20 May 2014

Unas dihapus, kompetisi pun hilang

Makin lama kelulusan siswa makin dipermudah. Semua siswa SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Sidoarjo pada 20 Mei 2014 ini lulus. 100 persen. Kalau tahun lalu tiga siswa tidak lulus, tahun ini semuanya lulus.

Di Surabaya, 17 siswa SMAN 12 yang tepergok menyebarkan kunci jawaban ujian nasional (unas) pun lulus semua. Sebab mereka memenuhi kriteria kelulusan. Luar biasa!

Rupanya, sistem pendidikan Indonesia tidak lagi mengenal istilah tidak lulus. Seburuk apa pun nilai unas, ketahuan joki-jokian saat ujian, ya no problem. Ojo kuatir. Tetep lulus rek!

Lantas, apakah nilai unas para siswa SMA/SMK di Sidoarjo bagus-bagus semua? Oh, ternyata tidak. Sedikitnya 30 persen siswa SMK yang tidak lulus alias dapat angka merah. Sekitar 4000 orang.

Dus, kalau mau pakai disiplin keras ala Belanda dulu, 4000 siswa SMK ini seharusnya tidak lulus. Harus mengulang lagi di kelas tiga. Dan ikut ujian tahun depan. Siswa SMA dan MA yang unasnya jeblok pasti lebih banyak lagi.

Tapi begitulah Indonesia. Selalu ada kiat dan trik jitu untuk mengatrol nilai. Dibuat rumus-rumus sedemikian rupa agar siswa bisa lulus. Meskipun nilai unas (dulu ebtanas) hanya 33 atau 26. Sebab ada nilai sekolah ditambah ini itu dan ketemu nilai akhir.

Bagaimana kalau unas ini dirasa terlalu sulit dan bikin siswa SMA stes? Gampang. Hapuskan saja unas. Tak perlu ada lagi unas, ebtanas, dan semacamnya. Hanya jadi momok bagi siswa dan guru.

Itulah yang terjadi tahun ini di SD. Tidak ada lagi yang namanya ujian nasional untuk SD. Bahkan, minggu lalu, sebelum ujian sekolah (bahannya disusun provinsi, kabupaten, plus sedikit titipan soal dari pusat), sudah diumumkan bahwa semua siswa SD kelas 6 di seluruh Indonesia dinyatakan lulus.

Luar biasa! Semua siswa lulus sebelum ikut ujian.

Maka, iklim kompetisi atau lomba untuk jadi yang terbaik tidak ada lagi. Ketegangan mempersiapkan diri mengikuti ebatanas, agar NEM bagus ala anak sekolah zaman dulu, tidak ada lagi.

Konvoi di jalan, coret-coret baju seragam putih abu-abu, pun jadi gak asyik. Wong dipastikan semua lulus. Yang tidak lulus itu biasanya tidak datang saat unas karena sakit, hamil, dan sebagainya.

Saya tidak tahu apakah sistem pendidikan tanpa kompetisi, semua pasti lulus, ini baik atau tidak bagi bangsa ini. Saya cuma malas aja datang ke sekolah-sekolah untuk melihat dan memotret suasana unas atau ujian sekolah regional ala SD itu.

Setelah unas dihapus di SD, lama-lama ujian sekolah juga dihapus. Lama-lama tidak perlu ulangan atau evaluasi. Lama-lama tidak perlu rajin sekolah, rajin belajar, toh semua siswa dikasih ijazah.

No comments:

Post a Comment