08 June 2014

Anak SMK Masuk Fakultas Filsafat

SAYA BERPIKIR MAKA SAYA ADA


Siang kemarin saya bertemu Rusli di dekat Bandara Juanda. Tak sengaja. Dia mau mengambil komputer dan peralatan editing filmnya. Rusli baru saja menang di festival film pelajar di Sidoarjo.

"Saya mau ke Jogja," katanya menjawab pertanyaan saya. Lulusan SMK, sekolah menengah kejuruan, ini ternyata sudah diterima di fakultas filsafat. UGM: Universitas Gajah Mada yang terkenal itu.

Hebat juga si Rusli ini, pikir saya. Lain dari lain! Lulus SMK yang disiapkan untuk cepat kerja, jadi tukang, kok malah pilih filsafat. Fakultas yang mengajak mahasiswa mengembara jauh ke awang-awang. Membaca Plato, Socrate, Sartre, Habermas, dan sebagainya.

Saya mau ketawa menemui kenyataan aneh tapi nyata ini. Ada lulusan SMK sangat berminat masuk filsafat dan memang terkabul. Sudah bertahun-tahun saya ngobrol dengan anak SMA atau SMK, tapi baru kali ini ketemu orang yang benar-benar niat masuk fakultas filsafat.

Sebetulnya saya mau bertanya banyak tentang alasan-alasan Rusli masuk filsafat. Apa yang dicari? Lulus filsafat kerja apa? Apa hubungan antara SMK jurusan mesin dengan filsafat, ilmu yang abstrak itu. Tapi saya urungkan karena bisa merusak suasana.

Saya hanya ketawa-ketawa sendiri setelah meninggalkan si Rusli. Juga kagum karena hari gini masih ada lulusan SMA/SMK yang memilih filsafat. Di zaman ketika pemikiran mendalam, ketekunan membaca buku, kemampuan berpikir abstrak sepertinya tidak laku lagi.

Bahkan, orang sekarang lebih suka jalur cepat dapat uang ketimbang kuliah terlalu lama. Lebih baik tidak sekolah, tapi kaya dan terkenal, artis top, ketimbang sekolah atau kuliah lama-lama tapi hasilnya mengenaskan. Ini juga yang menyebabkan banyak artis remaja memilih putus sekolah, pilih home schooling, ketimbang sekolah beneran atau kuliah serius.

Ah, Rusli, kamu ini membuka mata saya bahwa filsafat masih diminati. Masih ada orang Jawa, yang pikirannya makin praktis itu, yang mau menekuni humaniora yang menuntut konsentrasi luar biasa. Indepth thinking.

Bukan apa-apa. Sudah lama saya sering iseng-iseng berpikir dalam kesendirian. Mengapa Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Flores dan sekitarnya, sulit maju? Tidak bisa lari cepat seperti Jawa, apalagi Tionghoa?

Faktor alam yang keras, kuran hujan, kondisi tanah, memang faktor penting. Tapi, menurut saya, faktor utama adalah terlalu banyak sarjana atau cendekiawan asal Flores yang filsuf. Mereka menekuni filsafat di seminari menengah, seminari tinggi, hingga doktoral di Eropa.

Terlalu banyak filsuf, dan teolog, di Flores membuat sulitnya mencari terobosan-terobosan praktis. Sebab filsafat itu cenderung bertentangan dengan kepraktisan. Orang-orang yang praktis dan pragmatis suka berpikir sederhana. Menyederhanakan masalah-masalah yang rumit menjadi simpel.

Sebaliknya, mahasiswa filsafat, sarjana filsafat, atau doktor filsafat doyan membuat masalah-masalah yang sederhana menjadi jelimet. Jika ada sampah menumpuk di kampung, orang Tionghoa berpikir praktis dan ekonomis. Sampah itu diolah jadi gas, kompos, listrik, dsb.

Beda dengan filsuf di Flores. Dia akan melihat sampah itu sebagai wujud konstruksi pemikiran dengan aneka tinjauan teoteris dari berbagai pendekatan. Ujung-ujungnya sampah itu tidak diolah atau dibakar. Karena itu, kata teman saya, filsafat itu sangat cocok untuk manusia-manusia yang malas kerja, banyak bicara, dan suka berpikir berbelit-belit.

Mudah-mudahan si Rusli ini cocok dengan pilihannya di fakultas filsafat.

1 comment:

  1. wah, ga bisa di generalisir gtu boossss, klo filsafat ga praktis, saya pernah tanya akan hal ke Donni Gahral Adian (dosen filsafat UI), dia menolak klo seorang yg belajar filsafat tidak bisa berpikir praktis, tapi menurut saya kecenderungan provinsi yg agamis (baik itu Katolik dan Islam) jarang melihat ke-praktisan itu sebagai nilai tambah, makanya banyak pendatang rata - rata lebih survive dan sukses di provinsi2 tertentu, untuk mengatasi hal ini, ya harus ada perubahan paradigma, kenali potensi lokal apa yang bisa dijual, nah filsafat masih perlu guna berpikir menyeluruh, mendalam tetapi jangan terjebak pada diskursus saja, semangat ora et labora harus dihidupkan kembali, Tuhan bekerja jika kita berusaha dan berdoa, itu yang hilang dari orang2 lokal, go NTT :)

    ReplyDelete