09 June 2014

Orientasi Hasil vs Orientasi Prosedur

Birokrat itu orientasinya prosedur. SOP, tupoksi, macam-macam prosedur dia ikuti sungguh-sungguh. Hasilnya seperti apa tidak penting. Prosedur adalah segalanya!

Kesan lama tentang watak birokrasi di Indonesia itu rupanya sudah berurat berakar dari pusat sampai daerah. PNS atau birokrasi kita memang digembleng sedemikian rupa agar sadar tupoksi, sadar prosedur. Soal hasilnya bagaimana... tai kucing!

Kemarin saya mampir ke bukit Buncitan, Sedati, Sidoarjo. Melihat lokasi penghijauan yang dilakukan ratusan birokrat Dinas Kehutanan Jawa Timur. Penghijauan pada pertengahan Desember 2013 itu katanya dalam rangka proyek menanam satu miliar pohon yang dicanangkan Presiden SBY.

Bukan main ramai dan semaraknya acara penghijauan itu. Ada musik dangdut, undian berhadiah macam-macam, dan banyak pidato. Seakan-akan gerakan penghijauan di lahan kritis sekitar 4 hektare itu sangat serius.

Enam bulan kemudian, saya cek di lapangan. Hasilnya luar biasa mengecewakan. Hampir semua tanaman mati. Ada yang dimakan kambing, ada yang merana karena kurang hara, dsb. Setelah seremoni menanam ramai-ramai itu tak ada seorang pun dari dinas kehutanan yang mengecek di lapangan.

Bagi birokrat hutan, setelah mengikuti berbagai prosedur mulai persiapan hingga menanam, ya, selesai. Tugasnya rampung. Evaluasi, kontrol lapangan, melihat hasil penanaman, menyiram, pemupukan, dsb tidak ada.

"Saya nggak kaget karena yang namanya pemerintah ya seperti itu. Penghijauan itu kan cuma awu-awu saja. Proyek besar itu," kata Munir, teman asal Buncitan.

Syukurlah, tidak semua dinas atau birokrat punya mental bobrok yang mengabaikan hasil. Salah satu dinas yang betul-betul kerja adalah DKP alias dinas kebersihan dan pertamanan. DKP Surabaya dan DKP Sidoarjo sama-sama rajin menanam dan rajin pula merawat tanaman di pinggir jalan atau ruang terbuka hijau.

Bahkan, saking rajinnya, saya sering melihat petugas DKP tetap saja menyiram tanaman meski sedang hujan. Mungkin karena tupoksi atau prosedurnya menuntut begitu.

Mudah-mudahan presiden baru nanti, entah Jokowi entah Prabowo, bisa mengubah mental birokrasi yang sudah telanjur karatan dengan tupoksi dan orientasi prosedur tanpa mempedulikan hasil. Tidak mudah memang. Namun, gaya blusukan Jokowi, yang ingin memastikan hasil dan kinerja anak buahnya, paling tidak bisa memberi harapan baru kepada kita.

No comments:

Post a Comment