13 June 2014

Karyawan Punya Burung, Karyawati Tidak

Iseng-iseng saya bertanya kepada seorang teman, staf di sebuah perusahaan. Apa beda karyawan dan karyawati?

"Gampang banget. Kalau karyawan itu punya burung, sedangkan karyawati itu tidak punya burung," jawab si teman dengan nada bercanda ala orang Jawa Timur.

Hehehe.... Jawaban ini memang tidak salah. Sampai sekarang sebagian orang Indonesia masih membedakan karyawan dan karyawati. Karyawan untuk laki-laki, sedangkan wanita disebut karyawati. Murid perempuan disebut SISWI, murid laki-laki disebut SISWA.

Mahasiswa x mahasiswi.
Pemuda x pemudi.
Wartawan x wartawati.
Sastrawan x sastrawati.
Seniman x seniwati.
Relawan x relawati (jarang terdengar).
Muda x mudi.

Bangsawan x bangsawati (tidak ada, cuma karangan saya aja).
Pramugari x pramugara.
Rekan x rekanita (populer di sebuah radio di Surabaya).
Ustad x ustadah.
Biarawan x biarawati.
Santri/santriwan x santriwati.
Direktur x direktris.

Kalau diperpanjang, kita bisa menemukan banyak sekali kata-kata yang berjenis kelamin. Saya masih ingat pelajaran bahasa Indonesia di SMP di kampung saya, Flores Timur, NTT, dulu bahwa akhir MAN untuk laki-laki, sedangkan akhiran WATI untuk wanita alias perempuan. Akhiran NITA juga untuk wanita.

Bagaimana dengan waria atau bencong? Pakai akhiran apa? Tidak ada. Sebab, di Indonesia yang diakui hanya dua jenis kelamin: wanita dan pria. Teman-teman aktivis perempuan lebih suka menggunakan kata perempuan ketimbang wanita. Saya sih sama saja. Semakin banyak sinonim, semakin banyak variasi, bukan?

Mencermati penggunaan kata, khususnya yang berjenis kelamin di media massa dalam 20 tahun terakhir, semakin kuat gejala bahwa akhiran feminim makin tidak populer. Kaum wanita lebih suka menyebut dirinya karyawan, bukan karyawati.

Di Surabaya, sejauh pengamatan saya, semua jurnalis perempuan menyebut dirinya wartawan, bukan wartawati. Istilah rekanita sudah tidak ada lagi, kecuali di salah satu radio di Surabaya itu.

Istilah seniwati hanya saya dengar di lingkungan ludruk di Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto. Istilah santriwati masih cukup populer. Jarang ditulis santri wanita atau wanita santri.

Istilah USAHAWAN hampir tidak terdengar lagi. Apalagi USAHAWATI. Yang paling netral, bisa mencakup semua, ya PENGUSAHA.

Istilah BIARAWAN dan BIARAWATI masih sangat populer di lingkungan Katolik. Dan rasanya tidak mungkin melebur seperti kata karyawan, wartawan, atau sukarelawan. Sebab, ada perbedaan besar antara biarawan dan biarawati dalam tradisi Gereja Katolik.

Istilah lama di lingkungan Katolik, yang dulu sangat populer tapi kini menghilang, adalah MUDA-MUDI. Organisasi Muda-Mudi Katolik yang disingkat Mudika sudah lama berganti nama menjadi OMK: Orang Muda Katolik. (Bukan Orang Mudi Katolik). Kalau ada pidato atau sambutan di gereja yang masih pakai istilah muda-mudi bisa dipastikan wong lawas alias orang lama. Hehehe...

Minggu lalu saya membaca majalah TEMPO lawas, edisi 2007. Majalah terkenal yang editor bahasanya paling ciamik ini menggunakan istilah SISWA PEREMPUAN. Saya pun terdiam dan makin yakin bahwa kata SISWA atau MAHASISWA tidak lagi menunjukkan laki-laki, tapi semua jenis kelamin.

Saya sendiri sering mengganti kata KARYAWAN dengan PEKERJA ketika mengedit tulisan orang lain. Sebab, saya tahu bahwa yang unjuk rasa itu bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan.

Teman-teman Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bahkan sejak awal berdirinya tahun 1996 tidak menggunakan kata WARTAWAN melainkan JURNALIS. Mungkin khawatir jurnalis perempuan protes karena merasa tidak dilibatkan.

Meredupnya kata-kata feminim, dan wanita sekarang lebih suka diatribusi dengan kata-kata maskulin seperti karyawan, wartawan, sastrawan ini juga tidak lepas dari tren busana. Saat ini kita semakin sulit menemukan wanita yang pakai rok atau pakaian yang benar-benar khas wanita. Hampir semua wanita, khususnya yang lahir di atas tahun 1975, memakai celana.

Padahal, zaman dulu pakaian wanita dan pria sangat berbeda nyata. Lihat saja film-film era 1970an ke bawah. Sekarang ini kalau ada wanita yang pakai kebaya atau rok ke kantor pasti jadi bahan tertawaan orang. Bisa-bisa dikira bocor halus.

1 comment:

  1. Mohon dikoreksi kalimat berikut
    Murid perempuan disebut siswa, murid laki-laki disebut siswi.

    ReplyDelete