29 May 2014

Tanggal merah beruntun dalam sebulan

Bulan Mei 2014 ini tergolong istimewa. Kita mendapat anugerah berupa 4 tanggal merah, hari libur nasional. Tiga hari besar keagamaan (Waisak, Isra Mikraj, Kenaikan Yesus) dan hari buruh 1 Mei.

Kalau dulu biasanya tanggal merah di bulan Mei hanya satu, yakni hari kenaikan Yesus Kristus. Ini karena perayaan ini selalu jatuh pada hari Kamis, 40 hari sesudah hari raya Paskah. Sekarang ditambah libur nasional hari buruh setiap 1 Mei. Tanggal merah yang baru dimulai tahun 2014 berkat kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kalau Waisak dan Isra Mikraj yang menggunakan penanggalan bulan biasanya berubah-ubah setiap tahun. Dus, tahun ini kebetulan sama-sama jatuh bulan Mei.

Makin banyak tanggal merah tentu makin bagus buat karyawan, PNS, dan pegawai-pegawai yang makan gaji bulanan. Mau libur tiga hari, empat hari, atau lima hari, bayarannya tetap sama. Karena itu, PNS-PNS biasanya paling senang dengan tanggal merah. Bila perlu hari kejepit Selasa dan Kamis ini diakali agar bisa libur tiga hari.

Masuk kerja Jumat sudah santai. Senam pagi, pakai kaos, kerja sejenak, kemudian salat Jumat. Besok Sabtu libur lagi. Minggu libur. Enak banget memang!

Yang repot dengan rentetan tanggal merah tentu orang yang tidak makan gaji tetap bulanan. Contohnya Bu Jum yang usaha warung nasi. Setiap tanggal merah dia juga libur karena langganannya mayoritas orang kantoran di Pucangsewu, Surabaya. Bisa saja dia buka warung tapi pasti rugi.

Tanggal merah pun tidak berlaku untuk wartawan harian di Surabaya. Kalau koran-koran Jakarta tidak terbit saat tanggal abang, koran-koran di Surabaya tetap terbit.

"Semua tanggal itu hitam atau biru. Tanggal merah itu hanya untuk PNS," kata seorang wartawan senior di Surabaya. Kerja kerja kerja!

Selain agar warga tetap bisa membaca koran, pelengkap sarapan, kebijakan terbit nonstop yang dipelopori Jawa Pos pimpinan Dahlan Iskan tempo doeloe ini sebenarnya bagus untuk loper, agen, dan penjual koran di jalanan. Mereka ini pekerja harian, bukan pegawai yang dapat gaji bulanan. Kalau tidak jualan koran, dia tidak dapat uang. Makin banyak koran yang dijual, makin banyaklah uang yang diperolehnya.

Kenyaman PNS dengan tanggal merah (tidak kerja pun tetap dibayar) inilah yang membuat orang Indonesia sangat gandrung jadi PNS. Kecuali orang Tionghoa yang sejak zaman leluhurnya sudah ditempa untuk kerja keras, ulet, hemat dan tak mengenal tanggal merah.

Salam tanggal merah!

1 comment:

  1. izna uda merasakan tanggal merah meski bukan pns ;)

    ReplyDelete