14 June 2014

41 tahun Gereja Baptis Waru Sidoarjo



Kamis malam, 12 Juni 2014, Gereja Baptis Indonesia (GBI) Waru, Sidoarjo, genap berusia 41 tahun. Usia yang lumayan matang untuk sebuah gereja di Kabupaten Sidoarjo. Gereja yang terletak di pinggir jalan raya Waru, dekat Terminal Bungurasih, ini dirintis pada 1973 ketika kawasan Waru dan sekitarnya belum jadi kota seperti sekarang.

Pabrik-pabrik masih banyak, Terminal Bunguasih belum ada, masih sepi jali. Jalan raya belum macet-cet-cet seperti sekarang. Juga belum ada Rumah Sakit Mitra Keluarga yang kini kelihatannya seperti satu kompleks dengan Gereja Baptis Waru. Pembangunan RS Mitra Keluarga yang dimulai sekitar 2006 seakan menenggelamkan Gereja Baptis Waru.

Saya sendiri khawatir gereja ini bakal tergusur oleh hospital bermodal besar itu. Atau, istilah halusnya, ditukar guling. Ya, di zaman modern ini rumah-rumah ibadah sering kali harus mengalah demi pusat belanja modern atau bisnis rumah sakit.

Nah, malam itu saya mampir ke Gereja Baptis Waru. Suasana meriah, banyak balon warna-warni, ada tumpeng khas Jawa. Menurut Mas Wawan, salah satu panitia, perayaan ulang tahun ke-41 Gereja Baptis Waru ini dilaksanakan secara sederhana. Kebaktian, puji-pujian, sharing pengalaman dari pendiri gereja, tumpengan, makan bersama nasi kotak.

"Jemaat bersyukur kepada Tuhan atas penyertaan Tuhan selama 41 tahun perjalanan Gereja Baptis Indonesia Waru. Dan kami berdoa semoga Tuhan Yesus selalu memberkati jemaat gereja ini," katanya ramah.

Sementara itu, Bu Nathan, kalau tak salah ingat namanya, maklum gak nyatat, menceritakan perjalanan panjang gereja baptis ini. Dimulai dengan jemaat yang sedikit, gereja mungil, akhirnya bisa berkembang seperti sekarang. Nama Gereja Baptis Waru cukup diperhitungkan di Jawa Timur.

Sayang, saya tak bisa menyimak cerita menarik dari Bu Nathan. Sebab, tiba-tiba ada insiden kecil di belakang gara-gara miskomunikasi dan mispersepsi. Ada seorang wartawan dari Sidoarjo yang dicurigai petugas keamanan di depan gereja. Padahal, si wartawan itu datang dengan niat baik untuk meliput acara ulang tahun Gereja Baptis Waru.

Polisi dari Polsek Waru pun diminta untuk memeriksa kartu pers dan identitas wartawan. Ternyata memang tidak ada masalah. "Maaf, kami ini minoritas sehingga harus sangat waspada. Khawatir ada orang jahat yang menyusup masuk dengan kedok wartawan," kata seorang panitia.

Untung saja insiden kecil ini cepat selesai. Happy ending! Pekerja media pun diajak menikmati nasi kotak yang sudah disediakan.

Pak Polisi yang tadi menginterogasi wartawan pun akhirnya tertawa kecil dan bersalaman dengan si nyamuk pers. "Orang Nasrani di sini semakin sensitif. Kalau melihat wajah orang yang belum dikenal, mereka sangat curiga. Ini malah bagus untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," kata sang penegak hukum itu.


No comments:

Post a Comment