30 May 2014

Trotoar, Taman, PKL di Sidoarjo

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Sidoarjo sedang gencar-gencarnya bikin taman. Taman kecil-kecil di pinggir jalan. Mulai di Bungurasih, Medaeng, Pepelegi yang dekat Juanda, dekat markas marinir Gedangan. Juga di dalam kota.

Taman-taman ini jelas membuat Sidoarjo kelihatan lebih cantik. Tanah-tanah kosong di bagian selatan seperti Tanggulangin dan Porong juga dibuat taman. Orang Sidoarjo yang merantau pasti akan pangling melihat Pasar Porong pinggir jalan raya itu sudah jadi taman yang besar dan indah. Begitu pula kantor kawedanan Porong baru dikemas jadi taman.

Gebrakan 'tamanisasi' ini sangat terasa saat DKP dipimpin Pak Bahrul Amig. Semangat Pak Amig yang mantan camat Taman untuk bikin taman memang luar biasa.

Yang sedikit mengganjal di hati saya cuma satu. Trotoar pun dijadikan taman. Lihat saja di Aloha, Pepelegi, pinggir Raya Waru yang dekat pasar tumpah itu. Pot-pot besar ditaruh di tengah trotoar. Tak ada lagi celah bagi orang yang ingin jalan kaki. Kalau mau jalan kaki ya harus lewat aspal. Dan itu berarti harus siap-siap menghadapi sepeda motor yang banyak itu.

Bukan hanya Sidoarjo, banyak kota di Indonesia yang sengaja mengabaikan trotoar. Kebiasaan jalan kaki juga makin sedikit. Trotoar kita beda jauh dengan di negara-negara maju yang memang digunakan secara luas. Di Indonesia, khususnya Sidoarjo, trotoar malah dipakai tempat berjualan PKL, pedagang kaki lima.

Berkali-kali diobrak, yang namanya PKL ini ibarat alang-alang di trotoar yang tak pernah mati. Hilang sebentar, kemudian muncul lagi dengan lebih subur. Nah, daripada diokupasi PKL, yang sebagian besar justru bukan warga Sidoarjo, ya lebih baik trotoar itu ditutup saja dengan taman.

Repotnya di kawasan Kedungrejo, dekat jalan layang Waru itu. Trotoar sudah ditutup dengan pot-pot besar, dengan tanaman yang juga gede, tapi PKL masih saja berjualan di situ. PKL-PKL tidak mau pindah ke pasar baru yang di dekat pabrik paku itu.

Kalau tidak diawasi tiap hari, bukan tidak mungkin tanaman-tanaman itu dirusak para PKL. Bahkan pot-potnya pun dienyahkan.

Kita di Indonesia memang masih seperti itu. Ingin menjadi negara maju, modern, tertib, tapi masyarakatnya sulit diajak tertib. Dibuatkan pasar, sentra PKL, pusat makanan, juga tidak dipakai. PKL tetap saja jualan di trotoar di pinggir jalan. Ketika petugas Satpol PP dan kepolisian melakukan obrakan, pemerintah kabupaten/kota dituduh tidak memperhatikan wong cilik.

Yah, di Indonesia, yang namanya wong cilik itu sering menggunakan kecilikannya untuk melanggar hukum. Budaya mentang-mentang itu terasa begitu kuat di kalangan wong cilik dan wong gede. Mentang-mentang tukang becak, bisa bebas menerobos lampu merah. Mentang-mentang naik motor, seenaknya menggunakan jalur mobil di kanan. Mentang-mentang PKL, bebas jualan di trotoar.

No comments:

Post a Comment