28 June 2014

Lembaga Survei dan Intelektual Tukang

Satu jam lalu dua televisi nasional menayangkan hasil survei keterpilihan calon presiden. Hasilnya bertolak belakang satu sama lain. Lengkap dengan analisis dari pengamat alias ilmuwan penafsir hasil survei.

Hasil survei yang ditayangkan di Metro TV semuanya mememangkan Jokowi-Jusuf Kalla. Sebaliknya, lembaga-lembaga survei yang dimuat tvOne semuanya memenangkan Prabowo-Hatta Rajasa. Kata si pengamat di tvOne, elektabilitas menurun terus dari waktu ke waktu. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo naik terus.

"Sekarang Prabowo sudah unggul atas Jokowi," kata si pengamat sambil memperlihatkan grafik besar di layar televisi. Penyiar tvOne pun tampak begitu senang karena Prabowo menang!

Horeee! Luar biasa lembaga-lembaga survei yang makin menjamur di Indonesia ini. Kita tidak tahu lagi nama-nama lembaga survei saking banyaknya. Kita juga tidak tahu kapan lembaga-lembaga itu mengumpulkan data, wawancara, dan sebagainya.

Begitulah, reformasi juga melahirkan industri survei yang tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Dosen-dosen yang biasanya mengajar dalam sepi di kampus atau lembaga penelitian universitas kini ramai-ramai bikin lembaga survei.

Maka, kecemasan almarhum Gus Dur akan maraknya intelektual tukang yang disampaikan tahun 1990an kini menjadi kenyataan. Kalau dulu, zaman Orde Baru, intelektual tukangnya masih sedikit, sekarang benar-benar melimpah. Dosen atau peneliti kita justru sangat bangga jadi intelektual tukang.

Bangga karena lembaganya sukses memenangkan si Polan jadi bupati, gubernur, atau presiden. Bangga karena hasil quick count-nya mendekati hasil penghitungan sebenarnya versi KPU. Intelektual yang bangga jadi tim sukses calon tertentu.

Lembaga-lembaga survei jelas merupakan kumpulan para intelektual tukang. Intelektual yang dibayar sekian ratus juta atau sekian miliar untuk memenangkan yang bayar. Maju tak gentar membela yang bayar! Maka data statistik pun bisa dimainkan seenaknya demi memenangkan yang bayar... meskipun hanya menang ilusi di survei.

Kita layak cemas dengan maraknya intelektual tukang yang bermental WANI PIRO ini. Minggu lalu kalau tidak salah ada peringatan dari Jeffrey Winters, intelektual beneran dari USA, tentang krisis cendekiawan di Indonesia. Tidak ada penelitian atau buku-buku mutakhir karya cendekiawan Indonesia tentang kajian sosial politik ekonomi budaya yang mendalam di Indonesia.

Ya jelas aja, bagaimana mau bikin kajian kalau intelektual-intelektual tukang itu sibuk menggarap pesanan survei elektabilitas. Sibuk menjadi tim sukses Prabowo atau Jokowi. Sibuk mencari klien mana lagi yang akan diporot uangnya atas nama survei elektabilitas. Sibuk memoles kliennya yang bopeng menjadi mulus.

Begitu hebatnya masukan lembaga survei itu sampai seorang Aburizal Bakrie merasa sangat percaya diri mencalonkan diri sebagai capres dari Golkar. Hary Tanoe juga tampak semangat maju sebagai calon wakil presiden.

Karena sibuk jadi intelektual tukang, intelektual pesanan, kita makin sulit menemukan buku-buku yang berbobot ilmiah karya orang Indonesia di toko buku. Bahkan, buku kajian tentang musik dangdut di tanah air pun ditulis profesor dari University of Pittsburgh, USA, bernama Andrew Weintraub PhD.

No comments:

Post a Comment