetangga sudah lama jengkel karena Pak Julius memelihara anjing.

Selain suka menggonggong, suaranya mengganggu tetangga, anjing itu binatang yang najis. Karena itu, si tetangga sangat keberatan. Pak Julius kemudian mengikat anjingnya agar tidak keluyuran ke mana-mana. Bisa menyebarkan najis ke tetangga dekat. Dan itu panjang urusannya.

Saya sendiri sangat memahami keberatan tetangga Pak Julius soal anjing itu. Sebab, dulu di pelosok NTT, Flores Timur sana, keluarga besar kami campuran Katolik dan Islam. Yang Islam pengurus masjid, yang Katolik pengurus stasi (gereja), bahkan jadi asisten imam.

Asisten imam itu bertugas membantu membagi komuni saat misa serta memimpin ibadat sabda jika pastor tidak ada. Dan di desa-desa di Flores pastor itu lebih banyak tidak adanya daripada ada karena beliau harus turne ke mana-mana.

Nah, dengan latar belakang keluarga gado-gado macam ini, maka sejak dulu ada semacam hukum tidak tertulis di rumah. Satu, tidak memelihara anjing. Dua, tidak memasak dan makan daging babi di rumah. Tiga, yang Katolik boleh makan babi tapi di tempat lain. Empat, kalau terpaksa makan babi di rumah, karena dapat kiriman, piring-piring dan tempatnya harus dipisahkan dengan jelas. Cara mencucinya pun dengan treatment yang sangat khusus.

Karena itulah, saya sendiri sangat jarang makan daging babi. Kecuali di pesta-pesta di NTT. Itu pun mungkin setahun cuma tiga kali saja. Pindah ke Jawa pun tak pernah membeli sate babi, daging babi, dan semua yang mengandung babi.

Memelihara anjing pun tidak pernah. Begitu pula memelihara hewan lain seperti burung, kucing, hamster, kuda, ikan di akuarium.

Saya sendiri trauma burung peliharaan saya mati kelaparan ketika ditinggal pergi saat masih SD di kampung. Andai kata burung-burung itu dilepas di alam bebas, dia tak akan mati karena bisa mencari makan sendiri. Ini pula yang menyebabkan saya kurang suka melihat pasar burung dan kegiatan komunitas penggemar burung yang aneh-aneh itu.

Harus diakui, daging babi itu punya daya tarik sangat tinggi. Orang begitu senang makan babi, tapi cepat sekali bosannya karena lemak yang terlalu banyak. Setelah makan babi di pesta, misalnya, muncul perasaan menyesal. Kenapa ya tadi tidak makan gule atau sate kambing. Atau sapi. Atau ikan laut.

Anehnya, setelah penyesalan berlalu, muncul lagi keinginan kuat untuk makan daging babi lagi di pesta-pesta. Bosan lagi, menyesal lagi, tapi kemudian kepingin lagi.

Kembali ke laptop. Sebetulnya memelihara anjing atau makan babi itu tidak dilarang, bagi yang bukan muslim. Juga tidak melanggar hukum. Namun, kita yang nonmuslim atau kristiani memang perlu belajar toleransi, tenggang rasa, tepa selira dengan sesama, khususnya tetangga.

Kalau tetangga menganggap anjing itu najis, protes kalau kita memelihara anjing, mengapa kita tidak mengalah saja? Berhenti memelihara anjing demi menghormati perasaan keagamaan tetangga. Toh, bisa memelihara kucing, burung, atau binatang lain asakan bukan anjing, babi, dan ular. Tidak memelihara anjing juga tidak akan mati.

Begitu juga dengan babi. Kalau sudah tahu bahwa semua tetangga itu muslim, teman-teman kita hampir semunya muslim, mengapa kita harus makan daging babi (dan/atau anjing)? Terlalu banyak alternatif daging selain babi. Apalagi babi itu terlalu banyak lemah dan cepat bikin bosan.

Dan, kalau mau fair, begitu kata banyak peneliti, sebetulnya semua daging itu tidak baik bagi kesehatan manusia. Termasuk daging khas Idul Adha seperti kambing atau sapi. Sumber protein yang terbaik itu justru tempe dan tahu.

Celakanya lagi, ketika kita yang kristiani punya hajatan di rumah dan mengundang tetangga atau rekan-rekan muslim, mereka akan curiga dengan kehalalan makanan. Jangan-jangan ada babinya! Jangan-jangan piring dan gelas masih mengandung babi! Jangan-jangan ini itu dst!

Maka, paling aman pesan saja nasi kotak dari warung padang. Dijamin halal!

No comments:

Post a Comment