05 June 2014

Ketika TV Jadi Jurkam Capres

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono benar ketika mengkritik televisi-televisi kita yang makin partisan. Menjelang pilpres ini, liputan-liputan di televisi, khususnya talkshow dan berita, makin memuakkan. TVOne, Metro TV, RCTI dan kawan-kawan benar-benar memposisikan diri sebagai juru kampanye calon presiden tertentu.

Sembilan elemen dasar jurnalisme dibuang ke tempat sampah. Anehnya, SBY sebagai presiden, kepala negara dan kepala pemerintahan, hanya bisa mengeluh. Curhat. Dan sudah pasti dianggap angin lalu oleh para pemilik dan redaksi televisi nasional itu.

Inilah masa kegelapan media televisi di Indonesia. Ketika negara tak berdaya, Presiden Republik Indonesia pun tak berdaya di depan televisi. Negara tak bisa apa-apa selain memberikan imbauan normatif, pernyataan di koran, tapi tidak akan digubris orang-orang TV.

Dulu, di zaman Orde Baru, negara begitu kuatnya. Negara mengontrol penuh media massa. Apalagi yang namanya televisi yang waktu itu cuma TVRI thok. Rakyat, pemirsa, tidak berdaya, selain dipaksa menonton siaran propaganda pemerintah. Hanya di TVRI.

Pendulum itu kini terbalik. Kita, pemirsa, dipaksa oleh televisi-televisi itu untuk menonton propaganda politik partisan si pemilik televisi. Sama-sama tidak enak dan memuakkan.

Tapi mau bagaimana lagi? Negara sudah lama didikte oleh pasar. Presiden SBY yang jendral purnawirawan pun dianggap angin lalu oleh tvOne, Metro TV, RCTI dkk. Apalagi cuma Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Televisi kita sudah seperti diktator yang kebal hukum.

Syukurlah, masih ada stasiun televisi lokal yang rajin menayangkan acara-acara nonpolitik. Seperti BBS TV yang sering banget menayangkan program semacam flora dan fauna atau sains.

Tiga hari lalu saya menonton program yang membahas aneka jenis batuan. Sangat mendalam, mirip kuliah di perguruan tinggi. Program macam ini rasanya mustahil dipikirkan redaksi tvOne atau Metro TV yang otaknya sudah dicuci untuk jadi jurkam Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

Syukurlah, kita hidup di zaman internet. Di zaman YouTube. Kita punya alternatif untuk menyimak tayangan-tayangan bermutu dan sangat bergizi dalam jumlah tak terbatas. Dus, biarkan saja tvOne, Metri TV, dan televisi-televisi lain kampanye capresnya selama 24 jam sampai muntah.

Inilah saat yang tepat untuk diet televisi. Bila perlu SAY NO TO TV!

No comments:

Post a Comment