30 June 2014

Komentator bola tak bisa komentar

Siaran langsung Piala Dunia 2014 di tvOne dan Antv selalu melibatkan pengamat atau komentator bola. Biasanya mantan pemain timnas, pelatih, wartawan sepak bola, bahkan artis dan politikus. Sayang, banyaknya iklan dan hura-hura kuis membuat komentator tak punya kesempatan bicara.

Ada beberapa pengamat yang bagus seperti Rahmat Darmawan atau Justinus. Tapi ya itu tadi, baru bicara dua tiga kalimat sudah dipotong si Putri Viola, presenter yang lebih banyak bicara ketimbang komentator yang diundang ke studio. Gakpopo sing penting siaran langsungnya gak kepotong!

Analisis Piala Dunia yang mendalam, bukan hura-hura ala selebritis dan politikus, rupanya tak akan ada lagi di Indonesia. Sebab, TV pemegang hak siar harus memutar iklan-iklan menjelang pertandingan, saat turun minum, dan akhir pertandingan.

Jadi, sebetulnya pengamat bola tidak diperlukan lagi karena iklan jauh lebih penting. Iklan menghasilkan uang, sementara pengamat atau komentator harus dibayar honornya.

Analisis Piala Dunia yang bagus dan mendalam di Indonesia sudah lamaaa berlalu. Adanya ketika televisi masih dimonopoli TVRI yang tidak boleh beriklan. Satu-satunya iklan running text SDSB: sumbangan dermawan sosial berhadiah! Karena tidak ada iklan itulah, pengamat bola bisa bicara panjang lebar dan mendalam.

Pengamat-pengamat jempolan masa lalu antara lain Ronny Patinasarani (almarhum), John Halmahera, Ronny Pangemanan (masih sering muncul di TV swasta), Eddy Sofyan, dan Iswadi Idris (alm). Kadang-kadang Sinyo Aliandoe, mantan pelatih timnas yang sukses, pun diminta jadi komentator.

Begitu mendalamnya analisis bola zaman dulu, kita yang awam pun jadi paham berbagai sistem main bola. Seperti 442, 433, 352, 532, total football ala Belanda, pertahanan grendel Italia, jogo bonito, dan sebagainya.

Mengapa sistem kick n rush ala Inggris sulit menang. Ada lagi istilah staying power ala Jerman. Kemudian sistem penguasaan bola ala Jerman versi Beckenbauer yang mirip panser. Ilmu-ilmu dasar balbalan ini bisa kita peroleh dengan gratis saat menonton siaran langsung sepak bola di TVRI yang disponsori SDSB.

Zaman memang sudah berubah total. Pengamat bola makin banyak, makin pintar, setiap saat bisa mengakses informasi di internet. Beda dengan pengamat bola zaman dulu yang harus hafal data di luar kepala karena belum ada internet. Luar biasa memori, daya ingat, manusia-manusia jadul!

Kini, pengamat bola yang dua orang itu lebih banyak mejeng saja karena keok sama iklan. Masih jauh lebih bagus televisi-televisi Barat macam ESPN atau Star yang memberi banyak kesempatan untuk komentator bola.

Yah, piye maneh, iklan itu berhalanya televisi-televisi kita!

No comments:

Post a Comment