09 May 2014

Tanda Heran di Flores, Mukjizat di Jawa

Membaca majalah Tempo edisi 11 Mei 2014, saya menemukan kembali ungkapan lama: TANDA HERAN. Istilah ini sangat populer di sekolah dasar di NTT, khususnya Pulau Flores dan sekitarnya. Setiap pelajaran agama Katolik (hampir semua murid memang Katolik), bapak atau ibu guru selalu cerita tentang tanda heran.

Apakah tanda heran saat pesta perkawinan di Kana? Jawabnya sudah tentu Yesus mengubah air menjadi anggur. Cerita tentang tanda-tanda heran ini sangat menarik bagi anak-anak desa macam saya yang masih buta bahasa Indonesia.

Tanda heran lain yang juga selalu diceritakan adalah tentang Musa. Sang pembebas ini memainkan tongkatnya yang berubah jadi ular, kemudian jadi tongkat lagi. Ada tanda heran manna alias roti yang tak habis-habisnya. Hingga tanda heran bani Israel menyeberang melalui Laut Merah.

"Bayangkan kalau laut di depan sekolah ini terbelah jadi dua. Di tengahnya ada lorong sehingga banyak orang bisa jalan seperti di daratan," kata Pak Paulus yang sudah almarhum.

Tuhan selalu menunjukkan tanda herannya kepada manusia. Begitu kata guru kelas 3 SD saya di pelosok Lembata itu.

Hingga tamat SD, saya dan teman-teman belum tahu kata MUKJIZAT. Baru di SMP pak guru pelan-pelan memasukkan kata MUKJIZAT sebagai sinonim tanda heran. Mukjizat = tanda heran! Bahasa Inggrisnya MIRACLE.

Setelah mengenal kata MUKJIZAT, kata majemuk TANDA HERAN makin menepi. Bahkan tidak ada lagi. Sebab, Alkitab versi Protestan yang akhirnya dipakai umat Katolik di Indonesia hanya memakai kata MUKJIZAT. Beda dengan buku-buku pelajaran agama Katolik terbitan Nusa Indah, Ende, Flores, yang menggunakan TANDA HERAN.

Romo-romo, suster, frater, guru agama Katolik, dan umat Katolik di Jawa pun tak pernah menggunakan tanda heran. Kata mukjizat jadi sangat umum. Hanya beberapa romo asal Flores yang kadang keceplosan Floresnya dengan menyebut tanda heran.

Di lingkungan kristiani ada lagu gospel yang sangat terkenal. Judulnya MUKJIZAT itu nyata. Setiap hari lagu ini diputar Pak Paul, guru SMA Petra 3 Surabaya, yang berasal dari Flores Timur. "Allah kita sungguh baik. Mukjizat itu nyata!" kata pak guru yang gaya bahasa dan diksinya sudah sangat Protestan meski tetap beragama Katolik.

Malam ini saya membaca berita pendek empat alinea di Tempo. Tentang mukjizat yang memperkuat kanonisasi Paus Yohanes Paulus II dan Paus Yohanes XXIII. Judulnya DUA TANDA HERAN.

"Hehehe... Flores banget judul itu!" kata saya dalam hati. Jadi ingat pelajaran agama Katolik di SD di pelosok Flores Timur dulu.

Saya cek wartawan dan redaktur yang menulis berita tiga halaman di Tempo itu. Philipus Parera dan Hermin Y Kleden. Keduanya memang berasal dari Flores.

Yah, pantas saja ungkapan lama TANDA HERAN itu muncul lagi di majalah berita paling top di Indonesia itu.

3 comments:

  1. Hahahahaha... pantas ow.. yg tulis fam Kleden, hahahaaa

    ReplyDelete
  2. tulisan hermien dan philipus di tempo memang bagus2. kayaknya kedua wartawan asal flores itu punya diksi yg kuat.

    ReplyDelete
  3. Tanda Heran dan Tanda Takjub

    http://terang-jiwa.blogspot.com/

    ReplyDelete