01 May 2014

Rasisme masih ada di mana-mana

Sebagai penonton setia Barcelona, saya sering melihat Dani Alves jadi korban rasisme penonton lawan. Terakhir Alves dilempari pisang saat akan mengambil sepak pojok. Bukannya marah, Alves mengambil pisang itu, menguliti, dan memakannya.

Humor yang getir! Sepak pojok itu jadi gol. Villarreal kalah dari Barcelona. Alves bilang pisang itu memberinya energi tambahan sehingga bisa main dengan lebih bagus dan akhirnya menang.

Rasisme dilawan dengan humor. Salut sama Alves!

Kasus Dani Alves yang kemudian ramai di internet ini sekali lagi menunjukkan bahwa rasisme itu ternyata masih ada di Spanyol. Negara Eropa yang mestinya punya peradaban tinggi. Punya pendidikan dan wawasan lebih bagus ketimbang negara ketiga macam Indonesia.

Kasus Alves menunjukkan bahwa manusia kulit hitam atau berwarna masih dianggap lebih rendah. Disamakan dengan monyet yang doyan pisang. Manusia kulit putih dianggap lebih tinggi, begitu ajaran penjajah Belanda di tanah air tempo doeloe.

Kalau Spanyol saja begitu, kita sulit mengharap sikap yang jauh dari rasisme di Indonesia. Sudah biasa suporter bola di Jawa berteriak monyet atau bikin gerakan kayak monyet untuk menyerang pemain-pemain hitam lawan.

Begitu biasanya sehingga pemain-pemain hitam jadi kebal. Bahkan mengganggapnya angin lalu. Sama dengan Alves yang tak lagi menganggap lemparan pisang sebagai hinaan, melainkan makanan penambah tenaga.

Manusia kulit hitam memang paling banyak jadi korban pelecehan rasial. Tapi, jangan lupa, manusia kuning bermata sipit alias Tionghoa pun sering disempot kata-kata rasial yang tidak mengenakkan. Sebaliknya, si Tionghoa pun membalas dengan aksi rasis pula.

Ah, seandainya manusia-manusia di dunia ini saling menghormati sesamanya. Sadar bahwa kita cuma seonggok daging fana yang cuma hidup sebentar di dunia ini.

1 comment:

  1. Kamsia Bung Hurek, artikelnya sangat bagus ! Issue SARA saya rasa tidak akan bisa hilang diatas bumi ini. Entah mengapa, aku sendiri ora wero. Orang Eropa juga rasis, kita manusia kulit berwarna yang hidup di Eropa juga tidak dianggap sama dengan mereka. Kita hanya di-toleransi, istilah Jerman-nya " geduldet ".
    Sebab itu sebagai tamu (pendatang), kita harus bisa membawa diri. Orang2 Eropa selalu berkata; Toleransi ada batasnya ! Seberapa ketebalan toleransi itu, siapa yang tahu ? Mendadak ambruk, terjadilah kerusuhan.
    Istilah minoritas tidak identik dengan pendatang. Minoritas adalah manusia yang sejak Kain & Abel hidup didaerah itu.
    Contohnya di Tiongkok : Mayoritas adalah suku Han, selain itu masih ada 56 suku2 minoritas yang notabene adalah penduduk asli didaerahnya. Pemerintah China tidak pernah mendiskriminasi mereka, sebaliknya mereka selalu lebih dimanjakan daripada suku Han. Suku Han hanya boleh punya anak satu, sedangkan suku minoritas boleh punya anak sebanyak- sesuka-nya, hanya ada
    imbauan, jangan punya anak banyak2, demi kesejahteraan ekonomi keluarga mereka. Ujian SMA dan masuk Universitas, angka2 mereka dikatrol. Mereka diberi daerah otonomi, bupati dan camatnya juga dari suku mereka masing2, tentu ada syaratnya, yaitu harus ikut anggota partai (PKCh.). Tentang kerusuhan2 di Tibet dan Sinkiang, itu karena gerakan separatis yang dibiayai dan dikompori oleh USA dan anteknya Eropa Barat. Sama halnya dengan PRRI,
    Permesta, RMS, DI/TII, dll. yang dikompori oleh CIA dan Belanda. Waktu saya masih sekolah di Bali, di Pulau Dewata pun ada pemberontak yang disebut Gerombolan zaman itu. Yang membasmi para gerombolan adalah satuan Polisi Negara ( Perintis ) dan Mobrig.
    Seharusnya Ahok dan Habib Rizieg sadar, siapakah mereka itu ? Jangan neko2,
    galak2, jaga sopan santun, EQ ( Emotionale Intelligenzquozient ) lebih penting daripada IQ.
    Saya masih ingat betul, ketika PP. No. 10 Tahun 1959 dikeluarkan, bukan hanya
    Hoakiao yang bingung, tetapi juga orang Arab dan India. Mendadak mereka bisa rukun, berkumpul, meratapi nasib mereka yang sama. Zaman itu memang belum ada issue agama, yang ada adalah masuk jadi WNI atau pulang kenegeri nenek moyang masing2. Nah jika anda zaman itu hidup dipulau Sabu atau Rote, bagaimana caranya mengurus surat SBKRI ? Kenalan-saya di Tiongkok asal pulau Rote bercerita; Kakek saya Cina, Nenek asli Sabu, Papa setengah Cina, Mama asli Rote, nah si- Teng A-Liong gara2 PP. No.10 terpaksa pulang ke Tiongkok. A-Liong kulitnya hitam legam, rambutnya keriting, matanya bunder, kalau dia pulang ke Indonesia pegawai imigrasi terperanjat melihat dia pakai pasport China. Si A-Liong sifatnya seperti lazimnya orang NTT, kepada teman baiknya bukan main, loyal, terhadap orang yang tidak disukai galaknya minta ampun. A-liong boleh galak, sebab sekolah rakyat saja dia belum lulus.
    A-Hok galak2 dasarnya apa ? Emotion harus dikontrol, bawahan di-maki2, diancam, dipermalukan didepan umum, apakah mereka tidak punya perasaan.
    Kalau A-Hok diperlakukan demikian buruk oleh orang lain, apakah dia bisa terima ??? Hok, EQ lebih penting daripada IQ jika ingin jadi pemimpin !

    ReplyDelete