02 May 2014

Penghitungan suara ala Pemilu 1955



Pemilihan umum legislatif 9 April 2014 sudah lewat 23 hari. Tapi sampai sekarang hasil pileg itu belum diumumkan oleh KPU. Kita belum tahu perolehan suara 12 partai.

Yang ada cuma hitung cepat atau quick count. Dan sebetulnya quick count tidak bisa jadi pegangan karena hanya bersifat perkiraan. Seakurat-akuratnya quick count, hasil hitungan resmi KPU yang dipakai.

Bagaimana kalau quick count ternyata beda dengan real count? Bisa kacau negara ini kalau hasil pileg itu jadi dasar untuk menentukan calon presiden.

Beda kalau pemilihan presiden dilakukan bersamaan dengan pileg, hasil penghitungan suara pileg tidak begitu ditunggu. Sebab masih ada waktu enam bulan untuk melantik presiden baru.

Saya sering gumun mengapa kok penghitungan suara pemilu di Indonesia begitu lama. Tiga minggu belum selesai. Di tingkat kabupaten pun kita belum tahu hasilnya setelah dua minggu. Ajaib di era digital, ponsel, internet, media sosial, yang seharusnya sangat mudah menyebarkan informasi. Termasuk dari Bawean dan pulau-pulau terpencil di Jawa Timur.

Aneh bin ajaib karena kecepatan kerja KPU di pusat dan daerah, termasuk PPK, tak ada bedanya dengan pemilu 1955. Jangan-jangan tahun 1955 dulu lebih cepat selesai ketimbang tahun 2014. Mengapa kita di Indonesia butuh waktu satu bulan, bahkan lebih, untuk mengumumkan hasil coblosan?

Saya belum mencari tahu kecepatan perhitungan suara di negara-negara lain. Tapi setahu saya di negara tetangga Malaysia tidak sampai satu minggu. Bahkan tak sampai sebulan perdana menteri baru sudah dilantik.

Di negara-negara maju, apalagi negara kecil dengan penduduk sedikit, lebih cepat lagi. Pemilu nasional kadang terkesan seperti pemilihan kepala desa saja saking cepatnya diketahui hasilnya.
Apakah kita di Indonesia perlu waktu satu bulan atau tiga bulan hanya untuk menghitung dan merekapitulasi suara?

Di zaman serba komputer ini terlalu aneh rasanya kalau sistemnya masih sama dengan pemilu 1955. Di Kota Surabaya yang modern, mudah dijangkau dari ujung ke ujung, pun kita belum tahu hasil coblosan setelah satu minggu.

Di zaman komputer ini seharusnya hasil pemilu legislatif sudah harus diumumkan satu minggu setelah pencoblosan. Paling lama 10 hari. Kalau sampai satu bulan atau dua bulan ya balik aja ke era 1955.

Tentu saja sulit menandingi pemilu-pemilu di era Orde Baru yang kecepatan penghitungan suaranya jauh mengungguli quick count paling canggih sekalipun. Sebab, di zaman Pak Harto itu semua orang sudah tahu bahwa Golkar pasti menang di atas 70 persen jauh sebelum pencoblosan.

Dan semua orang juga sudah tahu kalau presidennya pasti Pak Harto, Pak Harto, Pak Harto, Pak Harto, Pak Harto....

No comments:

Post a Comment