21 June 2014

Banjir Sidoarjo, Pemkab Lambat Antisipasi



Hingga kini genangan air di sebagian wilayah Sidoarjo bagian utara belum juga surut. Pagi tadi saya coba mampir ke Sawotratap dan Bangah di Kecamatan Gedangan. Eh, ternyata airnya masih tinggi. Di atas 50 sentimeter.

Yah, terpaksa batal mengunjungi Bu Jum, Mas Bagus, dan kenalan-kenalan lama di Bangah. Tiga tahun lebih saya tinggal di Bangah, desa yang berbatasan dengan Sawotratap, Pepelegi, dan Wage. Kawasan yang ternyata paling parah digenangi banjir dahsyat tahun.

"Syukurlah, saya sudah tidak tinggal di Bangah," kata saya dalam hati. Kasihan juga melihat begitu banyak orang yang saya kenal harus mengungsi karena kampungnya tenggelam.

Sebagai mantan penduduk Bangah, saya cukup tahu kondisi geografis kawasan itu. Mulai dari Bangah yang berbatasan dengan sungai kecil di kompleks Marinir, Sawotratap, Pepelegi, hingga Kali Buntung. Si Kali Buntung inilah yang jadi tersangka utama banjir dahsyat yang melanda kawasan utara Sidoarjo sejak 16 Juni 2014 lalu itu.

Posisi tanahnya memang sangat rawan banjir. Mulai Sawotratap (bagian barat), Bangah, Pepelegi, hingga ke wilayah Taman itu lebih rendah dari jalan raya utama di mulut akses masuk ke Bandara Juanda. Saluran drainase memang ada tapi tidak berfungsi dengan baik. Begitu hujan sedikit saja, saluan itu penuh. Air meluber ke jalan. Ini juga karena warga ramai-ramai meninggikan lantai rumahnya.

Betapa sengsaranya warga Bangah dan Sawotratap selama musim hujan. Kita yang setiap hari ke Surabaya susah menembusi jalanan yang genangannya sulit hilang itu. Maka, warga biasanya memutar ke Kedungturi atau Medaeng agar bisa ke Surabaya.

Warga Bangah itu guyub dan welcome dengan pendatang. Banyak warung kopi untuk cangkrukan dan nonton bareng sepak bola. Maklum, Bangah ini salah satu sentra buruh yang kebanyakan bekerja di Maspion I. Karena, penduduk asli dan pendatang hampir imbang jumlahnya. Bahkan, mungkin lebih banyak pendatangnya setelah muncul beberapa perumahan baru.

Nah, saat ngobrol di warkop itu, warga Bangah selalu titip aspirasi agar jalan diperbaiki dan banjir dicegah. Kayak anggota dewan, aspirasi ini saya tampung kemudian ditulis di koran. Waktu itu bupati Sidoarjo yang lama, Pak Win, cukup tanggap. Jalan yang terlalu mudah rusak itu pun diperbaiki. Dibikin mulus.

Tapi akar masalahnya kurang disentuh. Yakni pematusan atau drainase yang bermasalah itu. Pemkab tidak mengantisipasi limpahan air pada musim hujan, air pasang, hujan yang ekstrem lebat, seperti sekarang. Toh, warga senang aja karena jalannya mulus lagi.

Tak sampai dua tahun saya pindah, kondisi Bangah di sebelah utara, eks tempat tinggal saya di Jalan Beringin, sudah berubah total. Dulu sejauh mata memandang hanya ada sawah dengan padi yang hijau menguning. Wilayah Pepelegi terlihat jelas. Itulah lahan pertanian yang juga berfungsi sebagai areal tangkapan air.

Suatu ketika iseng-iseng saya melintas lewat pojok, yang dulu sering jadi tempat mangkal pemain-pemain remi dan domino. Wow, Bangah berubah luar biasa. Sawah sudah tidak ada lagi. Yang ada rumah-rumah yang sangat padat. Tak jauh beda dengan Surabaya.

"Tinggal tunggu waktu saja. Dulu sawah masih luas saja sudah gawat. Bagaimana pula dengan sekarang? Kalau hujannya ekstrem?" kata saya dalam hati.

Rupanya di awal musim kemarau tiba-tiba hujan deras menghantam Kabupaten Sidoarjo bagian utara. Mulai Bandara Juanda di Kecamatan Sedati, Gedangan, Waru, dan Taman. Bangah, Pepelegi, Sawotratap terendam air. Bos Maspion Pak Alim Markus mengklaim rugi Rp 5 miliar gara-gara pabriknya di Bangah dan Sawotratap terendam air.

Tiba-tiba saja wilayah desa yang pernah saya tinggali masuk koran, televisi, dan internet. Gara-gara banjir.
Mudah-mudahan banjir dahsyat, yang juga melumpuhkan akses masuk Bandara Juanda, ini diambil hikmahnya oleh Pak Bupati Abah Saiful Ilah. Pembenahan saluran irigasi dan drainasi di wilayah utara, yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, harus jadi prioritas.

Kita sebagai warga Kabupaten Sidoarjo pasti malu dengan tetangga sebelah, Surabaya. Sama-sama diguyur hujan deras pada saat yang sama, intensitas yang sama, mendapat aliran air dari sungai yang sama (Sungai Brantas), kok efeknya beda? Wilayah Sidoarjo tenggelam, sementara Surabaya biasa-biasa saja?

Gak ada salahnya belajar sama Pemkot Surabaya cara mengendalikan banjir secara baik dan benar. Apalagi sejak 2001 tim ahli dari ITS Surabaya, yang sebagian tinggal di wilayah Kabupaten Sidoarjo, sudah menyusun rekomendasi pembangunan tata kota ke depan.

"Pemkab Sidoarjo terlambat merespons sehingga terjadi penderitaan warga seperti sekarang," kata Haryo Sulistiarso, dosen ITS.

Oh ya, kalau tidak salah DPRD Sidoarjo pun sudah studi banding ke Belanda. Tapi kok jadinya seperti sekarang ya!

2 comments:

  1. pak hurek, boleh minta no.hp? ada yg mau saya tanya"kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamsia yolanda sudah komen. email aja di hurek2001(at)yahoo.com. hape kayaknya gak bagus kalo tayang di internet. suwun

      Delete