02 June 2014

Kasus SARA di Jogja, Ingat Rosario Keliling

Julius, korban penyerangan di Sleman, Jogja, dikunjungi GKR Hemas, istri Sri Sultan.



“Dhuh Rama, tiyang-tiyang punika mugi Paduka apunten, amargi sami boten mangretos punapa ingkang dipun tindakaken.” 


Kaget juga membaca berita tentang aksi segerombolan pria berjubah di Jogja. Mereka menyerang belasan umat Katolik di Sleman yang sedang berdoa rosario di rumah. Saat itu doa rosario memasuki hari ke-29.

Aneh memang negara Pancasila ini. Orang berdoa di rumah diperangi. Ada anak kecil disetrum, begitu tulis tempo.co. Anehnya lagi, kasus SARA ini terjadi di Jogjakarta. Kota budaya yang selama ini jadi panutan dan jujukan kehidupan umat beragama yang rukun dan damai.

Tapi ya sudahlah. Kita serahkan saja kepada polisi. Semoga bisa diselesaikan dan tidak berulang. Kalau dibiarkan sama aparat, betapa mengerikan kehidupan ini. Kita kehilangan budaya adiluhung ala Jawa yang tepa selira, tenggang rasa, asah asih asuh.

Membaca berita tentang doa rosario itu saya jadi ingat kebiasaan di kampung halaman, NTT, khususnya Flores Timur. Seperti di Jogja, setiap bulan Mei dan Oktober diadakan doa rosario sebulan penuh. Dibuka pada 1 Mei dan ditutup 31 Mei dengan misa raya di gereja. Hari-hari lainnya doa keliling dari rumah ke rumah.

Kontas gabungan! Begitulah sebutan doa rosario keliling sebulan penuh ala Flores. Kebetulan penduduk Flores dan sekitarnya mayoritas Katolik. Tiap malam jemaat mengantar panji Bunda Maria ke rumah keluarga yang akan jadi tuan rumah doa rosario besok malamnya. Begitu seterusnya.

Pengalaman masa kecil yang berkesan ketika orang tua masih lengkap dan belum banyak dosa. Lagu-lagu Maria versi Flores yang dimuat buku Jubilate dan Syukur Kepada Bapa sangat melodius. Indah dan menyentuh. Air mata menetes saat mendengar mama-mama di kampung yang pakai sarung tenun ikat, buatan sendiri, menyanyikan INA MARIA atau KEPADAMU BUNDA PERAWAN.

Hijrah ke Jawa membuat saya kehilangan katolisitas ala Flores. Orang Katolik TOU RUA HENA, kata orang saya di kampung. Arti harfiahnya: cuma satu dua orang saja, bisa dihitung dengan jari. Alias kurang dari 1 persen. Sama Protestan dan Pentakosta saja kalah banyak.

Tapi, yang menarik, ketika tinggal di Malang acara doa rosario bulan Mei dan Oktober digelar setiap malam. Dari rumah ke rumah per lingkungan. Asyik juga karena selalu ada makan bersama setelah sembahyangan. Malang ini memang kota yang religius dan umat Katoliknya sangat rajin.

Kuliah di Kota Jember, yang Katoliknya nol koma nol sekian persen, doa rosarionya juga hidup. Sembahyang tiap malam dari rumah ke rumah. Ini saya alami di daerah Patrang. Yang menarik, orang Tionghoa pun berkenan menutup tokonya demi rosario. Luar biasa!

Bagaimana dengan Surabaya dan Sidoarjo? Umat Katoliknya pasti lebih banyak daripada Jember dan Malang. Paroki atau gereja Katoliknya ada sekitar 25. Bandingkan dengan Jember yang cuma SATU paroki (belakangan baru tambah satu paroki di Tanggul). Tapi ibadat-ibadat devosionalnya cenderung tidak jalan karena umatnya sibuk cari duit.

Berangkat kerja pagi buta, pulang menjelang magrib. Capek! Nyaris tak ada waktu untuk urusan liturgi atau gereja. Tradisi doa rosario keliling seperti di Malang, Jember, Jogja, apalagi NTT, tidak dikenal di Surabaya. Bulan Mei atau Oktober sama saja dengan 10 bulan yang lain.

Saya pernah survei kecil-kecilan di permukiman menengah atas yang mayoritas Tionghoa di Kelurahan Pucangsewu. Mayoritas penduduknya ternyata kristiani dan Katolik paling banyak. Tapi tidak ada yang namanya doa lingkungan, doa wilayah, pendalaman iman, kajian APP, novena, rosario keliling. Acara Natal bersama pun tidak ada.

Anehnya lagi, karena paroki di Surabaya lebih dari 20, umat Katolik di lingkungan ini suka-suka memilih gereja untuk misa mingguan. Paling banyak misa di Katedral. Padahal, wilayah Pucangsewu itu masuk Paroki Ngagel alias St Maria Tak Bercela.

Yah, rapopo... ketimbang tidak ke gereja!

Begitulah. Selama bulan Mei 2014 kemarin saya hanya bisa berdoa rosario sendiri. Itu pun tidak lengkap 5 peristiwa tapi satu peristiwa saja. Satu peristiwa pun tidak setiap hari. Bahkan, saya sempat lupa bahwa bulan Mei itu bulan rosario, bulan kontas gabungan, kata orang kampung di Flores dulu.

Saya baru tersentak, ingat tradisi doa rosario bulan Mei, ketika membaca berita tentang 20-an umat Katolik di Sleman, Jogjakarta, diserang sekelompok pria bergamis. Oh, ternyata saya melawatkan bulan Mei ini begitu saja.

INA MARIA, PETEN GOE ANAK MOEN
GOE PIA ATA NALAN
GOE PIA LUPANG MOE INA
INA MARIA, PETEN KAME UHE


CATATAN KAKI:  Dalam tradisi Katolik setidaknya ada dua macam ibadat: liturgis dan devosional. Liturgi itu dilakukan di gereja, sedangkan devosional itu di rumah, tempat ziarah, dsb. Doa rosario keliling selama bulan Mei ini merupakan ibadat devosional (semacam sunnah di muslim), dan selalu diadakan di rumah-rumah jemaat. 

Ini penting diketahui karena ada pihak tertentu yang mempertanyakan, mengapa kok mengadakan kebaktian (doa rosario) di rumah Julius di Sleman, Jogja, itu dan bukan di tempat ibadah (gereja). Rumah tinggal kan bukan tempat ibadah? Harusnya ada pemberitahuan ke polisi, begitu yang saya baca di koran. 

Ya, doa rosario atau kontas gabungan selama Mei dan Oktober memang harus di rumah dalam rangka anjangsana atau koinonia. Tidak diadakan di gereja. Kalau doa bersama di gereja itu liturgi resmi atau disebut perayaan ekaristi alias misa. 

19 comments:

  1. maaf... sepertinya ada lebih banyak ke arah Politik saat ini.. jangan sampai kita terkecoh. kata Dosen Saya tadi saat membahas Sosio Kultural masyarakat Indonesia.
    Jogja itu daerah yang damai kehidupan beragamanya.. dan jadi barometer Nasional.. jogja rusuh berarti Indonesia ya Rusuh..
    maaf.. ummat islam juga macam2... hehe jadi sekali lagi maaf..

    ReplyDelete
  2. sangat mengerikan karena otak or provokatornya di jogja itu tetangga sendiri. budaya jawa yg guyub rukun selama bertahun2 memang sudah lama kemasukan virus fundamentalisme ala Boko Haram. biasanya polisi membiarkan saja aksi kekerasan kayak gini sehingga kaum ekstremis perusak itu dianggap pahlawan. bisa jadi si tuan rumah bakal jadi tersangka karena mengadakan ibadah di rumahnya.

    itulah kehebatan orang Indonesia yang katanya pancasilais.

    ReplyDelete
  3. lama2 orang non Islam dilarang beribadah karena diteror dan dibiarkan saja oleh polisi dan tentara. yg boleh beribadah adalah umat islam. bebas pake pengeras suara, bebas bikin masjid or mushala tanpa perlu izin, minoritas ditekan terus dgn dalil2 tertentu. wis gawat darurat!!!

    ReplyDelete
  4. Minoriti Prihatini4:11 PM, June 03, 2014

    Inilah hasil politik dagang sapi. SBY naiknya krn beraliansi dengan PKS, PPP Suryadarma Ali, tidak berani memerintahkan polisi untuk bertindak tegas thd tindakan-tindakan anarkis dari golongan fundamentalis. Sekarang partai-partai tsb, ditambah dengan preman berkedok agama seperti FPI, merapat ke barisan Prabowo-Hatta Rajasa. Kalau mau melanggengkan NKRI yang berPancasila, pililh Jokowi.

    ReplyDelete
  5. kalau KAPOLRI tdk tegas menyikapi masyalah ini bukan tdk mgkn flores yg mayoritas katholik dlm waktu dekat akan dilarang melakukan ibadah/berdoa oleh kelompok2 seperti di jogya.kelompok2 sprti ini mestinya tdk DIBIARKAN.kasian saudara2 muslim yg minoritas di flores,dgn kejadian di jogya ini mereka menjadi tidak nyaman

    ReplyDelete
  6. dasar faham sesat..ingat saudara2mu yg minoritas di NTT.agama tidak dilahirkan untuk membinasakan kehidupan.aparat penegak hukum sepertinya BUTA melihat persoalan ini.kelompok radikal sprti ini mestinya dienyahkan dr negara tercinta ini

    ReplyDelete
  7. Jangan takut tetap beribadah ROSARIO bersama-sama berkeliling dari rumah ke rumah, Bunda pasti merestui dan Yesus pasti melindungi. Tak sabar menunggu bulan Oktober..........GBU

    ReplyDelete
  8. yang menarik jika berhubungan dengan ibadah kristen sekarang adalah masalah " rumah kok dipake ibadah", ini yang harus diklarifikasi, semua agama bebas berekspresi yang dijamin dengan pasal 29 UUD 45 tetapi cara kekerasan dengan menyerang orang lain ini yang kriminal dan negara harus bertindak, tidak peduli apa agamanya dan jika hal itu, misal dilakukan oleh orang Kristen terhadap pemeluk agama lain ya tetap harus ditindak sesuai hukum, tapi persepsi yang muncul negara selalu keok jika berhadapan dengan frasa "Islam" baik ormas, perorangan dan lain2 yang rasis, saya tidak bilang Islam itu rasis atau membencinya, tapi mari dialog yang terbuka dan egaliter sebagai sesama anak - anak Indonesia.

    ReplyDelete
  9. Saya yakin dengan segala keterbatasan Kapolri sebagai manusia, dia juga gentar kalo berhadapan dgn ormas yang mengatasnamakan agama Islam, karena memang Islam adalah agama Mayoritas, tetapi seharusnya Kapolri bisa mencontoh pak Ahok yang tidak pandang bulu saat menutup Stadium, ato pak Jokowi yang bisa memindahkan warga dari Waduk Ria Rio..mgk dulu stadium ato Ria Rio gk bisa diproses krn pejabat yang dulu main mata, nah supaya Kapolri juga bisa tegas n netral jgn main mata dan menerima "upeti" ya pak Kapolri..Indonesia pasti akan lebih baik kalo dibawah kepemimpinan orang orang yang punya niat baik hati nurani dan siap kerja keras seperti Pak Ganjar, Pak Ahok dan Pak Jokowi..

    ReplyDelete
  10. Andaikan orang Kristen ( Katolik/Protestan/GBI/GKI/HKBP/Oikumene/dll) dapat mendirikan rumah ibadah sebebas orang Muslim mendirikan Masjid dan Mushola dan tanpa didikte oleh SKB 3 Menteri yang justru sangat bertentangan dengan amanah UUD 1945. Bagaimana tidak konyol, mau mendirikan rumah ibadah harus meminta persetujuan masyarakat skitar dengan kuota tertentu, sedangkan orang beragama Islam kalau hendak mendirikan mushola/masjid di lingkungan kristen tidak pernah dihalangi apalagi dipersulit..Pejabat2 jgn bicara tentang toleransi umat beragama kalau SKB 3 Menteri konyol itu tidak dicabut. Kenapa umat Islam hrs takut kalau ada umat Kristen yang mau bangun gereja atau kapel, sedangkan umat Kristen tidak pernah takut kalau ada umat islam yang mau bangun masjid /mushola(hanya takut kalau lingkungannya jadi sarang teroris) kenapa pemahaman agamanya menjadi sangat dangkal kalau ada gereja dibangun lgs mengerahkan ormas Islam, ada dengar orang Katolik kumpul untuk berdoa lgs digerebek dan dianiaya..
    Waspada terhadap ormas Islam yang mendompleng agama Islam hanya untuk menyalurkan bakat premanismenya.
    Banyak orang yang mengaku FPI ternyata direkrut dr tukang2 ojek yang sepi sewaannya, anggota FBR yang lama gk berantem trus kemudian dikasih jubah putih dan kopiah trus teriak2 allahuakbar..

    ReplyDelete
  11. inilah gambaran nyata hasil pendidikan kita baik itu agama, tehnologi. kita belim bisa memaknai apa itu pliralitas dalam hidup berbangsa dan bernegara. kita ini negara dengan multi agama. negara lain saja bisa kagum pada negara kita...mengapa kita yang hidup di negara ini malah seperti perilaki binatang.. tolong direleksikan baik-baik....

    ReplyDelete
  12. Indonesia memang gila apalagi ormas-ormas berjubah itu...orang berdoa itu pake cara masing-masing kok seenak perutnya dilarang ada politik konspirasi tingkat inggi, saya melhat ada pembiaran oleh aparat penegak hukum ini bertujuan untuk mengekang perkembangan/kebebasan beragama di indonesia utamanya kaum minoritas, agama selain mayoritas hendak dibonsai di indonesia, sedang agama mayoritas dipupuk dengan membolehkan cara-cara kekerasan bukan hanya terjadi sekali dua kali sudah menjadi kebiasaan ini artinya sudah tertata secara sistematis....dimanakah letak keadilan, yang ada keadilan semu menurut cara pandang mayoritas.

    ReplyDelete
  13. D jawa sedikit doa rosario, karena diganti FA, komsel, selgrup ato pu kebaktian keluarga .. ini merupakan penggenapan di akhir zamn,, klo pada pada waktunya nanti gereja ditutup dan ibadah menjadi dari rumah ke rumah... GBI juga jarang di NTT, karena ijinnya juga susah susah gampang.. Malang sekarang udah "ijinisasi" jangan salah.. BTW.. JLU..
    Peter-081.659.2524

    ReplyDelete
  14. sudah-sudah.... Indonesia mau pecah kan?? Bagaimana jika Papua dan Maluku merdeka?? makin pecah to Indonesia...

    #puas

    ReplyDelete
  15. perlu kerja keras, perjuangan keras untuk saling menghargai keyakinan sesama. gak gampang. butuh kebesaran hati dan keterbukaan.

    ReplyDelete
  16. jadi bahan koreksi untuk pemerintah.

    ReplyDelete
  17. makanya gerombolan2 itu takut jika Jokowi mau naik karena di belakang Jokowi itu ada banser yang sudah lama mengincar kelompok2 ini. Indonesia itu sudah damai dengan adanya NU dan Muhammadiyah yang keduanya mewakili watak bangsa Indonesia yang pluralisme tapi agamais. NU saya yakin sudah sangat ingin turun tangan tetapi penguasa sekarang masih melindungi mereka. Semoga wahabisme ini diberangus dari nusantara.

    ReplyDelete
  18. Negara EDAN karena ABSEN melindungi minoritas

    ReplyDelete