30 June 2014

Komentator bola tak bisa komentar

Siaran langsung Piala Dunia 2014 di tvOne dan Antv selalu melibatkan pengamat atau komentator bola. Biasanya mantan pemain timnas, pelatih, wartawan sepak bola, bahkan artis dan politikus. Sayang, banyaknya iklan dan hura-hura kuis membuat komentator tak punya kesempatan bicara.

Ada beberapa pengamat yang bagus seperti Rahmat Darmawan atau Justinus. Tapi ya itu tadi, baru bicara dua tiga kalimat sudah dipotong si Putri Viola, presenter yang lebih banyak bicara ketimbang komentator yang diundang ke studio. Gakpopo sing penting siaran langsungnya gak kepotong!

Analisis Piala Dunia yang mendalam, bukan hura-hura ala selebritis dan politikus, rupanya tak akan ada lagi di Indonesia. Sebab, TV pemegang hak siar harus memutar iklan-iklan menjelang pertandingan, saat turun minum, dan akhir pertandingan.

Jadi, sebetulnya pengamat bola tidak diperlukan lagi karena iklan jauh lebih penting. Iklan menghasilkan uang, sementara pengamat atau komentator harus dibayar honornya.

Analisis Piala Dunia yang bagus dan mendalam di Indonesia sudah lamaaa berlalu. Adanya ketika televisi masih dimonopoli TVRI yang tidak boleh beriklan. Satu-satunya iklan running text SDSB: sumbangan dermawan sosial berhadiah! Karena tidak ada iklan itulah, pengamat bola bisa bicara panjang lebar dan mendalam.

Pengamat-pengamat jempolan masa lalu antara lain Ronny Patinasarani (almarhum), John Halmahera, Ronny Pangemanan (masih sering muncul di TV swasta), Eddy Sofyan, dan Iswadi Idris (alm). Kadang-kadang Sinyo Aliandoe, mantan pelatih timnas yang sukses, pun diminta jadi komentator.

Begitu mendalamnya analisis bola zaman dulu, kita yang awam pun jadi paham berbagai sistem main bola. Seperti 442, 433, 352, 532, total football ala Belanda, pertahanan grendel Italia, jogo bonito, dan sebagainya.

Mengapa sistem kick n rush ala Inggris sulit menang. Ada lagi istilah staying power ala Jerman. Kemudian sistem penguasaan bola ala Jerman versi Beckenbauer yang mirip panser. Ilmu-ilmu dasar balbalan ini bisa kita peroleh dengan gratis saat menonton siaran langsung sepak bola di TVRI yang disponsori SDSB.

Zaman memang sudah berubah total. Pengamat bola makin banyak, makin pintar, setiap saat bisa mengakses informasi di internet. Beda dengan pengamat bola zaman dulu yang harus hafal data di luar kepala karena belum ada internet. Luar biasa memori, daya ingat, manusia-manusia jadul!

Kini, pengamat bola yang dua orang itu lebih banyak mejeng saja karena keok sama iklan. Masih jauh lebih bagus televisi-televisi Barat macam ESPN atau Star yang memberi banyak kesempatan untuk komentator bola.

Yah, piye maneh, iklan itu berhalanya televisi-televisi kita!

Belanda dan Brasil Mengecewakan

Tim yang bermain bagus tidak selalu menang. Itulah yang diperlihatkan Meksiko semalam. Belanda yang dimotori Robben akhirnya menang meskipun kurang meyakinkan. Van Persie melempem sehingga diganti oleh Huntelaar.

Hanya Robben yang main bagus dengan gorengan bola ala Latin ke dalam area penalti. Plus beberapa kali diving untuk cari penalti. Mantan pemain Chelsea ini akhirnya benar-benar dijatuhkan dan dapat hadiah penalti. Gol, 2-1, di masa tambahan waktu.

Sayang sekali Meksiko yang sudah main bagus, bikin Belanda kocar-kacir, akhirnya harus kalah. Semata-mata karena sistem pertahanan yang kurang bagus menjelang akhir babak kedua. Robben kalau dibiarkan gocek bola sendirian ya jadinya seperti tadi malam itu.

Dari sini kita sadar bahwa Belanda ternyata bukan tim super. Do Santos bisa dengan mudah melewati beberapa bek lalu menceploskan bola. Kiper Belanda pun berkali-kali menyelamatkan gawangnya dari tendangan pemain-pemain Meksiko yang keras dan terarah.

Malam sebelumnya kita menyaksikan permainan Brasil yang juga medioker. Kualitas tuan rumah Piala Dunia 2014 ini bahkan lebih parah ketimbang Belanda. Cile yang justru beberapa kali membuat pemain belakang Brasil kepontal-pontal.

Kita juga lihat dua striker, Fred dan Jo, melempem di depan gawang. Hanya Neymar yang tampil bagus. Karena itu, sebagai penonton netral, yang tidak pernah fanatik pada tim mana pun, saya sih inginnya Cile menghukum Brasil dengan gol-gol kemenangan.

Sayang, pertandingan dilanjutkan 2 x 15 menit dengan kualitas permainan yang makin tidak karuan. Pemain-pemain sepertinya sudah terlalu capek. Banyak jalan kaki ketimbang berlari mengejar bola. Sama-sama tunggu adu penalti.

Dan begitulah hasilnya kalau Cile gagal mencetak gol di waktu normal. Cile tidak kalah, skor 1-1, tapi gagal ke 8 besar. Salut untuk Cile yang sudah memamerkan kualitasnya kepada dunia. Sekaligus menunjukkan kelemahan tim nasional Brasil yang sudah kehilangan jogo bonito dan naluri mencetak gol.

28 June 2014

Sulit jadi orang tua di era IT

Ada sebuah seminar kecil di gereja Katolik di Surabaya. Topiknya tentang orang tua, anak, dan IT. Tiga pembicara, salah satunya profesor, meminta para orang tua supaya selalu mendampingi anaknya yang main internet, media sosial, game online, dsb.

Para orang tua khawatir akan dampak negatif IT meskipun mengaku begitu banyak manfaat positifnya. Para ortu pun senang main FB karena bisa chatting sama teman-teman lama baik yang sudah tahunan tidak berjumpa.

Tidak mudah memang mengatasi kesenjangan generasi (generation gap) di era IT ini. Dari dulu isu ini dibicarakan tapi makin runyam di zaman sekarang karena IT berkembang luar biasa.

Sebelum ada komputer, internet, laptop, dan turunannya kesenjangan generasi tidak separah sekarang. Manusia yang lahir tahun 1970an dan 1980an bedanya tidak terlalu jauh karena sama-sama belum ada komputer dan internet. Masih sempat mengenal mesin ketik.

Anak-anak yang lahir tahun 2000an dan 2010an benar-benar dahsyat. Begitu lahir sudah main laptop, smartphone, tablet, dsb. Orang tuanya pun sudah canggih tapi tidak bisa lagi maniak IT. Si anak berlari terus dengan gadget.

Komunikasi dengan ortu pun makin gak nyambung. Ortu dianggap jadul, gaptek, ketinggalan zaman. Ortu makin sulit mengimbangi akses IT yang dinikmati si anak. Ortu yang tempo doeloe jadi sumber informasi kini kehilangan peran karena Google, wikipedia, dsb sudah menyediakan informasi yang melimpah.

"Makin berat jadi orang tua di zaman sekarang," kata seorang ibu muda di Kepanjen.

Meski begitu, kata para narasumber di seminar ini, orang tua tak bisa lepas tangan dalam konsumsi IT anaknya. Okelah, ortu kalah canggih sama anaknya, tapi role model, moralitas, pendidikan agama, iman, tetap bersumber dari rumah. Tidak bisa diserahkan ke IT.

Lembaga Survei dan Intelektual Tukang

Satu jam lalu dua televisi nasional menayangkan hasil survei keterpilihan calon presiden. Hasilnya bertolak belakang satu sama lain. Lengkap dengan analisis dari pengamat alias ilmuwan penafsir hasil survei.

Hasil survei yang ditayangkan di Metro TV semuanya mememangkan Jokowi-Jusuf Kalla. Sebaliknya, lembaga-lembaga survei yang dimuat tvOne semuanya memenangkan Prabowo-Hatta Rajasa. Kata si pengamat di tvOne, elektabilitas menurun terus dari waktu ke waktu. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo naik terus.

"Sekarang Prabowo sudah unggul atas Jokowi," kata si pengamat sambil memperlihatkan grafik besar di layar televisi. Penyiar tvOne pun tampak begitu senang karena Prabowo menang!

Horeee! Luar biasa lembaga-lembaga survei yang makin menjamur di Indonesia ini. Kita tidak tahu lagi nama-nama lembaga survei saking banyaknya. Kita juga tidak tahu kapan lembaga-lembaga itu mengumpulkan data, wawancara, dan sebagainya.

Begitulah, reformasi juga melahirkan industri survei yang tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Dosen-dosen yang biasanya mengajar dalam sepi di kampus atau lembaga penelitian universitas kini ramai-ramai bikin lembaga survei.

Maka, kecemasan almarhum Gus Dur akan maraknya intelektual tukang yang disampaikan tahun 1990an kini menjadi kenyataan. Kalau dulu, zaman Orde Baru, intelektual tukangnya masih sedikit, sekarang benar-benar melimpah. Dosen atau peneliti kita justru sangat bangga jadi intelektual tukang.

Bangga karena lembaganya sukses memenangkan si Polan jadi bupati, gubernur, atau presiden. Bangga karena hasil quick count-nya mendekati hasil penghitungan sebenarnya versi KPU. Intelektual yang bangga jadi tim sukses calon tertentu.

Lembaga-lembaga survei jelas merupakan kumpulan para intelektual tukang. Intelektual yang dibayar sekian ratus juta atau sekian miliar untuk memenangkan yang bayar. Maju tak gentar membela yang bayar! Maka data statistik pun bisa dimainkan seenaknya demi memenangkan yang bayar... meskipun hanya menang ilusi di survei.

Kita layak cemas dengan maraknya intelektual tukang yang bermental WANI PIRO ini. Minggu lalu kalau tidak salah ada peringatan dari Jeffrey Winters, intelektual beneran dari USA, tentang krisis cendekiawan di Indonesia. Tidak ada penelitian atau buku-buku mutakhir karya cendekiawan Indonesia tentang kajian sosial politik ekonomi budaya yang mendalam di Indonesia.

Ya jelas aja, bagaimana mau bikin kajian kalau intelektual-intelektual tukang itu sibuk menggarap pesanan survei elektabilitas. Sibuk menjadi tim sukses Prabowo atau Jokowi. Sibuk mencari klien mana lagi yang akan diporot uangnya atas nama survei elektabilitas. Sibuk memoles kliennya yang bopeng menjadi mulus.

Begitu hebatnya masukan lembaga survei itu sampai seorang Aburizal Bakrie merasa sangat percaya diri mencalonkan diri sebagai capres dari Golkar. Hary Tanoe juga tampak semangat maju sebagai calon wakil presiden.

Karena sibuk jadi intelektual tukang, intelektual pesanan, kita makin sulit menemukan buku-buku yang berbobot ilmiah karya orang Indonesia di toko buku. Bahkan, buku kajian tentang musik dangdut di tanah air pun ditulis profesor dari University of Pittsburgh, USA, bernama Andrew Weintraub PhD.

25 June 2014

Sluman Slumun Slamet Abdul Sjukur



Pergelaran musik karya Slamet Abdul Sjukur di pendapa STKW Surabaya, Sabtu malam (21/6/2014), terasa lain dari lain. Lampu dibuat temaram layaknya cahaya obor atau pelita di kampung yang belum dimasuki listrik. Kita jadi sulit mengenali wajah penonton meski dari jarak dekat.

Suasana ngelangut, hening, ini rupanya sengaja dihadirkan untuk menikmati lima komposisi karya Slamet Abdul Sjukur (SAS). Karya musik kontemporer yang nyeleneh ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun ke-79 sang komponis asal Keputran, Surabaya, itu.

Syukurlah, penonton berjubel di pendapa. Sebagian besar anak-anak muda 20-an tahun yang lebih pantas jadi cucu-cucu Eyang SAS. Ini tentu luar biasa karena musik SAS bukan genre yang manis atau enak di kuping.

"Musik saya itu gak laku," kata SAS dengan suaranya yang serak halus, nyaris berbisik.

Meski lesehan, santai, gayeng, pembawa acaranya Vika Wisnu memandu program dengan gaya formal ala konser klasik. Paling tidak bisa memberi gambaran kepada penonton tentang latar belakang karya SAS, tahun dibuat, persembahan untuk siapa dan sebagainya.

Gelar karya SAS dibuka dengan nomor seriosa berjudul Kabut (1960). Pak Slamet berjalan pelan dengan kruknya yang setia ke piano bersama Ika Wahyuningsih (piano). Tarik napas panjang lalu mulai masuk intro pendek yang tidak jelas melodinya. Mbak Ika pun melantunkan nyanyian Kabut dengan suara yang jernih.

Tetap enak meski tidak pakai mikrofon. Cocok dengan gerakan antipengeras suara yang pernah digagas SAS. Beda dengan nomor-nomor seriosa ala bintang radio, yang sebelumnya dikupas tuntas oleh Suka Hardjana, kritikus, musikus, sahabat SAS, lagu Kabut ini tidak mengikuti pakem biasa. Kita sulit menebak kapan selesainya. Maka, ketika Ika sudah berhenti menyanyi, penonton masih ragu bertepuk tangan.

Komposisi kedua, Tobor (1961), piano, dibawakan Gema Swaratyagita yang tak lain murid + 'cucu' SAS. Sama dengan karya-karya SAS lain, komposisi ini pun terasa abstrak.

Dari hening, tenang, perlahan SAS ngamuk kayak bonek Surabaya. Gema yang juga komponis rupanya tak sekadar pianis yang pandai membawa partitur, tapi juga meluapkan emosinya ala Eyang SAS. Inilah bedanya pianis yang memainkan karya komponis sekaligus gurunya. Bisa dapat arahan atau petunjuk langsung dari suhunya.

Penonton pun bertepuk tangan panjang. Komposisi piano ini dikarang khusus SAS untuk putrinya Tiring Mayang Sari pada 1961. SAS waktu itu harus meninggalkan sang putri yang baru berusia satu tahun ke Prancis untuk sekolah musik.

Gema kemudian duet dengan eyangnya, SAS, di nomor ketiga: Gelandangan (1998). Karya ini menampilkan dialog antara SAS dan Gema. Lebih mirip teater ketimbang musik yang dipahami orang yang tak biasa berpikir di luar kotak.

Si wanita, diperankan Gema, mengeluarkan suara-suara aneh, kadang mengenaskan seperti sedang diinjak-injak. Ada celetukan aneh seperti bawang kok diiris nganggo udel... Sepatune ojo disemir terasi....

Eyang SAS memainkan karunding dengan aneka variasi. Alat musik tiup yang mirip mainan anak-anak itu dieksplorasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan bebunyian yang kaya. Memang apa saja bisa dibuat musik oleh komponis 79 tahun yang tak pernah merasa tua itu.

Dua nomor terakhir, Tetabuhan Sungut (1975) dan Game Land 1 (2003), dimainkan Gamelan Kiai Fatahillah. Tetap dalam gaya abstrak ala SAS, tapi jelas lebih mudah dinikmati penonton awam karena memang enak. Tidak memaksa kita mengerutkan dahi layaknya tiga nomor di awal pertunjukan.

Selesai!

Eyang SAS kemudian menyampaikan cenderamata kepada beberapa sahabat dekatnya seperti Suka Hardjana. Pak Suka ini salah satu dari sedikit orang Indonesia yang bisa membaca SAS dan mengapresiasi karya-karya beliau. Juga memuji sikap SAS yang pasrah dan nrimo meski karya-karyanya kurang diapresiasi di negerinya sendiri.

Malam itu saya melihat wajah SAS begitu ceria. Senyam-senyum disalami para penonton plus foto bareng layaknya penyanyi pop terkenal. Beda banget dengan suasana Pertemuan Musik Surabaya (PMS) di Ngagel yang dulu sering saya ikuti.

Di PMS Pak Slamet tak bosan-bosannya menyentil guru-guru piano di Surabaya yang orientasinya duit dan memburu rekor Muri. Guru-guru musik dianggap gagal dalam mengembangkan apresiasi musik di tanah air.

"Malam ini saya senang karena pergelaran ini idenya dari anak-anak muda. Mereka yang bekerja dari awal sampai akhir. Saya hanya tinggal main saja," kata SAS.

Mengutip ucapan seorang muridnya di video jelang pertunjukan (saya lupa namanya), mudah-mudahan Pak SAS diberi umur panjaaang sekali, rambut tetap gondrong dan hitam,jenggot panjang... dan tidak segera dipanggil Tuhan. Agar bisa terus mengarang, mengajar, dan bermain. 

Salam sluman slumun slamet!

24 June 2014

Timnas Inggris yang medioker

Inggris sudah tersisih dari Piala Dunia 2014 di Brasil. Dan itu sudah diprediksi sejak awal. Dengan materi yang pas-pasan, medioker, tak ada striker kelas dunia, sulit bagi Inggris untuk bicara banyak di tingkat dunia. Bahkan di Piala Eropa saja pun sulit.

Inggris hanya punya Rooney yang lumayan bagus tapi belum bisa disebut kelas dunia. Di level klub okelah. Tapi di level dunia, Rooney tidak akan bisa bicara banyak. Selama ini Rooney hanya jadi pelapis striker kelas dunia di MU.

Sayang juga sebenarnya mengingat Inggris punya liga terbaik dan sangat populer di dunia. Tapi apalah gunanya jika Premier Leage hanya jadi ajang pemain-pemain top dari negara lain untuk merumput? Maka, sulit bagi Inggris untuk membentuk tim nasional yang bisa bicara banyak di Euro atau Piala Dunia.

Cara bermain Inggris di Brasil, di dua pertandingan kemarin, sebetulnya tidak jelek. Pemain-pemain muda bergerak cepat, operan dari kaki ke kaki bagus, tempo sedang hingga cepat. Tapi tidak ada pemain kelas dunia yang bisa memecah kebuntuan. Tidak ada breaker.

Belanda punya Arjen Robben. Uruguay punya Suarez. Italia ada Balotelli. Argentina punya Messi. Belgia punya Hazard. Inggris punya siapa? Tidak ada.

Daniel Sturridge bagus tapi tidak istimewa. Jauh di bawah penyerang-penyerang lawas macam Owen atau Shearer. Siapa pun pelatih Inggris akan kesulitan membentuk timnas Inggris yang bisa menangan di level internasional. Sekadar lolos di penyisihan grup saja susah.

Karena itu, kegagalan Inggris kali ini tidak bisa ditimpakan pada pelatih Roy Hodgson. Mau bagaimana lagi kalau materi pemainnya cuma medioker begitu. Pelatih jenius sekelas Van Gaal, Guadiola, atau Mourinho sekalipun tak akan bisa mengubah pemain-pemain kelas loyang menjadi emas.

Tapi Inggris tidak perlu bersedih. Banggalah dengan Liga Inggris yang makin heboh itu. Piala Dunia serahkan saja kepada negara-negara lain yang selalu punya pemain fenomenal. Dan itu biasanya hanya ada di negara-negara yang punya tradisi balbalan jalanan seperti di Amerika Latin.

Gaya bermain ala street footballer macam Robben atau Hazard di Eropa jelas sebuah pengecualian.

23 June 2014

Piala Dunia 2014 Belum Menarik

Saat ini saya sedang menyaksikan pertandingan Belgia vs Rusia. Masih 0-0. Sepertinya kurang menarik. Baik Rusia maupun Belgia sama-sama mandul.

Lukaku baru ditarik keluar. Hazard juga melempem. Cuma kiper Curtouis yang bagus. Secara umum babak pertama tadi kurang greget.

Kemarin juga buruk. Argentina ternyata sangat sulit mengalahkan Iran. Untung Messi bikin gol pada tambahan waktu. Partai yang sangat menjemukan.

Spanyol sudah lebih dulu keok. Tidak ada bekas sama sekali kalau Spanyol yang bermaterikan pemain Barca, Realmadrid, dan Atletico ini juara bertahan. Benar-benar parah. Kita rugi melekan untuk nonton. Siapa suruh begadang?

Italia pun ternyata kalah sama Kosta Rika. Aneh tapi nyata! Dan sangat wajar Italia kalah karena bermain sangat buruk. Semoga tim yang angin-anginan ini tersisih.

Belanda menggebrak di awal tapi kesulitan di pertandingan kedua. Begitu juga Jerman dan Brasil.

Dari sekian partai yang sudah dimainkan, kayaknya belum ada pertandingan yang bermutu layaknya Piala Dunia. Masih lebih seru nonton Liga Inggris atau Liga Spanyol. Kalah menarik sama el Clasico antara Madrid dan Barcelona.

Rupanya balbalan Piala Dunia ini makin tahun justru makin merosot kualitasnya. Kalah jauh dengan eranya Zidane, trio Rivaldo-Ronaldo-Ronaldino, Romario, Voeller, Baggio, Bebeto, apalagi Diego Maradona.

Dulu kayaknya semua pertandingan Piala Dunia selalu seru dan menarik. Bola tidak lekas hilang. Kedua tim sama-sama menyerang, adu skill dan taktik. Sampai sekarang saya masih terkesan pertandingan Jerman vs Belanda di Piala Eropa eranya Van Basten.

Bagi saya, inilah pertandingan sepak bola antarnegara terbaik yang pernah saya saksikan dalam siaran langsung televisi. Padahal saat itu televisi di rumahnya Mbak Endang di Kota Malang itu masih hitam putih. Beberapa keluarga nonton bareng karena pada masa itu TV masih tergolong barang langka.

Pemain-pemain Belanda dan Jerman sama-sama cepat, antusias, ngeyel, jenius, pantang menyerah.

Anehnya, kini, di zaman yang makin canggih, televisi digital, banyak saluran, semua punya TV sendiri-sendiri, bahkan ponsel ada televisinya, kualitas sepak bola ala Belanda vs Jerman di Euro akhir 1980an itu tidak ada lagi.

Si Ronaldo dibahas panjang lebar di koran tapi di lapangan ya... gitu-gitu aja. Si Messi sering gak dapat bola. Si Rooney bingung karena posisinya tidak jelas. Neymar juga masih kalah ciamik sama seniornya Ronaldo atau Romario.

Ini sudah 83 menit Belgia vs Rusia masih 0-0. Berapa tidak menariknya! Tapi, anehnya, kita masih saja memaksa diri untuk nonton Piala Dunia 2014 tengah malam atau dinihari. Sudah rugi fisik, bisa sakit, eh, pertandingan-pertandingannya tidak menarik.

21 June 2014

Banjir Sidoarjo, Pemkab Lambat Antisipasi



Hingga kini genangan air di sebagian wilayah Sidoarjo bagian utara belum juga surut. Pagi tadi saya coba mampir ke Sawotratap dan Bangah di Kecamatan Gedangan. Eh, ternyata airnya masih tinggi. Di atas 50 sentimeter.

Yah, terpaksa batal mengunjungi Bu Jum, Mas Bagus, dan kenalan-kenalan lama di Bangah. Tiga tahun lebih saya tinggal di Bangah, desa yang berbatasan dengan Sawotratap, Pepelegi, dan Wage. Kawasan yang ternyata paling parah digenangi banjir dahsyat tahun.

"Syukurlah, saya sudah tidak tinggal di Bangah," kata saya dalam hati. Kasihan juga melihat begitu banyak orang yang saya kenal harus mengungsi karena kampungnya tenggelam.

Sebagai mantan penduduk Bangah, saya cukup tahu kondisi geografis kawasan itu. Mulai dari Bangah yang berbatasan dengan sungai kecil di kompleks Marinir, Sawotratap, Pepelegi, hingga Kali Buntung. Si Kali Buntung inilah yang jadi tersangka utama banjir dahsyat yang melanda kawasan utara Sidoarjo sejak 16 Juni 2014 lalu itu.

Posisi tanahnya memang sangat rawan banjir. Mulai Sawotratap (bagian barat), Bangah, Pepelegi, hingga ke wilayah Taman itu lebih rendah dari jalan raya utama di mulut akses masuk ke Bandara Juanda. Saluran drainase memang ada tapi tidak berfungsi dengan baik. Begitu hujan sedikit saja, saluan itu penuh. Air meluber ke jalan. Ini juga karena warga ramai-ramai meninggikan lantai rumahnya.

Betapa sengsaranya warga Bangah dan Sawotratap selama musim hujan. Kita yang setiap hari ke Surabaya susah menembusi jalanan yang genangannya sulit hilang itu. Maka, warga biasanya memutar ke Kedungturi atau Medaeng agar bisa ke Surabaya.

Warga Bangah itu guyub dan welcome dengan pendatang. Banyak warung kopi untuk cangkrukan dan nonton bareng sepak bola. Maklum, Bangah ini salah satu sentra buruh yang kebanyakan bekerja di Maspion I. Karena, penduduk asli dan pendatang hampir imbang jumlahnya. Bahkan, mungkin lebih banyak pendatangnya setelah muncul beberapa perumahan baru.

Nah, saat ngobrol di warkop itu, warga Bangah selalu titip aspirasi agar jalan diperbaiki dan banjir dicegah. Kayak anggota dewan, aspirasi ini saya tampung kemudian ditulis di koran. Waktu itu bupati Sidoarjo yang lama, Pak Win, cukup tanggap. Jalan yang terlalu mudah rusak itu pun diperbaiki. Dibikin mulus.

Tapi akar masalahnya kurang disentuh. Yakni pematusan atau drainase yang bermasalah itu. Pemkab tidak mengantisipasi limpahan air pada musim hujan, air pasang, hujan yang ekstrem lebat, seperti sekarang. Toh, warga senang aja karena jalannya mulus lagi.

Tak sampai dua tahun saya pindah, kondisi Bangah di sebelah utara, eks tempat tinggal saya di Jalan Beringin, sudah berubah total. Dulu sejauh mata memandang hanya ada sawah dengan padi yang hijau menguning. Wilayah Pepelegi terlihat jelas. Itulah lahan pertanian yang juga berfungsi sebagai areal tangkapan air.

Suatu ketika iseng-iseng saya melintas lewat pojok, yang dulu sering jadi tempat mangkal pemain-pemain remi dan domino. Wow, Bangah berubah luar biasa. Sawah sudah tidak ada lagi. Yang ada rumah-rumah yang sangat padat. Tak jauh beda dengan Surabaya.

"Tinggal tunggu waktu saja. Dulu sawah masih luas saja sudah gawat. Bagaimana pula dengan sekarang? Kalau hujannya ekstrem?" kata saya dalam hati.

Rupanya di awal musim kemarau tiba-tiba hujan deras menghantam Kabupaten Sidoarjo bagian utara. Mulai Bandara Juanda di Kecamatan Sedati, Gedangan, Waru, dan Taman. Bangah, Pepelegi, Sawotratap terendam air. Bos Maspion Pak Alim Markus mengklaim rugi Rp 5 miliar gara-gara pabriknya di Bangah dan Sawotratap terendam air.

Tiba-tiba saja wilayah desa yang pernah saya tinggali masuk koran, televisi, dan internet. Gara-gara banjir.
Mudah-mudahan banjir dahsyat, yang juga melumpuhkan akses masuk Bandara Juanda, ini diambil hikmahnya oleh Pak Bupati Abah Saiful Ilah. Pembenahan saluran irigasi dan drainasi di wilayah utara, yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, harus jadi prioritas.

Kita sebagai warga Kabupaten Sidoarjo pasti malu dengan tetangga sebelah, Surabaya. Sama-sama diguyur hujan deras pada saat yang sama, intensitas yang sama, mendapat aliran air dari sungai yang sama (Sungai Brantas), kok efeknya beda? Wilayah Sidoarjo tenggelam, sementara Surabaya biasa-biasa saja?

Gak ada salahnya belajar sama Pemkot Surabaya cara mengendalikan banjir secara baik dan benar. Apalagi sejak 2001 tim ahli dari ITS Surabaya, yang sebagian tinggal di wilayah Kabupaten Sidoarjo, sudah menyusun rekomendasi pembangunan tata kota ke depan.

"Pemkab Sidoarjo terlambat merespons sehingga terjadi penderitaan warga seperti sekarang," kata Haryo Sulistiarso, dosen ITS.

Oh ya, kalau tidak salah DPRD Sidoarjo pun sudah studi banding ke Belanda. Tapi kok jadinya seperti sekarang ya!

16 June 2014

Salut untuk debat capres 2014



pun kritik dan kekurangannya, debat calon presiden Prabowo Subianto vs Joko Widodo tadi malam patut diapresiasi. Untuk ketiga kalinya kita memasuki era pemilihan presiden langsung yang sangat terbuka dan demokratis.

Mengapa kedua capres tidak saling menyerang? Prabowo malah mendukung ide Jokowi? Memang begitulah kita, orang Indonesia. Pola debat capres yang agresif, konfrontatif, saling ejek rupanya lebih cocok untuk Amerika Serikat. Orang Indonesia punya kultur yang pantang menyerang lawan di muka umum.

Toh, kalau dipikir-pikir, baik Prabowo maupun Jokowi sebetulnya sama-sama satu ideologi. Prabowo mengusung retorika, bahkan pakaian, ala Bung Karno. Jargon-jargon kampanye yang dia pakai pun banyak meniru gaya sang proklamator itu.

Capres Jokowi yang berlatar belakang PDI Perjuangan pun jelas sangat kental dengan Bung Karno. Trisakti, berdikari, dan banyak lagi visi Bung Karno diangkat dalam visi dan misinya.
Jangan lupa, lima tahun lalu Prabowo menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri.

Dan, selama ini PDIP dan Gerindra sama-sama berada di luar pemerintahan Presiden SBY atau biasa disebut oposisi. Meskipun yang namanya oposisi di kita tidak sama persis dengan Partai Republik di USA yang menjadi oposisi Partai Demokrat.

Mengapa saya sangat bangga dan mengapresiasi debat capres dan pilpres langsung ini? Juga pemilu legislatif yang hasilnya melambungkan PDIP dan Gerindra sebagai dua partai oposisi?

Kebetulan siang tadi saya melihat banyak keluarga dari Madura yang nongkrong di Terminal 2 Bandara Juanda. Mereka menjemput keluarga yang jadi TKI di Malaysia. Ingat Malaysia, saya langsung ingat Anwar Ibrahim. Tokoh oposisi Malaysia yang berkali-kali dicokok dan dijebloskan ke penjara oleh penguasa di negara tetangga itu.

Sistem politik Malaysia mirip Orde Baru di Indonesia. Sistem yang didesain sedemikian rupa agar Golkar menang terus dengan persentase di atas 80 persen, bahkan 90 persen. Oposisi ditindas habis-habisan. PPP dan PDI hanya partai papan nama belaka. Jangan pernah bermimpi Golkar kalah pada masa Orde Baru.

Di Malaysia pun sama saja. Jangan berharap UMNO atau Barisan Nasional akan kalah dalam pilihan raya! UMNO dan BN didesain sedemikian rupa agar menang dan selalu menang... sampai kiamat!

Maka, ketika ada potensi partai oposisi atau pembangkang membesar, penguasa yang UMNO itu melakukan segala cara untuk membungkam oposisi. Pak Anwar Ibrahim akan terus ditindas selama dia melawan status quo. Hingga dia bertobat dan kembali ke UMNO.

Karena itu, apa yang terjadi hari ini di Indonesia adalah pencapaian demokrasi yang luar biasa. Kita menyaksikan Partai Demokrat sebagai partai penguasa kalah telak dalam pemilu 9 April 2014. Partai oposisi PDI Perjuangan dan Gerindra melejit sehingga bisa mencalonkan kadernya sebagai calon presiden.

Sungguh tak terbayangkan di masa Orde Baru! Sungguh tak terbayangkan di Malaysia! Di Singapura pun mustahil karena sistem politiknya memang antidemokrasi. Di Thailand bolak-balik kudeta sampai bosan si kaos merah dan kaos kuning. Di Tiongkok hanya satu partai: partai komunis!

Kita bangsa Indonesia memang layak bangga dengan sistem politik yang terbuka dan demokratis ini. Tentu saja masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Yang belum dicapai Indonesia adalah kemakmuran. Sisi inilah yang menjadi bahan olok-olok tetangga kita yang sejak dulu menampung TKI.

Buat apa demokrasi, pilpres langsung, debat capres, pemilu yang bebas, kalau rakyatnya masih miskin? Masih kirim jutaan TKI ke Malaysia? Masih sulit hidup sejahtera? Kekayaan menumpuk di orang-orang tertentu?

Yah, ini memang kenyataan yang kita hadapi. Dan harus diatasi Prabowo atau Jokowi jika terpilih sebagai presiden RI pada 9 Juli 2014. Kalau kemiskinan tetap lestari, lapangan kerja kurang, sehingga harus jadi TKI, ya buat apa demokrasi?

15 June 2014

Piala Dunia dan Pilpres

Untung ada Piala Dunia. Untung juga tvOne dan Antv milik Ical menyiarkan secara langsung semua pertandingan menarik itu secara gratis. Untung pula Ical gagal maju pilpres meskipun mendukung habis-habisan pasangan nomor 1 Prabowo-Hatta.
Begitu kickoff Piala Dunia 13 Juni 2014, perhatian orang Indonesia pun beralih ke Brasil. Perhatian terhadap kampanye pemilihan presiden jadi sangat berkurang. Kecuali para tim sukses yang memang kerjanya membuat propaganda, fintah, kampanye hitam, dan sebagainya.

Sebelum Piala Dunia dimulai, televisi-televisi kita habis-habisan melakukan propaganda luar biasa untuk Prabowo-Hatta. Kecuali Metro TV yang banyak menyuarakan Jokowi JK karena pemiliknya memang bos Nasdem. TVOne dan Antv jadi corong Prabowo. Begitu pula RCTI, Global, MNCTV, dan masih banyak lagi.

Saya sampai muak dengan televisi. Syukurlah, Piala Dunia datang pada saat yang sangat tepat. Jualan ketjap nomer satoe di media massa kayaknya tidak lagi menarik. Orang Indonesia yang memang gila bola pun makin tergila-gila dengan Piala Dunia. Apalagi pertandingan Belanda vs Spanyol yang fenomenal itu.

Saya kira kemenangan besar Belanda 5-1 atas Spanyol, taktik Louis van Gaal, lumpuhnya tika taka Spanyol, bakal menjadi topik bahasan yang tak akan habis-habisnya di media massa. Juga warung kopi.

Sepanjang hari tadi saya nguping obrolan di sejumlah tempat cangkrukan di Surabaya dan Sidoarjo. Semuanya membahas Piala Dunia. Khususnya Belanda vs Spanyol. Ada yang bahas Brasil dan Argentina. Pembahasan tentang Prabowo, Jokowi, pilpres malah tidak ada sama sekali.

Syukurlah, Piala Dunia muncul di saat yang tepat. Pesta bola empat tahunan ini juga setidaknya menyelamatkan tvOne dan Antv dari virus propaganda Prabowo-Hatta yang sangat gencar belakangan ini.

Salam balbalan!

14 June 2014

Presiden Jokowo, Wapres Prabowo

Pemilihan presiden 9 Juli 2014 hanya diikuti dua pasangan calon; Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Maka, anak sekolah dasar pun tahu bahwa hasilnya salah satu pasangan akan meraih suara lebih dari 50 persen. Bisa juga seri 50:50 tapi hampir mustahil. Pasti ada suara salah satu calon yang lebih banyak.

Karena hanya ada dua pasangan, maka pilpres cukup satu putaran saja. Kok sekarang ada wacana pilpres bisa berlangsung dua putaran? Dan yang berlomba pasangan calon yang sama?

Itulah Indonesia. Persoalan yang sederhana sering dibuat sulit. Dan ternyata banyak pakar hukum tata negara yang ngotot dua putaran kalau si pemenang 50 persen plus satu itu sebarannya tidak merata. Katanya harus dapat suara minimal 20 persen suara di lebih dari setengah provinsi di Indonesia.

Kalaupun dapat suara 60 persen, tapi numpuk di Jawa saja dinyatakan tidak sah. Pilpres harus diulang lagi. Bagaimana kalau pilpres putaran kedua, dengan pasangan calon yang sama, juga tidak menghasilkan sebaran sesuai ketentuan itu? Perlukah diulang lagi?

Mungkin inilah sakit jiwa nomor 45 ala politisi Indonesia. Sukanya bikin ruwet masalah. Mudah-mudahan mahkamah konstitusi segera bersidang untuk menyudahi polemik aturan kemenangan capres yang makin membingungkan itu.

Tapi ya tetap susah juga karena hakim konstitusi Patrialis Akbar jauh hari sudah menegaskan bahwa pilpres harus dilakukan dua putaran kalau sebaran kemenangan tidak sampai 50 persen provinsi. Yah, bisa dipahami karena si Patrialis ini politikus Partai Amanat Nasional. Mungkin ada lagi hakim-hakim konstitusi yang satu aliran pikiran dengan Patrialis.

Polemik soal syarat kemenangan capres-cawapres ini juga kembali menunjukkan rendahnya kualitas pembuat undang-undang di negara Indopahit ini. Anggota dewan tidak bisa berpikir jauh ke depan, mengantisipasi skenario pilpres yang hanya diikuti dua pasangan calon. Atau memang sengaja dibuat begitu agar kompetisi politik yang namanya pilpres ini berlarut-larut.

Yang pasti, banyaknya kampanye hitam dan rusaknya televisi-televisi kita sebagai jurkam capres tertentu, khususnya Prabowo-Hatta, membuat pilpres ini sangat tidak menarik. Nggilani, kata orang Jawa. Menjijikkan!

Sebaiknya pilpres cepat selesai, siapa pun pemenangnya! Toh, baik Prabowo maupun Jokowi sama-sama menawarkan ketjap manis nomer satoe!

Atau, daripada ribut-ribut pilpres dengan kampanye fitnah dan saling menjelekkan, bagaimana kalau berdamai saja. Presidennya Jokowi, wakilnya Prabowo!

41 tahun Gereja Baptis Waru Sidoarjo



Kamis malam, 12 Juni 2014, Gereja Baptis Indonesia (GBI) Waru, Sidoarjo, genap berusia 41 tahun. Usia yang lumayan matang untuk sebuah gereja di Kabupaten Sidoarjo. Gereja yang terletak di pinggir jalan raya Waru, dekat Terminal Bungurasih, ini dirintis pada 1973 ketika kawasan Waru dan sekitarnya belum jadi kota seperti sekarang.

Pabrik-pabrik masih banyak, Terminal Bunguasih belum ada, masih sepi jali. Jalan raya belum macet-cet-cet seperti sekarang. Juga belum ada Rumah Sakit Mitra Keluarga yang kini kelihatannya seperti satu kompleks dengan Gereja Baptis Waru. Pembangunan RS Mitra Keluarga yang dimulai sekitar 2006 seakan menenggelamkan Gereja Baptis Waru.

Saya sendiri khawatir gereja ini bakal tergusur oleh hospital bermodal besar itu. Atau, istilah halusnya, ditukar guling. Ya, di zaman modern ini rumah-rumah ibadah sering kali harus mengalah demi pusat belanja modern atau bisnis rumah sakit.

Nah, malam itu saya mampir ke Gereja Baptis Waru. Suasana meriah, banyak balon warna-warni, ada tumpeng khas Jawa. Menurut Mas Wawan, salah satu panitia, perayaan ulang tahun ke-41 Gereja Baptis Waru ini dilaksanakan secara sederhana. Kebaktian, puji-pujian, sharing pengalaman dari pendiri gereja, tumpengan, makan bersama nasi kotak.

"Jemaat bersyukur kepada Tuhan atas penyertaan Tuhan selama 41 tahun perjalanan Gereja Baptis Indonesia Waru. Dan kami berdoa semoga Tuhan Yesus selalu memberkati jemaat gereja ini," katanya ramah.

Sementara itu, Bu Nathan, kalau tak salah ingat namanya, maklum gak nyatat, menceritakan perjalanan panjang gereja baptis ini. Dimulai dengan jemaat yang sedikit, gereja mungil, akhirnya bisa berkembang seperti sekarang. Nama Gereja Baptis Waru cukup diperhitungkan di Jawa Timur.

Sayang, saya tak bisa menyimak cerita menarik dari Bu Nathan. Sebab, tiba-tiba ada insiden kecil di belakang gara-gara miskomunikasi dan mispersepsi. Ada seorang wartawan dari Sidoarjo yang dicurigai petugas keamanan di depan gereja. Padahal, si wartawan itu datang dengan niat baik untuk meliput acara ulang tahun Gereja Baptis Waru.

Polisi dari Polsek Waru pun diminta untuk memeriksa kartu pers dan identitas wartawan. Ternyata memang tidak ada masalah. "Maaf, kami ini minoritas sehingga harus sangat waspada. Khawatir ada orang jahat yang menyusup masuk dengan kedok wartawan," kata seorang panitia.

Untung saja insiden kecil ini cepat selesai. Happy ending! Pekerja media pun diajak menikmati nasi kotak yang sudah disediakan.

Pak Polisi yang tadi menginterogasi wartawan pun akhirnya tertawa kecil dan bersalaman dengan si nyamuk pers. "Orang Nasrani di sini semakin sensitif. Kalau melihat wajah orang yang belum dikenal, mereka sangat curiga. Ini malah bagus untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," kata sang penegak hukum itu.


13 June 2014

Karyawan Punya Burung, Karyawati Tidak

Iseng-iseng saya bertanya kepada seorang teman, staf di sebuah perusahaan. Apa beda karyawan dan karyawati?

"Gampang banget. Kalau karyawan itu punya burung, sedangkan karyawati itu tidak punya burung," jawab si teman dengan nada bercanda ala orang Jawa Timur.

Hehehe.... Jawaban ini memang tidak salah. Sampai sekarang sebagian orang Indonesia masih membedakan karyawan dan karyawati. Karyawan untuk laki-laki, sedangkan wanita disebut karyawati. Murid perempuan disebut SISWI, murid laki-laki disebut SISWA.

Mahasiswa x mahasiswi.
Pemuda x pemudi.
Wartawan x wartawati.
Sastrawan x sastrawati.
Seniman x seniwati.
Relawan x relawati (jarang terdengar).
Muda x mudi.

Bangsawan x bangsawati (tidak ada, cuma karangan saya aja).
Pramugari x pramugara.
Rekan x rekanita (populer di sebuah radio di Surabaya).
Ustad x ustadah.
Biarawan x biarawati.
Santri/santriwan x santriwati.
Direktur x direktris.

Kalau diperpanjang, kita bisa menemukan banyak sekali kata-kata yang berjenis kelamin. Saya masih ingat pelajaran bahasa Indonesia di SMP di kampung saya, Flores Timur, NTT, dulu bahwa akhir MAN untuk laki-laki, sedangkan akhiran WATI untuk wanita alias perempuan. Akhiran NITA juga untuk wanita.

Bagaimana dengan waria atau bencong? Pakai akhiran apa? Tidak ada. Sebab, di Indonesia yang diakui hanya dua jenis kelamin: wanita dan pria. Teman-teman aktivis perempuan lebih suka menggunakan kata perempuan ketimbang wanita. Saya sih sama saja. Semakin banyak sinonim, semakin banyak variasi, bukan?

Mencermati penggunaan kata, khususnya yang berjenis kelamin di media massa dalam 20 tahun terakhir, semakin kuat gejala bahwa akhiran feminim makin tidak populer. Kaum wanita lebih suka menyebut dirinya karyawan, bukan karyawati.

Di Surabaya, sejauh pengamatan saya, semua jurnalis perempuan menyebut dirinya wartawan, bukan wartawati. Istilah rekanita sudah tidak ada lagi, kecuali di salah satu radio di Surabaya itu.

Istilah seniwati hanya saya dengar di lingkungan ludruk di Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto. Istilah santriwati masih cukup populer. Jarang ditulis santri wanita atau wanita santri.

Istilah USAHAWAN hampir tidak terdengar lagi. Apalagi USAHAWATI. Yang paling netral, bisa mencakup semua, ya PENGUSAHA.

Istilah BIARAWAN dan BIARAWATI masih sangat populer di lingkungan Katolik. Dan rasanya tidak mungkin melebur seperti kata karyawan, wartawan, atau sukarelawan. Sebab, ada perbedaan besar antara biarawan dan biarawati dalam tradisi Gereja Katolik.

Istilah lama di lingkungan Katolik, yang dulu sangat populer tapi kini menghilang, adalah MUDA-MUDI. Organisasi Muda-Mudi Katolik yang disingkat Mudika sudah lama berganti nama menjadi OMK: Orang Muda Katolik. (Bukan Orang Mudi Katolik). Kalau ada pidato atau sambutan di gereja yang masih pakai istilah muda-mudi bisa dipastikan wong lawas alias orang lama. Hehehe...

Minggu lalu saya membaca majalah TEMPO lawas, edisi 2007. Majalah terkenal yang editor bahasanya paling ciamik ini menggunakan istilah SISWA PEREMPUAN. Saya pun terdiam dan makin yakin bahwa kata SISWA atau MAHASISWA tidak lagi menunjukkan laki-laki, tapi semua jenis kelamin.

Saya sendiri sering mengganti kata KARYAWAN dengan PEKERJA ketika mengedit tulisan orang lain. Sebab, saya tahu bahwa yang unjuk rasa itu bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan.

Teman-teman Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bahkan sejak awal berdirinya tahun 1996 tidak menggunakan kata WARTAWAN melainkan JURNALIS. Mungkin khawatir jurnalis perempuan protes karena merasa tidak dilibatkan.

Meredupnya kata-kata feminim, dan wanita sekarang lebih suka diatribusi dengan kata-kata maskulin seperti karyawan, wartawan, sastrawan ini juga tidak lepas dari tren busana. Saat ini kita semakin sulit menemukan wanita yang pakai rok atau pakaian yang benar-benar khas wanita. Hampir semua wanita, khususnya yang lahir di atas tahun 1975, memakai celana.

Padahal, zaman dulu pakaian wanita dan pria sangat berbeda nyata. Lihat saja film-film era 1970an ke bawah. Sekarang ini kalau ada wanita yang pakai kebaya atau rok ke kantor pasti jadi bahan tertawaan orang. Bisa-bisa dikira bocor halus.

Kisruh Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo

Selama ini ulang tahun atau hari jadi Kabupaten Sidoarjo selalu
diperingati pada 31 Januari. Itu sesuai staatsblad pemerintah kolonial Belanda pada 31 Januari 1859 yang membentuk Kabupaten Sidokare sebagai pemekaran Kabupaten Surabaya.

Hari jadi Kabupaten Sidoarjo versi Hindia Belanda ini sejatinya sudah
lama dikritik para budayawan dan pemerhati sejarah Sidoarjo dalam 10 terakhir. Dalam Forum Malam Jumat (Format) dan Anggoro Kasih, yang sudah tak aktif lagi, para budayawan ini sudah lama meminta Bupati Win Hendrarso (saat itu) untuk mengubah tanggal hari jadi Kabupaten Sidoarjo.

"Tanggal 31 Januari itu kurang pas karena merujuk ke pemerintah Hindia Belanda. Seharusnya rujukannya ke Kerajaan Jenggolo sebagai cikal bakal Sidoarjo," kata Bambang Trimuljono ( almarhum), koordinator Format dan Anggoro Kasih.

Rupanya unek-unek lama itu ditindaklanjuti oleh Soekarno, mantan ketua Dewan Kesenian Sidoarjo, yang juga pemerhati sejarah. Dia baru saja mengirim kajian resmi kepada Bupati Sidoarjo Saiful Ilah untuk meninjau kembali hari jadi Kabupaten Sidoarjo. "Hari jadi Kabupaten Sidoarjo itu seharusnya 24 November. Sesuai dengan Prasasti Gandhakuti
tertanggal 24 November 1042 M," tutur Soekarno pekan lalu.

Seniman senior yang tinggal di Desa Wunut, Kecamatan Porong,
menegaskan, sebelum berdiri Kabupaten Sidokare pada 31 Januari 1859, yang kemudian berubah menjadi Kabupaten Sidoarjo, sudah ada pemerintahan Kerajaan Jenggolo sejak 1042 hingga 1138. Selama satu
abad lebih Kerajaan Jenggolo diperintah tiga orang raja. "Ketiganya putra Raja Airlangga sendiri," katanya.

Berdasar fakta sejarah itulah, menurut Soekarno, penetapan tonggak awal Kabupaten Sidoarjo pada 31 Januari 1859 kurang tepat. "Sebab, penetapan versi kolonial Belanda itu mengabaikan eksistensi Kerajaan Jenggolo. Seakan-akan sebelum tahun 1859 itu tidak ada pemerintahan," katanya.

Untuk memperkuat argumentasinya, Soekarno membeber hari jadi beberapa
kabupaten/kota di Jawa Timur. Kota Surabaya menggunakan titik pijak penumpasan tentara Mongol pada 31 Mei 1239. Hari jadi Kabupaten Pasuruan menggunakan momen 18 September 929 ketika Mpu Sendok meminta agar rakyat Cungrang, wilayah Pasuruan sekarang) menjadi tanah perdikan yang bebas pajak.

Kabupaten Malang menggunakan dasar Prasasi Dinoyo pada 28 November 760. Adapun Kabupaten Gresik memakai tonggak awal pemerintahan Prabu Ainul Yakin alias Sunan Giri sebagai kepala pemerintahan pada 1487.

"Maka, rasanya sangat aneh kalau Kabupaten Sidoarjo malah menggunakan versi staatsblad van Nederlands Indie nomor 6A tanggal 31 Januari 1859 untuk penetapan hari jadi kabupaten. Ini berarti kita melupakan sejarah," kata Soekarno.

***

Sebagai budayawan dan ketua Dewan Kesenian Sidoarjo yang pertama, Soekarno sejak 1980-an sering diundang mengikuti peringatan hari jadi Kabupaten Sidoarjo pada 31 Januari. Pria asli Desa Wunut, Kecamatan Porong, ini juga biasa menyaksikan pertunjukan wayang kulit di Pendapa Delta Wibawa atau alun-alun dalam rangka perayaan hari jadi itu.

"Dari dulu saya selalu bertanya dalam hati. Apakah benar hari jadi
Kabupaten Sidoarjo itu tanggal 31 Januari? Dasarnya apa?" tutur
Soekarno.

Berdasarkan catatan sejarah, hari jadi Kabupaten Sidoarjo selama ini
menggunakan staatsblad pemerintah Hindia Belanda sebagai acuan. Yakni 31 Januari 1859 ketika pemerintah kolonial itu membuat surat keputusan untuk memekarkan Kabupaten Surabaya menjadi Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare.

Sempat terjadi perdebatan ramai dalam sebuah sarasehan budaya di
Pendapa Delta Budaya pada masa kepemimpinan Bupati Win Hendrarso. Budayawan Bambang Trimuljono (kini almarhum), yang juga koordinator sarasehan budaya, juga mempertanyakan penetapan hari jadi Kabupaten Sidoarjo tanggal 31 Januari.

Pria yang akrab disapa Eyang Bete itu mengatakan, nama Kabupaten
Sidoarjo (dulu dieja Sidho-Ardjo) baru dikenal pada 2 Juni 1859. Ini
sesuai dengan Staatsblad van Nederlands Indie nomor 32 yang
diundangkan tanggal 2 Juni 1859.

"Jadi, Kabupaten Sidoarjo ini punya dua hari jadi. Yakni, 31 Januari dan 2 Juni. Mana ada kabupaten atau kota lain yang punya dua hari jadi?" ujar Eyang Bete setengah bercanda.

Soekarno, yang sebelumnya terlibat dalam kajian tentang sebutan Guk dan Yuk untuk duta wisata Sidoarjo, tidak terima. Dia bersikeras menolak tanggal 31 Januari atau 2 Juni sebagai hari jadi Kabupaten Sidoarjo. Mengapa?

"Secara faktual dan historis tidak nasionalis. Menggunakan staatsblad Hindia Belanda sama saja dengan mengabaikan keberadaan Kerajaan Jenggolo jauh sebelum kedatangan penjajah di tanah air," katanya.

Sejak itulah Soekarno dan kawan-kawan makin getol berdiskusi dan
membuat kajian-kajian tentang sejarah Kerajaan Jenggolo. Cukup banyak buku yang dibaca seperti Negarakertagama (Kekawin Desa Warnana) karya Prof Ketut Riana, Tafsir Sejarah Negarakertagama (Prof Slamet Muljana), Airlangga Raja Pembaru Jawa Abad XI (Ninie Susanti), dan Jelajah Candi Kuno Nusantara. Soekarno juga rajin blusukan ke situs-situs sejarah di Jawa Timur.

Dari situlah, dia semakin mantap dengan pendiriannya bahwa hari jadi Kabupaten Sidoarjo harus dirujuk ke awal pembentukan Kerajaan Jenggala. Yakni tanggal 24 November 1042 sesuai dengan Prasasti Gandhakuti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga.

Karena itu, dalam suratnya kepada Bupati Saiful Ilah, Soekarno meminta Pemkab Sidoarjo untuk melakukan kajian ulang hari jadi Kabupaten Sidoarjo. Pemkab bisa membentuk tim khusus, yang terdiri dari sejumlah ahli di bidangnya, untuk menentukan tanggal hari jadi Kabupaten Sidoarjo seakurat mungkin.

"Saya sendiri siap berdialog dan memberikan penjelasan secara rinci kapan saja," kata mantan aktivis sebuah partai nasionalis itu. (rek)

12 June 2014

Pelihara Anjing dan Makan Babi

Pagi tadi saya cangkrukan di sebuah warung kopi di tengah Kota Surabaya. Ngobrol santai dengan pengunjung warkop yang latar belakangnya macam-macam. Saat ngobrol itu melintas orang Tionghoa bersama anjing kesayangannya. Anjing hias yang bongsor dan lucu.

Setelah si Tionghoa itu lewat agak jauh, rasan-rasan pun dimulai. Kebiasaan jelek untuk membicarakan orang atau golongan lain dari belakang. Karena memang tidak mungkin disampaikan terang-terangan di depan orangnya.

"Biaya makan untuk anjingnya Cina itu jauh lebih mahal dari manusia kayak kita-kita ini. Biaya makan asu itu untuk tiga hari mungkin sama dengan biaya makan kita (maksudnya bukan Tionghoa) satu bulan. Bahkan lebih," kata seorang bapak 50-an tahun.

Pancingan awal ini kemudian disusul dengan komentar baru. Sudah berbau SARA karena berkaitan dengan anjing + babi. Ada yang mengaku tidak habis pikir mengapa orang Tionghoa begitu suka pelihara anjing dan makan babi. Dua binatang yang dianggap najis menurut kaum muslimin.

Tapi ada juga pendapat yang netral. Siapa pun bebas memelihara anjing, makan babi, makan kodok, atau makan ular karena keyakinan orang berbeda-beda. Apa yang dianggap haram atau najis oleh agama A, justru biasa saja oleh agama B. Bahkan babi yang diharamkan muslim itu dianggap binatang pembawa rezeki bagi orang Tionghoa.

Orang Barat bahkan selalu punya anjing peliharaan di rumah. Begitu sayangnya sama anjing atau kucing, kadang-kadang suami atau istri pun dicuekin. Pasangan hidup dianggap sering menjengkelkan. "Lha, kenapa kita ngurusin anjingnya orang Cina? Mending bahasa Piala Dunia aja," kata pria asal Maluku yang duduk di pojok.

Bicara tentang anjing, saya jadi ingat kasus penyerangan terhadap Julius dan sejumlah umat Katolik di Sleman, Jogja, saat doa rosario bersama di rumah Pak Julius pada 29 Mei 2014 lalu. Selain kepicikan dan kebencian si penyerang, saya baca di TEMPO, beberapa tetangga sudah lama jengkel karena Pak Julius memelihara anjing.

Selain suka menggonggong, suaranya mengganggu tetangga, anjing itu binatang yang najis. Karena itu, si tetangga sangat keberatan. Pak Julius kemudian mengikat anjingnya agar tidak keluyuran ke mana-mana. Bisa menyebarkan najis ke tetangga dekat. Dan itu panjang urusannya.

Saya sendiri sangat memahami keberatan tetangga Pak Julius soal anjing itu. Sebab, dulu di pelosok NTT, Flores Timur sana, keluarga besar kami campuran Katolik dan Islam. Yang Islam pengurus masjid, yang Katolik pengurus stasi (gereja), bahkan jadi asisten imam.

Asisten imam itu bertugas membantu membagi komuni saat misa serta memimpin ibadat sabda jika pastor tidak ada. Dan di desa-desa di Flores pastor itu lebih banyak tidak adanya daripada ada karena beliau harus turne ke mana-mana.

Nah, dengan latar belakang keluarga gado-gado macam ini, maka sejak dulu ada semacam hukum tidak tertulis di rumah. Satu, tidak memelihara anjing. Dua, tidak memasak dan makan daging babi di rumah. Tiga, yang Katolik boleh makan babi tapi di tempat lain. Empat, kalau terpaksa makan babi di rumah, karena dapat kiriman, piring-piring dan tempatnya harus dipisahkan dengan jelas. Cara mencucinya pun dengan treatment yang sangat khusus.

Karena itulah, saya sendiri sangat jarang makan daging babi. Kecuali di pesta-pesta di NTT. Itu pun mungkin setahun cuma tiga kali saja. Pindah ke Jawa pun tak pernah membeli sate babi, daging babi, dan semua yang mengandung babi.

Memelihara anjing pun tidak pernah. Begitu pula memelihara hewan lain seperti burung, kucing, hamster, kuda, ikan di akuarium.

Saya sendiri trauma burung peliharaan saya mati kelaparan ketika ditinggal pergi saat masih SD di kampung. Andai kata burung-burung itu dilepas di alam bebas, dia tak akan mati karena bisa mencari makan sendiri. Ini pula yang menyebabkan saya kurang suka melihat pasar burung dan kegiatan komunitas penggemar burung yang aneh-aneh itu.

Harus diakui, daging babi itu punya daya tarik sangat tinggi. Orang begitu senang makan babi, tapi cepat sekali bosannya karena lemak yang terlalu banyak. Setelah makan babi di pesta, misalnya, muncul perasaan menyesal. Kenapa ya tadi tidak makan gule atau sate kambing. Atau sapi. Atau ikan laut.

Anehnya, setelah penyesalan berlalu, muncul lagi keinginan kuat untuk makan daging babi lagi di pesta-pesta. Bosan lagi, menyesal lagi, tapi kemudian kepingin lagi.

Kembali ke laptop. Sebetulnya memelihara anjing atau makan babi itu tidak dilarang, bagi yang bukan muslim. Juga tidak melanggar hukum. Namun, kita yang nonmuslim atau kristiani memang perlu belajar toleransi, tenggang rasa, tepa selira dengan sesama, khususnya tetangga.

Kalau tetangga menganggap anjing itu najis, protes kalau kita memelihara anjing, mengapa kita tidak mengalah saja? Berhenti memelihara anjing demi menghormati perasaan keagamaan tetangga. Toh, bisa memelihara kucing, burung, atau binatang lain asakan bukan anjing, babi, dan ular. Tidak memelihara anjing juga tidak akan mati.

Begitu juga dengan babi. Kalau sudah tahu bahwa semua tetangga itu muslim, teman-teman kita hampir semunya muslim, mengapa kita harus makan daging babi (dan/atau anjing)? Terlalu banyak alternatif daging selain babi. Apalagi babi itu terlalu banyak lemah dan cepat bikin bosan.

Dan, kalau mau fair, begitu kata banyak peneliti, sebetulnya semua daging itu tidak baik bagi kesehatan manusia. Termasuk daging khas Idul Adha seperti kambing atau sapi. Sumber protein yang terbaik itu justru tempe dan tahu.

Celakanya lagi, ketika kita yang kristiani punya hajatan di rumah dan mengundang tetangga atau rekan-rekan muslim, mereka akan curiga dengan kehalalan makanan. Jangan-jangan ada babinya! Jangan-jangan piring dan gelas masih mengandung babi! Jangan-jangan ini itu dst!

Maka, paling aman pesan saja nasi kotak dari warung padang. Dijamin halal!

09 June 2014

Orientasi Hasil vs Orientasi Prosedur

Birokrat itu orientasinya prosedur. SOP, tupoksi, macam-macam prosedur dia ikuti sungguh-sungguh. Hasilnya seperti apa tidak penting. Prosedur adalah segalanya!

Kesan lama tentang watak birokrasi di Indonesia itu rupanya sudah berurat berakar dari pusat sampai daerah. PNS atau birokrasi kita memang digembleng sedemikian rupa agar sadar tupoksi, sadar prosedur. Soal hasilnya bagaimana... tai kucing!

Kemarin saya mampir ke bukit Buncitan, Sedati, Sidoarjo. Melihat lokasi penghijauan yang dilakukan ratusan birokrat Dinas Kehutanan Jawa Timur. Penghijauan pada pertengahan Desember 2013 itu katanya dalam rangka proyek menanam satu miliar pohon yang dicanangkan Presiden SBY.

Bukan main ramai dan semaraknya acara penghijauan itu. Ada musik dangdut, undian berhadiah macam-macam, dan banyak pidato. Seakan-akan gerakan penghijauan di lahan kritis sekitar 4 hektare itu sangat serius.

Enam bulan kemudian, saya cek di lapangan. Hasilnya luar biasa mengecewakan. Hampir semua tanaman mati. Ada yang dimakan kambing, ada yang merana karena kurang hara, dsb. Setelah seremoni menanam ramai-ramai itu tak ada seorang pun dari dinas kehutanan yang mengecek di lapangan.

Bagi birokrat hutan, setelah mengikuti berbagai prosedur mulai persiapan hingga menanam, ya, selesai. Tugasnya rampung. Evaluasi, kontrol lapangan, melihat hasil penanaman, menyiram, pemupukan, dsb tidak ada.

"Saya nggak kaget karena yang namanya pemerintah ya seperti itu. Penghijauan itu kan cuma awu-awu saja. Proyek besar itu," kata Munir, teman asal Buncitan.

Syukurlah, tidak semua dinas atau birokrat punya mental bobrok yang mengabaikan hasil. Salah satu dinas yang betul-betul kerja adalah DKP alias dinas kebersihan dan pertamanan. DKP Surabaya dan DKP Sidoarjo sama-sama rajin menanam dan rajin pula merawat tanaman di pinggir jalan atau ruang terbuka hijau.

Bahkan, saking rajinnya, saya sering melihat petugas DKP tetap saja menyiram tanaman meski sedang hujan. Mungkin karena tupoksi atau prosedurnya menuntut begitu.

Mudah-mudahan presiden baru nanti, entah Jokowi entah Prabowo, bisa mengubah mental birokrasi yang sudah telanjur karatan dengan tupoksi dan orientasi prosedur tanpa mempedulikan hasil. Tidak mudah memang. Namun, gaya blusukan Jokowi, yang ingin memastikan hasil dan kinerja anak buahnya, paling tidak bisa memberi harapan baru kepada kita.

08 June 2014

Anak SMK Masuk Fakultas Filsafat

SAYA BERPIKIR MAKA SAYA ADA


Siang kemarin saya bertemu Rusli di dekat Bandara Juanda. Tak sengaja. Dia mau mengambil komputer dan peralatan editing filmnya. Rusli baru saja menang di festival film pelajar di Sidoarjo.

"Saya mau ke Jogja," katanya menjawab pertanyaan saya. Lulusan SMK, sekolah menengah kejuruan, ini ternyata sudah diterima di fakultas filsafat. UGM: Universitas Gajah Mada yang terkenal itu.

Hebat juga si Rusli ini, pikir saya. Lain dari lain! Lulus SMK yang disiapkan untuk cepat kerja, jadi tukang, kok malah pilih filsafat. Fakultas yang mengajak mahasiswa mengembara jauh ke awang-awang. Membaca Plato, Socrate, Sartre, Habermas, dan sebagainya.

Saya mau ketawa menemui kenyataan aneh tapi nyata ini. Ada lulusan SMK sangat berminat masuk filsafat dan memang terkabul. Sudah bertahun-tahun saya ngobrol dengan anak SMA atau SMK, tapi baru kali ini ketemu orang yang benar-benar niat masuk fakultas filsafat.

Sebetulnya saya mau bertanya banyak tentang alasan-alasan Rusli masuk filsafat. Apa yang dicari? Lulus filsafat kerja apa? Apa hubungan antara SMK jurusan mesin dengan filsafat, ilmu yang abstrak itu. Tapi saya urungkan karena bisa merusak suasana.

Saya hanya ketawa-ketawa sendiri setelah meninggalkan si Rusli. Juga kagum karena hari gini masih ada lulusan SMA/SMK yang memilih filsafat. Di zaman ketika pemikiran mendalam, ketekunan membaca buku, kemampuan berpikir abstrak sepertinya tidak laku lagi.

Bahkan, orang sekarang lebih suka jalur cepat dapat uang ketimbang kuliah terlalu lama. Lebih baik tidak sekolah, tapi kaya dan terkenal, artis top, ketimbang sekolah atau kuliah lama-lama tapi hasilnya mengenaskan. Ini juga yang menyebabkan banyak artis remaja memilih putus sekolah, pilih home schooling, ketimbang sekolah beneran atau kuliah serius.

Ah, Rusli, kamu ini membuka mata saya bahwa filsafat masih diminati. Masih ada orang Jawa, yang pikirannya makin praktis itu, yang mau menekuni humaniora yang menuntut konsentrasi luar biasa. Indepth thinking.

Bukan apa-apa. Sudah lama saya sering iseng-iseng berpikir dalam kesendirian. Mengapa Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Flores dan sekitarnya, sulit maju? Tidak bisa lari cepat seperti Jawa, apalagi Tionghoa?

Faktor alam yang keras, kuran hujan, kondisi tanah, memang faktor penting. Tapi, menurut saya, faktor utama adalah terlalu banyak sarjana atau cendekiawan asal Flores yang filsuf. Mereka menekuni filsafat di seminari menengah, seminari tinggi, hingga doktoral di Eropa.

Terlalu banyak filsuf, dan teolog, di Flores membuat sulitnya mencari terobosan-terobosan praktis. Sebab filsafat itu cenderung bertentangan dengan kepraktisan. Orang-orang yang praktis dan pragmatis suka berpikir sederhana. Menyederhanakan masalah-masalah yang rumit menjadi simpel.

Sebaliknya, mahasiswa filsafat, sarjana filsafat, atau doktor filsafat doyan membuat masalah-masalah yang sederhana menjadi jelimet. Jika ada sampah menumpuk di kampung, orang Tionghoa berpikir praktis dan ekonomis. Sampah itu diolah jadi gas, kompos, listrik, dsb.

Beda dengan filsuf di Flores. Dia akan melihat sampah itu sebagai wujud konstruksi pemikiran dengan aneka tinjauan teoteris dari berbagai pendekatan. Ujung-ujungnya sampah itu tidak diolah atau dibakar. Karena itu, kata teman saya, filsafat itu sangat cocok untuk manusia-manusia yang malas kerja, banyak bicara, dan suka berpikir berbelit-belit.

Mudah-mudahan si Rusli ini cocok dengan pilihannya di fakultas filsafat.

06 June 2014

SBY Lengser, Warga Syiah Tetap Mengungsi


Masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) segera berakhir. Namun, sampai sekarang belum ada lampu hijau kalau ratusan pengungsi Syiah di Rusun Puspa Agro, Jemundo, Taman, segera dipulangkan ke Sampang.

Ketua Kelompok Kerja Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) Jatim  Johan Avie pesimistis para pengungsi Syiah itu bisa dipulangkan dalam waktu dekat. "Kita hanya bisa mendorong pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah ini," kata Johan Avie dalam sebuah diskusi di Surabaya, Jumat (6/6/2014).

Tahun lalu, menjelang Idul Fitri, Presiden SBY sempat membuat pernyataan bahwa warga Sampang yang berjumlah 200-an orang itu bisa berlebaran di Sampang. Setelah hampir setahun berlalu, tidak ada kemajuan dalam upaya rekonsiliasi.

Johan menegaskan, warga Syiah asal Sampang itu sudah terlalu lama tinggal di Rusun Puspa Agro. Bertetangga dengan ratusan pengungsi asal Afghanistan yang mencari suaka politik.

"Ironis, warga negara Indonesia harus mengungsi di dalam negaranya sendiri karena persoalan keyakinan," katanya.

Sebagai negara Pancasila yang menghormati kemajemukan, Bhinneka Tunggal Ika, menurut Johan, pemerintah seharusnya segera mencari solusi agar warga Sampang itu tidak bertahun-tahun hidup di pengungsian. Tinggal di kampung halaman, meski dengan segala keterbatasan, tetap lebih nyaman ketimbang di rusun.

Seharusnya, menurut Johan, sebelum lengser pada 20 Oktober 2014, masalah pengungsi Syiah ini harus sudah selesai. Namun, melihat perkembangan terakhir, tampaknya sangat sulit. Apalagi, Menteri Agama Suryadharma Ali yang menjadi ketua tim rekonsiliasi baru saja mengundurkan diri karena kasus dugaan korupsi dana haji di Kementerian Agama. (*)

05 June 2014

Akhirnya Ririn tergusur Tol Sumo



Sekitar setengah jam lalu saya mampir ke rumah Ririn dan Mbak Murniati di Bebekan, Taman, Sidoarjo. Gak nyangka kalau atap rumah putri tentara (almarhum), pensiunan marinir, itu tinggal kerangka. Sebagian tembok sudah hancur.

Ririn dan keluarganya duduk di bawah pohon keres di depan rumah. Menunggu tukang yang sedang membongkar rumah masa kecil hingga dewasa itu. Ngobrol ngalor ngidul, sesekali bercanda. "Ini rumah yang penuh memori. Kenangan sama almarhum bapa saya yang sudah tiada," katanya tetap tersenyum manis.

Rumah yang tak jauh dari masjid di Bebekan ini akhirnya tergusur juga. Demi proyek besar bernama Tol Surabaya-Sidoarjo. Ratusan rumah dan bangunan lain di Taman, Waru, Krian, hingga Tarik yang terkena jalur Sumo sudah lama rata dengan tanah.

Dengan menyerahnya Ririn dan keluarganya, maka praktis tidak ada lagi bangunan di Kabupaten Sidoarjo yang mengganjal pembangunan Tol Sumo itu. "Kami sengaja bertahan karena rumah yang baru belum selesai. Setelah selesai, ya, harus pindah," Murniati menambahkan.

Kini Ririn dan keluarga sudah punya rumah baru di Sepanjang Asri, tidak begitu jauh dari rumah lama. Hasil ganti rugi tanah dan bangunan yang tergusur tol strategis itu. Hanya saja, menurut Ririn, duit kompensasi penggusuran itu sebetulnya tidak terlalu banyak.

"Kalau zaman dulu pemilik rumah yang kena tol bisa jadi kaya raya, sekarang ini hanya cukup untuk membuat rumah baru. Cuma sedikit yang bisa disimpan," kata wanita yang selalu ceria itu.

Saya masuk ke dalam rumah. Wow, rupanya Ririn mengeluarkan unek-uneknya lewat tulisan di dinding. "Ada kampung baik, ada kampung jelek, semua tergantung manusianya," begitu salah satu coretan si Ririn.
Ada lagi: "Gusti Allah menyukai orang-orang yang sabar!"

Kata-kata Ririn memang penuh makna. Pindah rumah itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan penguasa atau yang empunya proyek. Rumah baru jelas lebih besar dan bagus ketimbang rumah lama. Tapi nilai kenangan, memori, itulah yang tidak bisa ditukar dengan uang. Berapa pun nilainya.

Ini pulalah yang dialami ribuan korban lumpur Lapindo di Porong dan sekitarnya. Saya hanya bisa berdoa semoga Ririn sekeluarga lebih berbahagia di kampung yang baru. "Ada kampung baik, ada kampung jelek, semua tergantung manusianya!"

Semoga Ririn sekeluarga tinggal di kampung yang baik!

Ketika TV Jadi Jurkam Capres

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono benar ketika mengkritik televisi-televisi kita yang makin partisan. Menjelang pilpres ini, liputan-liputan di televisi, khususnya talkshow dan berita, makin memuakkan. TVOne, Metro TV, RCTI dan kawan-kawan benar-benar memposisikan diri sebagai juru kampanye calon presiden tertentu.

Sembilan elemen dasar jurnalisme dibuang ke tempat sampah. Anehnya, SBY sebagai presiden, kepala negara dan kepala pemerintahan, hanya bisa mengeluh. Curhat. Dan sudah pasti dianggap angin lalu oleh para pemilik dan redaksi televisi nasional itu.

Inilah masa kegelapan media televisi di Indonesia. Ketika negara tak berdaya, Presiden Republik Indonesia pun tak berdaya di depan televisi. Negara tak bisa apa-apa selain memberikan imbauan normatif, pernyataan di koran, tapi tidak akan digubris orang-orang TV.

Dulu, di zaman Orde Baru, negara begitu kuatnya. Negara mengontrol penuh media massa. Apalagi yang namanya televisi yang waktu itu cuma TVRI thok. Rakyat, pemirsa, tidak berdaya, selain dipaksa menonton siaran propaganda pemerintah. Hanya di TVRI.

Pendulum itu kini terbalik. Kita, pemirsa, dipaksa oleh televisi-televisi itu untuk menonton propaganda politik partisan si pemilik televisi. Sama-sama tidak enak dan memuakkan.

Tapi mau bagaimana lagi? Negara sudah lama didikte oleh pasar. Presiden SBY yang jendral purnawirawan pun dianggap angin lalu oleh tvOne, Metro TV, RCTI dkk. Apalagi cuma Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Televisi kita sudah seperti diktator yang kebal hukum.

Syukurlah, masih ada stasiun televisi lokal yang rajin menayangkan acara-acara nonpolitik. Seperti BBS TV yang sering banget menayangkan program semacam flora dan fauna atau sains.

Tiga hari lalu saya menonton program yang membahas aneka jenis batuan. Sangat mendalam, mirip kuliah di perguruan tinggi. Program macam ini rasanya mustahil dipikirkan redaksi tvOne atau Metro TV yang otaknya sudah dicuci untuk jadi jurkam Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

Syukurlah, kita hidup di zaman internet. Di zaman YouTube. Kita punya alternatif untuk menyimak tayangan-tayangan bermutu dan sangat bergizi dalam jumlah tak terbatas. Dus, biarkan saja tvOne, Metri TV, dan televisi-televisi lain kampanye capresnya selama 24 jam sampai muntah.

Inilah saat yang tepat untuk diet televisi. Bila perlu SAY NO TO TV!

02 June 2014

Tiga Wanita Tiongkok Tobat di Rutan Medaeng

TRIO CUNGKUO: Xiao Ying, Yang Liu, dan Yu Benxia.


Sekitar 80 warga binaan Rutan Medaeng, Waru, Sidoarjo, yang beragama Kristen antusias mengikuti kebaktian rutin di Gereja Efesus kemarin. Gereja kecil di dalam kompleks rumah tahanan itu menjadi jujukan para narapidana dan tahanan untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Kebaktian kali ini jauh lebih meriah dari biasanya.

Selain tim pelayanan Pelita Kasih, rombongan Goshen Prison Ministry, Jakarta, memberikan kekuatan dan motivasi kepada warga binaan di Rutan Medaeng untuk memantapkan komitmen pribadinya kepada Tuhan. Goshen sendiri diperkuat sejumlah mantan warga binaan yang dulu dipenjara gara-gara kasus narkoba, penipuan, penggelapan, dan tindak kriminal lain.

"Saya percaya bahwa Tuhan akan mengubah hidup saudara-saudari baik selama berada di Rutan Medaeng maupun sesudah keluar dari sini," ujar Corry Tulalessy, penginjil dari Goshen Prison Ministry.

"Amin! Haleluya!" sahut warga binaan dengan suara keras.

Di antara puluhan warga binaan itu terdapat empat warga negara asing. Tiga dari Tiongkok, satu dari India. Mereka dijebloskan ke penjara karena terlibat penyelundupan narkoba. Selama kebaktian berlangsung, Yang Liu (26) dan Yu Benxia (37) tampak serius membaca Alkitab dalam bahasa Mandarin. Sedangkan Xiao Ying, yang lebih fasih bahasa Indonesia, duduk bersama teman Indonesianya.

Meski belum begitu paham bahasa Indonesia, kedua wanita asal negeri tirai bambu itu ikut bertepuk tangan merespons kata-kata Corry Tualessy.

"Saya percaya teman-teman kita dari Tiongkok dan India ini pun disayang Tuhan. Amin, saudara-saudara!" ucap Corry disambut "Amiiiin".

Yang Liu, yang divonis 10 tahun, mengaku baru mengenal Tuhan setelah menjadi penghuni Rutan Medaeng. Di negaranya sana dia hanya sibuk cari duit dan tak pernah berpikir tentang agama atau hal-hal rohani. "Awalnya saya kesepian, tidak bisa komunikasi," kata Yang Liu seperti diterjemahkan Lanny Chandra, ketua Misi Pelayanan Pelita Kasih.

Dalam kesepian itu, dia bersama teman-temannya yang dari Tiongkok diajak mengikuti kebaktian di Gereja Efesus bersama warga binaan kristiani lainnya. Mereka juga diberi Alkitab berbahasa Mandarin. Kini mereka merasa punya teman dan lebih tabah meskipun tetap rindu keluarga dan kampung halaman di Tiongkok.

"Saya sekarang rajin berdoa supaya bisa cepat bebas dan pulang ke Cungkuo," kata Yu Benxia kepada saya.

Lanny Chandra mengatakan, tidak semua warga binaan di Rutan Medaeng ini  yang rajin beribadah. Buktinya, dari sekitar 200 warga binaan yang Nasrani hanya sekitar 60-80 orang yang aktif mengikuti kebaktian di Gereja Efesus. Jauh lebih banyak napi yang suka mencari-cari alasan untuk tidak beribadah.

"Makanya, kami terus memberi motivasi kepada mereka. Bahwa hidup tanpa Tuhan membuat manusia kehilangan arah. Hidup dengan Tuhan membuat orang punya sukacita dan kegembiraan," katanya. (rek)

Kasus SARA di Jogja, Ingat Rosario Keliling

Julius, korban penyerangan di Sleman, Jogja, dikunjungi GKR Hemas, istri Sri Sultan.



“Dhuh Rama, tiyang-tiyang punika mugi Paduka apunten, amargi sami boten mangretos punapa ingkang dipun tindakaken.” 


Kaget juga membaca berita tentang aksi segerombolan pria berjubah di Jogja. Mereka menyerang belasan umat Katolik di Sleman yang sedang berdoa rosario di rumah. Saat itu doa rosario memasuki hari ke-29.

Aneh memang negara Pancasila ini. Orang berdoa di rumah diperangi. Ada anak kecil disetrum, begitu tulis tempo.co. Anehnya lagi, kasus SARA ini terjadi di Jogjakarta. Kota budaya yang selama ini jadi panutan dan jujukan kehidupan umat beragama yang rukun dan damai.

Tapi ya sudahlah. Kita serahkan saja kepada polisi. Semoga bisa diselesaikan dan tidak berulang. Kalau dibiarkan sama aparat, betapa mengerikan kehidupan ini. Kita kehilangan budaya adiluhung ala Jawa yang tepa selira, tenggang rasa, asah asih asuh.

Membaca berita tentang doa rosario itu saya jadi ingat kebiasaan di kampung halaman, NTT, khususnya Flores Timur. Seperti di Jogja, setiap bulan Mei dan Oktober diadakan doa rosario sebulan penuh. Dibuka pada 1 Mei dan ditutup 31 Mei dengan misa raya di gereja. Hari-hari lainnya doa keliling dari rumah ke rumah.

Kontas gabungan! Begitulah sebutan doa rosario keliling sebulan penuh ala Flores. Kebetulan penduduk Flores dan sekitarnya mayoritas Katolik. Tiap malam jemaat mengantar panji Bunda Maria ke rumah keluarga yang akan jadi tuan rumah doa rosario besok malamnya. Begitu seterusnya.

Pengalaman masa kecil yang berkesan ketika orang tua masih lengkap dan belum banyak dosa. Lagu-lagu Maria versi Flores yang dimuat buku Jubilate dan Syukur Kepada Bapa sangat melodius. Indah dan menyentuh. Air mata menetes saat mendengar mama-mama di kampung yang pakai sarung tenun ikat, buatan sendiri, menyanyikan INA MARIA atau KEPADAMU BUNDA PERAWAN.

Hijrah ke Jawa membuat saya kehilangan katolisitas ala Flores. Orang Katolik TOU RUA HENA, kata orang saya di kampung. Arti harfiahnya: cuma satu dua orang saja, bisa dihitung dengan jari. Alias kurang dari 1 persen. Sama Protestan dan Pentakosta saja kalah banyak.

Tapi, yang menarik, ketika tinggal di Malang acara doa rosario bulan Mei dan Oktober digelar setiap malam. Dari rumah ke rumah per lingkungan. Asyik juga karena selalu ada makan bersama setelah sembahyangan. Malang ini memang kota yang religius dan umat Katoliknya sangat rajin.

Kuliah di Kota Jember, yang Katoliknya nol koma nol sekian persen, doa rosarionya juga hidup. Sembahyang tiap malam dari rumah ke rumah. Ini saya alami di daerah Patrang. Yang menarik, orang Tionghoa pun berkenan menutup tokonya demi rosario. Luar biasa!

Bagaimana dengan Surabaya dan Sidoarjo? Umat Katoliknya pasti lebih banyak daripada Jember dan Malang. Paroki atau gereja Katoliknya ada sekitar 25. Bandingkan dengan Jember yang cuma SATU paroki (belakangan baru tambah satu paroki di Tanggul). Tapi ibadat-ibadat devosionalnya cenderung tidak jalan karena umatnya sibuk cari duit.

Berangkat kerja pagi buta, pulang menjelang magrib. Capek! Nyaris tak ada waktu untuk urusan liturgi atau gereja. Tradisi doa rosario keliling seperti di Malang, Jember, Jogja, apalagi NTT, tidak dikenal di Surabaya. Bulan Mei atau Oktober sama saja dengan 10 bulan yang lain.

Saya pernah survei kecil-kecilan di permukiman menengah atas yang mayoritas Tionghoa di Kelurahan Pucangsewu. Mayoritas penduduknya ternyata kristiani dan Katolik paling banyak. Tapi tidak ada yang namanya doa lingkungan, doa wilayah, pendalaman iman, kajian APP, novena, rosario keliling. Acara Natal bersama pun tidak ada.

Anehnya lagi, karena paroki di Surabaya lebih dari 20, umat Katolik di lingkungan ini suka-suka memilih gereja untuk misa mingguan. Paling banyak misa di Katedral. Padahal, wilayah Pucangsewu itu masuk Paroki Ngagel alias St Maria Tak Bercela.

Yah, rapopo... ketimbang tidak ke gereja!

Begitulah. Selama bulan Mei 2014 kemarin saya hanya bisa berdoa rosario sendiri. Itu pun tidak lengkap 5 peristiwa tapi satu peristiwa saja. Satu peristiwa pun tidak setiap hari. Bahkan, saya sempat lupa bahwa bulan Mei itu bulan rosario, bulan kontas gabungan, kata orang kampung di Flores dulu.

Saya baru tersentak, ingat tradisi doa rosario bulan Mei, ketika membaca berita tentang 20-an umat Katolik di Sleman, Jogjakarta, diserang sekelompok pria bergamis. Oh, ternyata saya melawatkan bulan Mei ini begitu saja.

INA MARIA, PETEN GOE ANAK MOEN
GOE PIA ATA NALAN
GOE PIA LUPANG MOE INA
INA MARIA, PETEN KAME UHE


CATATAN KAKI:  Dalam tradisi Katolik setidaknya ada dua macam ibadat: liturgis dan devosional. Liturgi itu dilakukan di gereja, sedangkan devosional itu di rumah, tempat ziarah, dsb. Doa rosario keliling selama bulan Mei ini merupakan ibadat devosional (semacam sunnah di muslim), dan selalu diadakan di rumah-rumah jemaat. 

Ini penting diketahui karena ada pihak tertentu yang mempertanyakan, mengapa kok mengadakan kebaktian (doa rosario) di rumah Julius di Sleman, Jogja, itu dan bukan di tempat ibadah (gereja). Rumah tinggal kan bukan tempat ibadah? Harusnya ada pemberitahuan ke polisi, begitu yang saya baca di koran. 

Ya, doa rosario atau kontas gabungan selama Mei dan Oktober memang harus di rumah dalam rangka anjangsana atau koinonia. Tidak diadakan di gereja. Kalau doa bersama di gereja itu liturgi resmi atau disebut perayaan ekaristi alias misa.