30 May 2014

Usia Lanjut atau Lanjut Usia?

Di Surabaya ada Griya Usila milik kongregasi suster Santo Yosef di kawasan Sambikerep. Cukup banyak orang Flores yang melayani panti jompo ini. Suatu ketika saya tanya, "USILA itu apa?"

"USILA itu ya usia lanjut. Griya Usila memang menampung orang-orang usia lanjut," kata seorang suster.

Oh, usila itu usia lanjut.

Jarang sekali, bahkan saya hampir tidak pernah mendengar istilah USILA di Surabaya. Baik di koran, televisi, atau obrolan sehari-hari. Dulu ada akronim MANULA = manusia usia lanjut. Tapi istilah MANULA ini kurang disukai karena dianggap kasar.

"Jangan pakai manula. Sebaiknya pakai istilah orang sepuh atau lansia. Bisa juga warga senior. Atau orang tua. Manula itu gak enak didengar," kata Pak Sigit, manula, eh lansia keturunan Tionghoa yang peka bahasa.

Tak hanya Pak Sigit, beberapa tokoh lain pun kurang sreg dengan MANULA. Karena itu, media massa di Surabaya (hampir) tidak pernah menggunakan istilah manula. Kecuali reporter baru yang miskin pengalaman dan tidak sensitif.

Akronim LANSIA (lanjut usia) memang sudah berterima. Ada komunitas lansia, senam lansia, persekutuan doa lansia, band lansia. Bahkan, di Gereja Katolik ada misa khusus lansia yang rutin dilakukan sebulan sekali. Para lansia ini juga selalu antusias menceritakan kejayaan masa silam. Maklum, masa depannya sudah tidak ada lagi.

Lantas, mana yang benar: LANSIA atau USILA dari segi tata bahasa?

Kuncinya di hukum DM. Nomina atau noun-nya USIA yang diterangkan oleh LANJUT. Karena itu, mestinya USIA LANJUT dan bukan LANJUT USIA.

Yang paling sesuai dengan hukum DM adalah USILA, bukan LANSIA.

Tapi mengapa USILA malah tidak populer?

Begitulah yang namanya bahasa. Sering kali hal yang salah, tapi kaprah, yang dipakai. Karena dipakai terus-menerus oleh jutaan orang, tiap hari, maka dianggap benar. Sebaliknya, USILA yang benar malah dianggap aneh karena tidak pernah digunakan di Surabaya.

Makanya, saya salut sama suster-suster St Yusuf yang memberi nama Griya Usila meski tidak umum di Surabaya. Siapa tahu suatu ketika masyarakat ikut arus yang benar dengan memakai USILA dan mengesampingkan LANSIA.

Contohnya sudah ada. Dulu ada PADU : Pendidikan Anak Dini Usia. Fase DINI USIA dinilai kurang tepat karena melanggar hukum DM. Maka, istilah dini usia diganti USIA DINI. Lembaga pendidikan prasekolah itu akhirnya populer dengan singkatan PAUD: Pendidikan Anak Usia Dini.

Kalau dini usia bisa diganti usia dini, mengapa lanjut usia tidak bisa diganti usia lanjut? Bahasa memang bukan ilmu pasti yang punya rumus eksak. Tapi bahasa harus punya kaidah dan analogi yang bisa dijadikan patokan.

3 comments:

  1. usia lanjut atau lanjut usia . Bung Hurek sangat memperhatikan tatabahasa.

    trayek pp. saya biasa sebut pulang-pergi. Anda selalu sebut pergi-pulang.
    Anda yang benar menurut logika seorang penumpang. Bagaimana bila dipandang dari sudut sopir kendaraan yang rumahnya diseberang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe kamsia Xiangsen. Pergi dulu baru pulang... Kalau pulang dulu baru pergi.. aneh bin ajaib. Tapi di Indonesia memang istilah PP itu diartikan pulang-pergi. Gak apa2, yg penting dimengerti. Pergi pulang malah dianggap aneh. selamat menyambut Sincia. Gonxi facai! Sehat sentosa, jaya makmur, usia panjang (atau panjang usia).

      Delete
  2. Menurut saya DM atau MD dalam suatu frasa itu bagus, licensia poetica. Sama seperti bahasa Inggris aslinya MD, tetapi dalam beberapa frasa bisa saja digunakan DM seperti Bahasa Prancis untuk efek puitis.

    ReplyDelete