05 June 2014

Akhirnya Ririn tergusur Tol Sumo



Sekitar setengah jam lalu saya mampir ke rumah Ririn dan Mbak Murniati di Bebekan, Taman, Sidoarjo. Gak nyangka kalau atap rumah putri tentara (almarhum), pensiunan marinir, itu tinggal kerangka. Sebagian tembok sudah hancur.

Ririn dan keluarganya duduk di bawah pohon keres di depan rumah. Menunggu tukang yang sedang membongkar rumah masa kecil hingga dewasa itu. Ngobrol ngalor ngidul, sesekali bercanda. "Ini rumah yang penuh memori. Kenangan sama almarhum bapa saya yang sudah tiada," katanya tetap tersenyum manis.

Rumah yang tak jauh dari masjid di Bebekan ini akhirnya tergusur juga. Demi proyek besar bernama Tol Surabaya-Sidoarjo. Ratusan rumah dan bangunan lain di Taman, Waru, Krian, hingga Tarik yang terkena jalur Sumo sudah lama rata dengan tanah.

Dengan menyerahnya Ririn dan keluarganya, maka praktis tidak ada lagi bangunan di Kabupaten Sidoarjo yang mengganjal pembangunan Tol Sumo itu. "Kami sengaja bertahan karena rumah yang baru belum selesai. Setelah selesai, ya, harus pindah," Murniati menambahkan.

Kini Ririn dan keluarga sudah punya rumah baru di Sepanjang Asri, tidak begitu jauh dari rumah lama. Hasil ganti rugi tanah dan bangunan yang tergusur tol strategis itu. Hanya saja, menurut Ririn, duit kompensasi penggusuran itu sebetulnya tidak terlalu banyak.

"Kalau zaman dulu pemilik rumah yang kena tol bisa jadi kaya raya, sekarang ini hanya cukup untuk membuat rumah baru. Cuma sedikit yang bisa disimpan," kata wanita yang selalu ceria itu.

Saya masuk ke dalam rumah. Wow, rupanya Ririn mengeluarkan unek-uneknya lewat tulisan di dinding. "Ada kampung baik, ada kampung jelek, semua tergantung manusianya," begitu salah satu coretan si Ririn.
Ada lagi: "Gusti Allah menyukai orang-orang yang sabar!"

Kata-kata Ririn memang penuh makna. Pindah rumah itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan penguasa atau yang empunya proyek. Rumah baru jelas lebih besar dan bagus ketimbang rumah lama. Tapi nilai kenangan, memori, itulah yang tidak bisa ditukar dengan uang. Berapa pun nilainya.

Ini pulalah yang dialami ribuan korban lumpur Lapindo di Porong dan sekitarnya. Saya hanya bisa berdoa semoga Ririn sekeluarga lebih berbahagia di kampung yang baru. "Ada kampung baik, ada kampung jelek, semua tergantung manusianya!"

Semoga Ririn sekeluarga tinggal di kampung yang baik!

No comments:

Post a Comment