03 May 2014

PSK di Kupang dan Dolly

Koran terbitan Jakarta hari ini ikut membahas lokalisasi Gang Dolly dan Jarak di Surabaya. Bu Risma, wali kota Surabaya, ngotot menutup Doly pada 19 Juni 2014. Nantinya eks lokalisasi dibangun sentra ekonomi baru. Plus taman yang indah.

Bu Risma mengaku kesulitan menutup Dolly + Jarak karena PSK-nya ribuan wanita. Beda dengan lokalisasi lain kayak Kremil atau Bangunsari yang cuma 100 sampai 300 orang.

Setiap kali mendengar PSK, saya selalu ingat sepak bola alias balbalan. Memangnya ada hubungan antara bola dan PSK? Ada. Bahkan sangat erat.

Di Nusa Tenggara Timur, provinsi tempat lahir saya, PSK itu artinya Persatuan Sepakbola Kupang. PSK klub perserikatan paling kuat di NTT dibandingkan 11 klub 21 klub perserikatan lain. Waktu saya kecil PSK hampir selalu jadi juara Piala Eltari, kejuaraan bola kaki antarkabupaten se-NTT.

Begitu hebatnya PSK, kabupaten-kabupaten lain hanya bisa jadi juara kedua atau ketiga. Belakangan supremasi PSK digerogoti Perseftim Flores Timur, PSN Ngada, atau Persami Maumere. Tapi PSK tetap bagus karena punya pemain-pemain berbakat yang rajin berlatih. Beda dengan kabupaten-kabupaten lain yang hanya latihan menjelang turnamen saja.

Lalu mengapa PSK saat ini lebih dikenal sebagai pekerja seks komersial? (Memangnya ada PSK yang tidak komersial?). Dulu yang namanya lonte, pelacur, prostitut, kupu-kupu malam (atau apa pun namanya) dikenal sebagai WTS: wanita tuna susila.

Tapi singkatan ini diprotes aktivis perempuan karena dianggap tidak adil. Kok hanya wanitanya yang tunasusila? Memangnya laki-laki hidung belakang tidak tunasusila? Sejak itu WTS hanya dipakai untuk menyebut wartawan tanpa suratkabar alias freelanche.

WTS tenggelam di lokalisasi pelacuran. PSK naik daun. Bahkan sudah jadi istilah baku untuk menyebut pelacur atau lonte atau balon (kata orang Malang). PSK lebih halus. Eufemisme memang tidak pernah lepas dari bahasa kita.

Saya sudah terlalu lama tinggal di Jawa Timur. Karena itu, saya tidak tahu apakah klub sepak bola terkenal di Kupang masih bernama PSK. Saya sudah kadung dekat dengan klub-klub top Jatim macam Persebaya, Arema, Deltras, atau Gresik United yang berlaga di Liga Indonesia kelas elite.

PSK cuma masa lalu belaka. Tapi singkatan PSK yang saya kenal saat bocah di NTT tak pernah hilang dari ingatan saya meskipun yang dibahas di koran itu PSK yang mangkal di Gang Dolly Surabaya.

Hidup PSK Kupang!

3 comments:

  1. "Hidup PSK Kupang! " hahaha.. kita tertawa le baca tulisan terakhir ini...

    ReplyDelete
  2. Hidup PSK ( Persatuan Sepakbola Kupang).

    ReplyDelete
  3. PSK di Jerman dan Austria adalah ungkapan yang mulia, sebab singkatan dari
    Postsparrkasse, adalah salah satu Bank Negara yang sangat tua.
    Kalau kita di Indonesia sudah memiliki istilah yang tepat, yaitu Lonte, mengapa harus diubah dengan bahasa gado-gado ( Indonesia+Latin+Inggris ) ?
    Kalau mau halus, tetaplah memakai istilah Kupu Kupu Malam, sebab Kupu2 ada yang betina dan jantan.

    ReplyDelete